
"Baik... jika itu sudah keputusanmu, aku tak bisa lagi meminta, tapi harus kamu ingat satu hal, sampai kapanpun aku akan tetap mencintaimu. Semoga kamu bahagia dengan pilihanmu." kata-kata terakhir yang Reval sampaikan Sebelum Pestol di tangannya kembali mengarah pada Karin dan Ken.
"Hentikan Reval, ini semua antara kita jangan pernah kau libatkan Karin, Jika membunuh dapat melampiaskan dendam mu lakukan tapi jangan sampai kau membunuh Karin, jika itu kau lakukan sampai ke ujung dunia pun hidupmu tak akan tenang." teriak Ken.
"Tidak, jangan bunuh mas Ken, tolong buka hati nuranimu, sebenarnya mas Reval orang baik tak mungkin tega melakukan itu pada kami." saut Karin namun pikiran Reval sudah buntu dan telinganya sudah tertutup. Ia pun menarik pelatuk dan bersiap menembak Karin yang masih terus menghadang Ken untuk melindunginya hanya bisa pasrah dan menutup mata.
"Jika hari ini hari terakhirku bersama mas Ken, aku sangat bahagia bisa melindunginya setalah ia melindungi diriku dan mengorbankan nyawanya untuk ku, kini tiba saatnya aku membalas pengorbanan mu mas. Aku sangat mencintaimu dan sampai kapanpun cinta ini akan selalu ada di hatiku." gumam Karin.
Doarrrr
Suara tembakan yang nyaring dan beriringan, semua orang yang ada terkejut dengan suara itu. Reval jatuh tersungkur saat kepalanya mendapat tembakan dari ke jauhan dan darah langsung mengalir. Begitu juga dengan Karin yang terkena tembakan dari pestol Reval ambruk di tubuh Ken. Darah langsung mengalir, Ken langsung memeluk Karin.
"Karin... bertahanlah, mas akan membawamu ke rumah sakit segera. Bertahanlah sayang." Ken pun menangis dan langsung mengangkat tubuh Karin yang bersimbah darah untuk segera di larikan ke rumah sakit yang cukup jauh dari tempat kejadian.
"Mas..." panggil Karin dan Ken Masih sibuk mencoba menghentikan pendarahan akibat peluru yang menembus dada Karin.
"Mas..." waktu Karin sudah gak banyak, Karin titip Anak-anak jaga dan didik mereka, jangan pisahkan Arthur dan Joy. Karin yakin mereka akan jadi saudara yang bisa saling melindungi. Waktu Karin hampir habis, Mas tak akan menderita lagi karena Karin." Karin memegang pipi suaminya dengan tangan yang berlumuran darah.
"Tidak Karin, kamu akan baik-baik saja, kamu akan selamat. Tak akan ku biarkan sesuatu terjadi padamu. Seharusnya aku yang ada di posisimu sekarang, kenapa kamu lakukan ini padaku tak membiarkan aku yang melindungimu." Di sela tangis Ken yang takut kehilangan karin ia terus berusaha menghentikan pendarahan itu. Karin hanya tersenyum.
"Aku sudah lelah mas, aku akan menunggu mas di dunia yang lain, dimana hanya ada kedamaian dan ketenangan jiwa." Wajah dan bibir Karin mulai pucat seperti sedang kedinginan.
__ADS_1
"Tidak Karin, kita masih akan terus bersama-sama."
"Mas peluk Karin, tubuh Karin sangat dingin, Karin kedinginan mas. Karin ingin tidur di pelukan mas untuk yang terakhir kalinya." ucap Karin yang mulai tersendat-sendat. Ken pun langsung memeluk tubuh istrinya sampai tiba di rumah sakit.
Ken langsung mengangkat tubuh Karin dan langsung di sambut para perawat, tubuh Karin sudah lemas dan matanya pun terpejam.
Karin langsung di larikan ke ruang gawat darurat, sedangkan Ken terus mondar-mandir kuatir dengan keadaan Karin.
Beberapa jam setelah menunggu, Dokter yang yang telah berusaha menyelamatkan Karin hanya dapat tertunduk lesu.
"Dok bagaimana dengan keadaan istri saya? dia baik-baik saja kan dok, istri saya selamat kan dok?" tanya Ken.
"Tidak, ini tidak mungkin. Tidak mungkin istriku meninggal." Teriak Ken dan tubuhnya langsung terkulai lemas tak berdaya menerima kenyataan pahit, bahwa istri yang ia cintai telah pergi mendahuluinya. Tak lama perawat membawa keluar jenazah Karin yang sudah di tutupi. Saat berhenti di depan Ken, Ken langsung membuka penutup itu dan melihat wajah Karin yang sudah pucat.
"Kenapa kamu tinggalkan mas sendirian, kenapa kamu tega lakukan itu apa kamu tak sayang pada anak-anak, dia akan kehilangan dirimu sosok bunda yang sangat mereka cintai." Ken pun memeluk jenazah Karin yang sudah terbujur dan mengikuti perawatan membawa tubuh Karin ke kamar jenazah.
Ken hanya dapat menangis di depan tubuh istrinya yang sudah tak berdaya. Tangisnya tak dapat terbendung. Ken sangat kehilangan Karin wanita yang sangat ia cintai.
Tak lama kabar meninggalnya Karin pun tersebar, suasana duka menyelimuti kediaman Ken. semua keluarga dan kerabat dan. Keluarga Karin pun tak hentinya menangis di depan jenazah Karin. Arthur dan Joy sudah kehabisan air mata matanya sudah sembab menangis sepanjang hari.
"Bun, bunda baik-baik di sana ya, Arthur janji akan menjadi anak yang berguna, gak akan mengecewakan bunda. Bunda sekarang istirahat yang tenang dan gak usah mikirin Arthur. Arthur janji gak akan nakal lagi, gak akan nyusahin pengasuh lagi." Arthur pun memeluk tubuh Karin untuk yang terakhir kalinya dan melepas kepergiannya.
__ADS_1
"Ma, mama Karin akan selalu ada di hati Joy, mama istirahat yang tenang ya, Joy janji akan jaga papa dengan baik, Mama gak usah sedih. Joy pun memeluk tubuh Karin untuk yang terakhir kalinya.
Suara tangis pecah saat jenazah Karin siap di kebumikan. Ken sudah tak berdaya melihat i jenazah istrinya untuk terakhir kalinya.
Setelah ritual pemakaman selesai, semua orang pun meninggalkan pemakaman dan tersisa hanya Ken yang masih menangis sambil memeluk nisan sang istri.
"Mas janji, sayang akan selalu ada di hati mas dan tak akan ada yang bisa menggantikan posisi sayang, akan mas tutup rapat-rapat hati ini hanya untuk kamu seorang. Sekarang istirahat yang tenang, tunggu mas, sampai mas menyelesaikan amatmu untuk anak-anak dan akan segera menyusul dirimu."
Akhirnya dengan lapang dada dan ikhlas Ken melangkahkan kaki meninggalkan Karin seorang diri, terbujur kaku di liang lahat dan membawa sampai mati cinta yang ia berikan pada Ken.
_____
Waktu begitu cepat berlalu, Ken belum juga bisa melupakan Karin, hari-hari selalu murung bahkan mengurung diri di kamar, mengingat semua kenangan bersama istri tercintanya yang kini sudah pergi. Banyak kenangan manis yang tertinggal di setiap sudut ruangan, tawanya, panggilan manjanya yang selalu membangunkan dirinya di setiap padinya. Kini tinggal sunyi dan sepi yang menemani Hari-hari Ken yang belum bisa bangkit dari kehilangan sosok istrinya.
Masih butuh waktu untuk berlahan banget, masih ada amat yang di emban Ken dari sang istri yaitu membesarkan ke dua putranya.
***jangan berhenti sampai di sini bacanya ya, masih ada season 2nya, bertemunya kembali Karin dan kenzo bersama dengan putrinya Rara dan juga ada sekuelnya yang berjudul
Rara... cinta dalam dilema***
__ADS_1