Bukan Salahku Menjadi Pelakor

Bukan Salahku Menjadi Pelakor
S1-28


__ADS_3


Ken menghubungi Anton yang masih mengawasi rumah kecantikan itu, dan meminta anak buahnya untuk mengacau dan menggagalkan apapun aktivitas di dalam sana sempai dirinya datang.


Sedangkan di mobil, Ken dan Sandi merasa gelisah kerena macet yang panjang. Untungnya sedikit lagi mereka akan lolos dari kemacetan. Suara klakson mobil dan motor beriringan terdengar mereka semua nampak tak sabar.


Anton dan ke tiga anak buahnya, muncul di depan rumah praktek kecantikan itu. Sesampainya di sana langkahnya terhenti saat di hadang dua pria bertubuh kekar.


"Siapa kalian?" tanya salah satu pria yang menghadang dengan suara besarnya.


"Saya anak buah dokter Yunita, untuk mengantarkan kotak ini padanya." Jelas Anton yang sebenarnya tak tahu nama dokter yang didalam.


"Baiklah, tapi kamu sendiri, tempat ini sudah di sewa bos saya, jadi kami berhak menentukan siapa yang boleh masuk kedalam." jawab teman salah satu pria tadi. Ternyata pria penjaga itu tak kenal dengan dokter yang didalam hingga membuat Anton bernafas lega karena tak di curigai.


Hanya Anton yang di izinkan masuk oleh kedua pria bertubuh kekar dan meninggalkan ketiga anak buahnya di luar.


Anton berjalan masuk, tempatnya begitu sunyi tak ada orang yang lalu lalang. Di dalam terdapat empat kamar yang harus di cek satu persatu oleh Anton sebelum menemukan keberadaan Karin.


Dengan hati-hati pintu pertama di bukanya ternyata kosong, Anton kemudian lanjut ke pintu kedua dan ternyata juga kosong begitu juga kamar ketiga dan ke empat ternyata juga kosong.


Namun mata Anton tertuju di kamar keempat yang memiliki dinding sangat aneh. Anton meraba-raba dinding itu dan mengetuknya memastikan ada ruangan lain dari balik dinding itu.


Benar saja, Anton sempat kaget setelah sedikit mendorong dinding yang memiliki garis seperti pintu namun rata dan itu terbuka dan ternyata itu pintu menuju ruangan lain. Dengan hati-hati Anton membukanya dan setelah dirasa bisa masuk Anton pun masuk dalam ruangan tersebut.


Ruangan yang sangat aneh, tercium bau anyir di hidung Anton hingga rasanya ingin muntah. Anton terus berjalan menyusuri ruang tersebut dan langkahnya terhenti ketika di lihatnya wajah yang tak asing sedang tergeletak di sana namun tak ada orang lain selain Karin yang terbaring dengan tangan di ikat.


Anton berjalan menghampiri Karin dan Anton sedikit lega kerena tidak terjadi apa-apa pada Karin tidak ada darah di tubuhnya yang berarti belum terjadi sesuatu.

__ADS_1


"Karin sadar, Karin..." panggil Anton dengan suara pelan dan menapak pipinya namun tak ada reaksi dari Karin. terdengar ada suara seorang wanita yang sedang ribut, di salah satu sisi ruangan yang sangat besar itu. Rasa penasaran Anton pun datang hingga dirinya menghampiri suara itu berasal.


Dengan nafas yang sedikit lega, Ken dan Sandi akhirnya lolos dari kemacetan dan segera melaju secepat mungkin dan berharap Anton bisa mengendalikan suasana disana.


"Dok, tolong jangan bunuh wanita itu?" perawat itu memohon pada dokter gadungan untuk tidak membunuh Karin.


"Kamu di sini hanya membantuku, jangan melawan pekerjaan ku, kamu mau uang banyak kan, jadi kita selesaikan ini dan kamu bisa mendapatkan uang yang banyak dan pergi dari kota ini." ucap tegas dokter itu yang sedari tadi di buat kesal oleh perawatnya hingga belum menyelesaikan tugasnya untuk mengaborsi Karin.


Tanpa sengaja sebuah gunting yang ada di dekat meja tempat Anton memilih tersenggol dan jatuh kelantai membuat suara yang mengagetkan dokter dan perawatnya.


"Siapa itu di sana?" teriak dokter sambil bertanya dan berjalan maju menghampiri di ikuti perawatnya.


Dokter itu berjalan keluar dan mendapati gunting yang tergeletak di lantai.


"Sepertinya kita harus segera menyelesaikan ini, sebelum semuanya terlambat." ucap dokter dan terpaksa perawat itu mengikuti setelah kalah argumen kerena uang sekarang lebih penting dari nyawa.


Perawat itu membawa peralatan yang di butuhkan untuk mengambil janin yang ada di dalam perut Karin.


"Hentikan semua ini."


"Siapa kamu? kenapa bisa masuk keruangan ini."


"Lepaskan wanita itu, atau kalian akan segera masuk penjara."


Mendengar kata penjara perawat itu gemetaran dan tanpa sengaja menjatuhkan peralatan yang tertata di nampan dan berhamburan di lantai.


"Jangan masukan saya ke penjara tuan, saya hanya mendampingi, saya tidak melakukannya." ucap perawat itu dengan nada gemetaran.

__ADS_1


Di luar Ken dan Sandi sudah sampai tempat dan langsung di hadang dua pria tersebut, Ken yang sudah tidak sabar langsung lancarkan tinjuan pada pria yang menghadang hingga terjadi perkelahian dua lawan lima.


"Apa buktinya kamu mau melaporkan kami ke polisi," tanya dokter yang menantangnya.


"Semua ada di sini bukti percakapan kalian dan video kalian yang akan beraksi." Anton menggertak dengan memperlihatkan ponselnya.


"Oke...apa yang kamu inginkan dari saya" dokter itu mulai mengalah.


"Lepaskan wanita itu, jangan membunuh janinnya."


"Baiklah. Aku tak akan dilakukannya." Ucap dokter namun tanpa Anton perhatian dokter itu mengambil sesuatu dari dalam kantongnya dan langsung saja menancap suntikan pada paha Karin dan dokter tersebut melemparkan barang-barang yang ada pada Anton agar bisa melarikan diri dan benar saja dokter itu lari dan meninggalkan perawat itu yang tak bisa bergerak karena ketakutan.


Dokter itu berlari dan menabrak Ken dan Sandi namun langsung berlari menjauh tanpa mereka sadari wanita itulah yang mencelakai Karin.


Tiba-tiba Karin kejang dan darah mulai keluar dari organ intimnya. Anton panik dan segera melepaskan ikatan Karin. Ken dan Sandi pun datang dan melihat kondisi Karin yang mulai pendarahan.


"Apa yang terjadi dengan Karin?" tanya Ken panik dan sandi mencari- cari sesuatu.


"Dokter gadungan tadi menyuntikkan sesuatu pada Karin." jelas Anton.


Sandi pun yang sudah menemukan sesuatu langsung menyuntikkannya pada Karin.


"Kita harus segera bawa Karin kerumah sakit, dia harus ditangani kurang dari 12 jam sebelum nyawa keduanya melayang, aku sudah menyuntikkan obat untuk melindungi plasenta dan janinnya namun akan terus menyerang peredaran darah ibunya."


Ken mengangkat tubuh Karin yang gaunnya sudah kotor oleh darah, tanpa rasa jijik Ken segera membawa keluar Karin diikuti sandi dan Anton sekaligus membawa perawat itu untuk di interogasi siapa dalang di belakang ini.


Selama di perjalanan Ken memangku tubuh Karin yang tak berdaya, memeluknya dan terus menciumi keningnya, tanpa peduli darah yang dikeluarkan Karin mengotori kemejanya.

__ADS_1


"Bertahanlah sayang, bertahanlah untuk ku, aku yakin kamu kuat." Ken memeluk Karin sangat erat dan tanpa terasa menitikkan air mata.


Makasih sudah mampir jangan lupa tinggalkan jejak 👍❤️✍️🧿⭐ di tunggu


__ADS_2