
Karin menghampiri Joy yang sibuk menjaga api tungku. Karin mengeluarkan sapu tangan yang selalu ia bawa di sakunya untuk menghapus arang yang ada di wajah Joy. Awalnya Joy terkejut dengan apa yang di lakukan Karin dan sesaat kemudian ia merasakan kelembutan belaian seorang ibu yang sudah lama tak pernah ia rasakan.
"Wajahmu kotor nak, gara-gara membantu ibu di dapur." ucap Karin sambil terus membersihkan wajah Joy dengan sapu tangannya. Joy menggenggam tangan Karin yang sedang membersihkan wajah Joy.
"Aku rindu belaian tangan ini. Yang dulu pernah membelaiku, menyakinkan ku bahwa semua akan baik-baik saja. Aku juga merindukan tangan ini mengusap rambutku saat aku tak yakin dia mau menerimaku." Joy pun spontan mengatakan kerinduannya pada Karin sambil menitikkan air mata. Karin pun menarik tangannya dan menjauh beberapa langkah dari Joy.
"Maaf, jika kata-kata ku menyinggungmu." ucap Joy yang menyadari sikap Karin.
"Bukan begitu nak. Ibu senang jika kamu mengagap ibu seperti ibumu sendiri. Tapi kata-katamu mengingatkan ibu pada putra ibu. Mungkin sekarang ini dia sudah dewasa seperti dirimu. Sejak kedatangan mu kesini, ibu kembali teringat kenangan masa lalu, tak dapat di pungkiri ibu masih merindukan ke-dua putra ibu yang jauh di sana, dan entah kapan aku bisa melihat wajahnya kembali."
"Bu, tak bisakah kau merasakan kehadiran putramu ini, yang juga merindukan ibu untuk kembali." gumam Joy dalam hati.
"Kenapa ibu tak menemui mereka. Jika ibu merindukan putra-putra ibu. Dan apakah Rara tak mengetahui jika ia memiliki kakak? maaf jika pertanyanku ini terlalu masuk dalam masa lalu ibu." Joy duduk di samping Karin di sebuah bangku panjang yang ada di dapur dan melupakan api di tungku yang sedari tadi ia jaga.
"Ibu malu nak, ibu malu dengan putra ibu. Karena kebodohan ibu, membuat keluarga ibu menanggung akibatnya. Ibu malu pada suami ibu yang dengan tulus mencintai ibu, ibu balas dengan kebohongan yang teramat bodoh. Hanya ini kenangan terakhir yang ibu miliki. Saat ibu hampir kehilangan nyawa, sapu tangan ini yang berusaha menghentikan darah yang terus saja mengalir di tubuh ibu. Saat ini di saat ibu merindukannya ibu selalu mencium dan mendekapnya dalam pelukan ibu." Karin pun bercerita pada Joy walaupun tanpa menyebutkan namanya sambil terus memandangi sapu tangan yang sekarang penuh dengan arang.
"Jadi Rara punya kakak Bu? dan ayah Rara masih hidup?" Rara tiba-tiba saja bertanya yang ternyata sedari tadi mendengarkan ibunya bercerita pad joy. Karin dan Joy yang kaget hanya bisa saling memandang dan menatap tajam Rara.
__ADS_1
"Apa benar Rara punya kakak dan juga ayah Rara masih hidup? kenapa ibu tak pernah bilang pada Rara? kenapa ibu menutupi semuanya dari Rara? Rara berhak tahu siapa ayah Rara dan keluarga Rara, kenapa ibu tega menyembunyikan semuanya dari Rara, ibu lihat Rara sudah dewasa, seharusnya ibu memberi tahu kebenarannya. Ibu jahat, ibu tega melakukan ini pada Rara, apa ibu gak kasihan dengan Rara saat Rara di bully di hina sebagai anak haram sampai Rara gak sanggup menerima hinaan teman-teman. Tapi ibu tega tetap menutupi semuanya, salah Rara apa Bu?" Rara terus saja melemparkan begitu banyak pertanyaan pada Karin di sertai tangisnya sedangkan Karin hanya terdiam hanya air mata yang mewakili sebagai tanda penyesalan.
"Ra, jangan salahkan ibumu, dia pasti punya alasan yang kuat tak memberi tahu kebenarannya. Kamu harus paham itu, kasihan ibumu yang kamu cecar dengan banyak pertanyaan." Joy mencoba menenangkan keadaan.
"Jangan ikut campur pak dengan masalah keluargaku, bapak hanya orang asing yang menupang di sini, jadi bapak gak berhak ikut campur, aku hanya ingin mendengar penjelasan dari mulut ibu langsung." Dengan kasarnya Rara berbicara pada Joy dan membuat Karin geram dengan tindakan Rara.
"Cukup Rara..." Bentak Karin
"Kamu ingin tau kebenarannya bukan. Baik akan ibu beritahu, mungkin ini sudah saatnya ibu menceritakan semuanya padamu. Maafkan ibu yang selama ini tidak adil padamu dan menutupi kebenarannya darimu." Karin pun menjelaskan semuanya tentang Ken dan juga ke-dua putranya yaitu kakak Rara, serta sebab Karin berpisah dengan Ken dan juga alasan Karin menutupi semuanya dari Rara. Setelah semuanya ia ceritakan tiba-tiba saja Karin roboh dan untung saja Joy sempat menangkap tubuh Karin.
Sesampainya di rumah sakit yang di tuju, Karin langsung mendapat penanganan UGD.
Rara yang merasa bersalah atas kejadian ini, menangis tersedu-sedu di ruang tunggu.
"Maafkan Rara Bu, semua ini salah Rara, tak seharusnya Rara bersikap seperti itu pada ibu." ucap Rara penuh penyesalan. Joy langsung memeluk Rara mencoba menenangkannya.
"Sabar Ra, ibu pasti baik-baik saja. ibu sudah di tangani sama dokter yang sudah berpengalaman. Yang terpenting sekarang kamu berdoa agar ibu cepat sembuh." Joy mengusap punggung Rara agar lebih tenang.
__ADS_1
Setelah menunggu cukup lama. Dokter yang menangani Karin pun memberitahu bahwa Karin membutuhkan waktu sedikit lebih lama untuk pengobatan dan dianjurkan untuk tetap dirawat di rumah sakit.
"Bagaimana aku membayar pengobatan selama ibu di sini. Aku tak punya uang untuk membayarnya."
"Jangan kuatir kan soal biaya, aku yang akan menanggung semua biaya pengobatan ibu, kamu tenang saja ibumu pasti akan sembuh." jawab Joy
"Terimakasih pak sudah mau menolong membayar biaya pengobatan ibu, Rara janji akan mengganti semua uang yang bapak keluarkan untuk pengobatan ibu saya, tapi beri saya waktu saya pasti akan mencicilnya." Jawab Rara.
"Jangan pikirin soal itu, sekarang hari sudah malam, lebih baik ikut aku. Akan aku antar kamu istirahat."
"Gak pak, aku mau disini menemani ibu." tolak Rara
"Jangan menolak, atau aku akan berubah pikiran dan tidak membayar pengobatan ibumu." Ancam Joy. Dengan terpaksa Rara pun mengangguk dan ikut bersama Joy meninggalkan Karin seorang diri istirahat di rumah sakit dengan keadaan belum sadarkan diri.
Tak butuh waktu lama untuk sampai ke sebuah rumah besar dengan halaman yang luas. Joy dan Rara turun dari taksi di halaman rumah.
"Ini rumah siapa pak? besar sekali. Baru pertama kali Rara lihat rumah Segede ini. Benar-benar seperti istana." Rara yang terkagum-kagum dengan rumah yang ada di hadapannya. Seperti sebuah mimpi ia bisa menginjakkan kakinya di halaman rumah besar yang biasanya hanya ia lihat di buku-buku.
__ADS_1