Bukan Salahku Menjadi Pelakor

Bukan Salahku Menjadi Pelakor
Season 2 : ingat masa lalu


__ADS_3

Setelah sarapan Arthur pun langsung pamit untuk berangkat ke kantor begitu juga dengan Joy.


"Ra... kamu ikut ibu sebentar, ada yang ingin ibu bicarakan." ucap Karin setelah selesai sarapan. dan Rara pun mengangguk.


Rara mengikuti ibunya, pergi ke kamar Karin. Karin duduk di sisi ranjang dan meminta Rara duduk di sampingnya.


"Ra... ibu ingin bertanya sesuatu denganmu, ibu harap kamu bisa jujur pada ibu." sambil mengusap pucuk rambut Rara.


"Ibu perhatikan dari awal, keceriaan di wajahmu pudar, seperti diselimuti kesedihan. Apa kamu tak bahagia bisa berkumpul dengan keluarga yang selama ini kamu harapkan? atau kamu tak suka tinggal di rumah ini? Katakan pada ibu dengan jujur, ibu akan mencarikan solusinya demi putri ibu. Ibu gak mau melihat putri satu-satunya ibu kehilangan keceriaan." tanya Karin dan Rara pun langsung menangis di pundak ibunya menumpahkan kesedihannya.


"Rara rindu ibu, di sini Rara terasa sangat asing, semua orang sibuk masing-masing dan tak ada waktu untuk Rara termasuk ibu. Rara ingin pulang ke kampung, walaupun di sana kita sering kekurangan tapi Rara gak pernah kekurangan kasih sayang ibu."


"Ini juga rumah kita nak, dan ibu tetap sayang sama kamu dan ibu selalu ada buat kamu, mungkin kamu belum terbiasa dengan perubahan ini." Karin menghela nafas dan mengusap air mata yang membasahi pipi putrinya." ini semua salah ibu yang tak bisa mempertemukan mu Dangan papa dan juga kakak-kakakmu dari awal, tapi percayalah sayang, perlahan kamu pasti akan terbiasa."


"Papa sudah memutuskan, akan mengirim mu ke Amerika untuk mengejar pendidikan mu yang tertinggal, kamu juga harus bisa seperti Arthur dan Joy, karena salah satu perusahaan papa akan papa serahkan untuk kamu." ucap Ken yang baru saja datang dan menghampiri Rara.


"Tapi pa...?"


"Papa tahu ini terlalu cepat, tapi ini semua demi kebaikan kamu juga, selama ini papa gak ada buat kamu, jadi tolong jangan tolak." ucap Ken sambil mengusap pundak Rara.


"Iya sayang, kamu harus melanjutkan sekolahmu, kamu harus bisa menjadi wanita yang berpendidikan, biar ibu nanti minta Joy untuk membantumu mengajari pendidikan mu yang tertinggal, dan bulan depan kamu harus sudah siap untuk pergi ke Amerika."


"Tapi Bu, Rara gak menginginkan itu, Rara hanya ingin bersama ibu saja."


"Kamu anak perempuan ibu satu-satunya, jangan mengikuti jejak ibu yang tak memiliki pendidikan, apa kamu tahu penyesalan yang ibu rasakan saat ibu harus bersaing dengan kerasnya dunia luar. Bahkan ibu harus menjalani pekerjaan hina hanya demi uang, ibu gak mau nanti kamu seperti itu nak, dibodohi orang yang memanfaatkan keadaan." jelas Karin pada Rara.


"Izinkan Rara berfikir dulu, nanti kita bicarakan lagi." Rara pun pergi meninggalkan Ken dan Karin.

__ADS_1


Ken menatap Karin, dan membuat Karin bingung dengan tatapan suaminya itu.


"Kenapa mas menatapku begitu? apa ada kata-kata yang ku ucapkan salah?" tanya Karin.


"Apa sayang sadar? sayang barusan mengingatkan awal pertemuan kita pada anak kita Rara."


"Iya aku sadar, aku masih ingat dengan sikap mas waktu itu yang sangat kasar bahkan di atas ranjang pun juga kasar, mas juga sangat sombong, Karin juga ingat saat Karin jadi wanita simpanan, dan Sasa begitu marah saat mengetahui perbuatan mas,tapi ada kebanggaan tersendiri buat Karin karena bisa membuat mas dan mama jatuh hati pada Karin ya walaupun dengan kue bolu ketan hitam." ucap Karin mengingat masa lalu di awal pertemuan.


"Kamu juga jadi wanita terlalu lugu dan lemah, jadi mudah di manfaatkan orang kan. Dan masalah bolu ketan hitam, aku sudah hampir lupa rasanya.


"Bilang saja kalau mau di buatin lagi. Mengingat masa lalu, sungguh perjalanan yang panjang dan begitu banyak kenangan yang masih tersimpan sampai sekarang, perjuangan Karin mempertahankan anak kita Arthur, bahkan Karin harus berpura-pura menjadi adik kandung mas, saat mas amnesia, apa mas ingat itu?"


"Tentu saja aku ingat, Aku juga masih ingat saat kamu tinggal di apartemen milik Sandi, dan juga sayang pernah bermain hati dengan Reval. Tapi sudahlah biarlah masa lalu menjadi kenangan dan sekarang biarkan aku menjadi suami sekaligus papa yang baik untuk istri dan anak-anak.


"Berarti mas dulu cemburu ya dengan dokter sandi? dia kan cuma membantu Karin gak lebih"


"Benarkah? lalu apa keputusan mas?"


"Mas bilang iya saja, tapi sampai sekarang mas belum mempertemukan Arthur dan putrinya, Apakah kita harus mempertemukan mereka dan menjodohkan mereka, ya sebagai ucapan terimakasih karena sudah menyelamatkan istriku untuk kedua kalinya."


"Terserah mas, tapi Karin gak mau menjodohkannya atas dasar balas budi, kita pertemuan saja dulu mereka, untuk keputusannya biar mereka sendiri yang menentukan."


๐Ÿ‚๐Ÿ‚๐Ÿ‚๐Ÿ‚


Saat Rara keluar dari kamar Karin, Nabila memanggilnya dan meminta Rara menemaninya jalan-jalan sebelum kembali ke rumah orangtuanya.


"Ra, bisakah kamu menemaniku jalan-jalan, soalnya mas Joy sibuk dan memintaku membawamu saja."

__ADS_1


"Maaf bukannya aku tidak mau, tapi aku juga belum terlalu tahu kota ini." jawab Rara


"Gak usah kuatir, mas Arthur meminta om Anton menemani kita jalan-jalan, dia kan tahu seluk beluk kota ini."


"om Anton?"


"Iya... Orang kepercayaannya om Ken." jawab Nabila.


"Baiklah kalau begitu, aku bersiap dulu." Rara pun kembali ke kamarnya untuk bersiap.


Tak lama Anton pun datang, dan membuat Ken bertanya-tanya akan kedatangannya.


"Anton... ada apa kamu datang kemari? aku tak memanggilmu" tanya Ken.


"Maaf pak, tuan muda Joy memintaku untuk mengantarkan pacarnya bersama nona Rara untuk jalan-jalan." jelas Anton.


"Itu kan bukan tugasmu, kenapa kamu mau, kan ada sopir yang bisa mengantarnya. Lebih baik kamu kembali bekerja biar aku Tanti yang bilang sama Joy."


"Gak papa pak, biarkan aku saja yang antar, biar sekalian bisa saya awasi, takutnya kalau ada apa-apa di jalan." jawab Anton lagi.


"Baiklah kalau begitu, aku percayakan Rara dan Nabila padamu." ucap Ken dan melanjutkan membaca koran yang belum selesai.


"Maaf pak,saya belum bisa jujur, sebenarnya tuan muda Joy memintaku untuk menjaga nona Rara dari incaran Beni. tapi tenang saja putrimu aman bersama saya." gumam Anton sebelum Rara dan Nabila datang menghampiri.


"Om.. kami sudah siap. Apa bisa berangkat sekarang?" ucap Nabila dan Anton pun mengangguk.


Sebelum berangkat tak lupa mereka pun pamit pada Ken, sebagai orang tua dan juga kepala keluarga.

__ADS_1


โญ terimakasih buat para readers, yang masih setia menunggu updatenya. Jangan lupa tinggalkan jejak LIKE, KOMEN, VOTE, HADIAH sebagai bentuk dukungan. Karena semakin kesini semakin sepi dukungannya dan itu membuatku sedikit kurang bersemangat di tambah level yang tak pernah berubah...siapa tahu dengan dukungan kalian bulan depan ada perubahan level, amin๐Ÿคฒ๐Ÿคฒ


__ADS_2