Bukan Salahku Menjadi Pelakor

Bukan Salahku Menjadi Pelakor
undangan VVIP


__ADS_3

Ken tak butuh waktu lama di rumah sakit, dokter Bara sudah mengizinkan Ken pulang.


Karin dan Ken bersiap-siap untuk pulang. Anton datang menemui Ken dengan membawa sesuatu di tangannya.


"Pak Ken sudah sembuh?" tanya Anton.


"Sudah, memangnya kenapa?"


"Sepertinya setelah ini bapak akan super sibuk tentunya bersama nyonya Ken. Ini undangan VVIP sudah menunggu untuk di hadiri."


Karin yang melihat undangan mewah itu langsung merebut dari tangan Anton sebelum sampai pada Ken.


"Karin mau lihat dulu, undangannya bagus, pasti untuk undangannya saja mahal harganya." Karin membuka satu-satu undangan itu dan yang pertama ia buka undangan yang sangat menarik.


"Mas, sini deh duduk samping Karin."


"Kenapa, ada yang aneh undangannya?"


"Enggak, ini kan bukannya acara yang seperti di TV itu, salah satu acara bergengsi untuk para artis, kok mas bisa di undang dan jadi tamu VVIP pula." Ken hanya tersenyum melihat istrinya.


"Karin pengen bisa melihat langsung acara besar tahunan itu, soalnya Karin kan biasanya cuma lihat di TV, dan arti terkenal semua hadir di acara ini."


"Ia kita akan datang langsung dan duduk paling depan, biar bisa lihat langsung Artis-artis terkenal."


"Beneran mas, Karin gak mimpikan kita bisa datang kesana, rasanya jadi gak sabar pengen cepat-cepat bisa menghadiri acara itu. Makasih mas Karin seneng banget."


" Karin sebenarnya kamu gak tahu, atau memang gak di kasih tahu suamimu?" tanya Anton yang heran melihat ekspresi Karin.


"Gak tau, mas Ken gak pernah cerita tentang pekerjaannya, bahkan perusahaan bergerak di bidang apa Karin juga gak tahu, lagian Karin juga gak sempat nanya sih"


"Memang ya pak Ken itu suami durhaka sama istri. Masa pekerjaan suaminya istrinya gak tahu." ucap Anton sedikit kasar.


"Mau gimana lagi, istri polosku ini juga gak pernah tanya." Jawab ken santai.


"Baiklah, biar aku sebagai asisten pribadi pak Ken yang akan membongkar semua bisnis pak Ken pada istrinya." jawab Anton lagi.


"Silahkan jelaskan, biar aku gak di kira mengada-ada"

__ADS_1


"Pak Ken memiliki bisnis properti, memiliki perusahaan yang bergerak di bidang konstruksi, Salah satu pemilik saham terbesar di X entertainment, penanam saham di perusahaan besar, gak cuma itu suamimu ini jiwa sosialnya tinggi, salah satunya menjadi donatur perkembangan desa tempat tinggal kamu." Jelas Anton panjang lebar dan Karin hanya terkagum kagum dengan bisnis suaminya yang tak ia ketahui selama ini.


"Ternyata suamiku ini orang hebat dan sukses, pantesan aja uang belanja 10 juta seminggu itu gak ada nilainya. Mas Ken benar-benar keren Karin bangga dengan kerja keras mas ken." Karin memeluk suaminya dengan bangga.


"Mas yang lebih bangga, sayang tidak pernah menuntut ataupun dari mas dan tidak penasaran dengan apa yang mas kerjakan."


"Bagi Karin, mas adalah nomor satu, pekerjaan mas itu nomor sekian, asalkan mas tetap bersama Karin dan tidak mengulangi kesalahan seperti dulu itu sudah cukup buat Karin."


"Iya mas janji, gak akan mengulanginya lagi, kecuali yang ini gak sayang lagi sama mas."


"Sampai kapanpun Karin ada selalu mencintai mas."


"Kalian jadi pulang, atau mau bermesraan di rumah sakit." sela Anton.


"Ya pulang lah, aku mau menghabiskan waktu bersama istriku di rumah, Bawakan tasnya kita pulang sekarang." ucap Ken.


Anton pun mengantarkan bosnya ke apartemen, yang sebenarnya tak jauh.


"Nah sekarang sudah sampai, saya mau pamit dulu, nanti jadwal untuk menghadiri undangan aku persiapkan kalian tinggal datang saja." ucap Anton dan langsung pergi.


Saat sampai rumah lagi-lagi bi Wiwik menyambut Ken dengan tangisnya.


"Makasih bi, atas semua doanya mudah-mudahan keluarga kami, bisa terus bahagia ya kan sayang."


"Aku di sini mas." rupanya Karin sudah pindah di meja makan tak di samping Ken lagi.


"Kenapa pindah gak bilang-bilang, berarti mas bicara sama hantu dong di samping mas tadi."


"Jangan bilang hantu, nanti di datangi baru tahu rasa."


"Siapkan mas makan, mas sudah kangen sama masakan rumah." Ken duduk disamping Karin dan Karin dengan segera mengambilkan nasi dan lauk pauk untuk suaminya.


"Sayang gak makan?"


"Gak mas, Karin gak bisa makan banyak, soalnya perut Karin sudah makin besar, makan sedikit sudah kenyang. Mas aja makan yang banyak biar cepat pulih tenaganya."


Ken menikmati makanan dan sesekali Karin mengganggu minta di suapin.

__ADS_1


Setelah makan, Ken dan Karin istirahat di kamar. Balas dendam karena di rumah sakit tak bisa begitu banyak istirahat.


Ken duduk dan bersandar di sandaran ranjang, sedangkan Karin merebahkan kepalanya di dada Ken.


"Mas rasanya lama sekali, Karin tak bisa tidur di dada mas seperti ini." Karin melukis dada Ken dengan jarinya.


"Mas juga sudah kangen menikmati waktu bersama sayang seperti ini, terimakasih sayang sudah bau bersabar menunggu sampai mas sembuh dan menahan semuanya sendiri."


"Anak kita juga rindu di belai oleh tangan papanya."


"Benar kah, mas sampai lupa, sudah berapa bulan usia kandungan sayang?"


"Sudah lima bulan jalan ke enam bulan, gak terasa kan bentar lagi bakal gendong bayi."


Ken mengusap perut Karin yang sudah buncit namun dan Karin terlihat lebih berisi badannya.


"maafkan papa sayang, sudah buat mamamu kecapean dan menghabiskan banyak waktu untuk mengurus papa."


"Gak masalah mas, itu sudah tanggung jawab aku sebagai istrinya mas"


"Oya mas, Karin ada janji sama dokter Bara, dan Karin baru ingat mau nyampai kan ke mas "


"Memangnya ada apa, bilang ke mas."


"Karin janji sama dokter Bara kalau mas Ken sembuh, mas harus ngajarin Karin bahasa Inggris, kan Karin malu, bersanding dengan seorang pengunjung tapi gak bisa bahasa Inggris." Karin menyembunyikan wajahnya didada Ken.


"Ya ampun, sayang janji seperti itu dengan Bara." Ken tertawa


"Kenapa mas tertawa, gak mau ngajarin Karin. soalnya kalau Karin gak janji, dokter Bara gak mau bantuin Karin konsultasi dengan dokter yang dari Amerika itu, kan Karin gak paham bahannya."


"Istri mas ini memang benar-benar masih polos. iya akan mas bantu ajarin tapi ada syaratnya juga."


"Kok buat belajar aja ada syaratnya? memang syarat nya apa?"


"Mas minta di layani malam ini."


"Itu ma bukan syarat tapi minta jatah, iya kan. Tapi gak sekarang, Karin mau istirahat dulu mau mengumpulkan tenaga dulu."

__ADS_1


"Iya mas juga mau istirahat, mau mengumpulkan tenaga juga buat tempur malam nanti." Ken mencubit hidung Karin dan merebahkan tubuhnya."


__ADS_2