Bukan Salahku Menjadi Pelakor

Bukan Salahku Menjadi Pelakor
season 2 : bukankah ini????


__ADS_3

"Hai tunggu..." Teriak Arthur memanggil Rara dan berlari lebih cepat untuk menghampiri Rara.


"Apa kamu gak dengar aku memanggilmu? bukannya berhenti atau pelankan langkahmu malah makin kenceng." imbuh Arthur yang sekarang berada di samping Rara.


"Mana kak Joy? bukannya tadi di samping Rara?" tanya balik Rara.


"Mana ku tahu, ayo pulang hari sudah makin siang, aku juga sudah capek." ajak Arthur dan Rara pun mengangguk.


Sesampainya di rumah, Rara mencari-cari Joy yang di kiranya pulang duluan meninggalkan dirinya dan Arthur.


"Kemana kak Joy, di rumah pun tak ada? apa kak Joy pergi? padahal kan dia janji ngantarin jenguk ibu." gumam Rara.


"Woi... ngapain bengong? Kakak tercintamu pergi buru-buru tadi makanya kamu di tinggalin." jelas Arthur.


"Tercinta? apa maksud kak Arthur. " Rara memanyunkan bibirnya tanya tak suka.


"Kamu suka dengan kak Joy kan? ditinggal sebentar saja sudah bingung nyariin. Tapi jangan berharap besar ya padanya soalnya dia sudah punya kekasih, mending dengan aku aja yang masih jomblo." ucap Arthur sambil tertawa lalu berjalan pergi.


"Ngarep, siapa juga yang suka dengan kak Joy. aku kan cuma nagih janji aja."


Ken yang sudah berpakaian rapi menuruni anak tangga sepertinya ia ingin pergi ke suatu tempat.


"Ra... kamu gak jenguk ibumu?" tanya Ken


"Sebenarnya mau jenguk om, cuma kak Joy gak ada di rumah. Padahal dia janji mau antar ke rumah sakit."


"Oh... kalau begitu bareng om aja, om juga mau kerumah sakit."


"Yang bener om, Rara boleh numpang? kalau begitu tunggu bentar ya om Rara siap-siap sebentar." Rara pun bergegas pergi ke kamarnya untuk bersiap.

__ADS_1


Ken masih berdiri terpaku menatap Rara, " Andai dia putriku, dia pasti akan mengurangi sedikit rinduku padamu."


Ken dan Rara pun berangkat bersama dengan di antar sopir pribadi ken.Mereka menuju rumah sakit tempat Karin di rawat. Ken dan Rara duduk di kursi belakang. Awalnya mereka saling diam dan tak ada kata-kata yang keluar. Ken pun mengawali pembicaraan, " Sebenarnya sakit apa ibumu Ra?" tanya Ken untuk pertama kalinya sejak Rara datang tak pernah sekalipun Ken menanyakan tentang ibunya.


"Ibu... ibu mengalami paru-paru bocor, kata dokter paru-paru ibu pernah cidera oleh luka tembak. Rara sendiri gak pernah tahu kalau ibu pernah kena tembak. ibu pun tak pernah cerita pada Rara" jelas Rara sambil matanya memberkaca-kaca.


"Apa? luka tembak..." Ken terdiam sesaat." Karin meninggal juga akibat luka tembak, apa mungkin itu...." gumam Ken dalam diamnya.


"Om...om... kenapa diam." tergiur Rara.


"Maaf, om hanya teringat istri om yang meninggal juga karena luka tembak. ngomong-ngomong siapa nama ibumu?" tanya Ken lagi, dan sepertinya Ken mulai penasaran dengan ibunya Rara.


"ibu... ibuku bernama kar..." ponsel Ken berdering dan itu dari Anton Ken pun segera mengangkatnya hingga Rara menghentikan ucapannya.


Beberapa menit setelah bertelepon, ternyata sudah sampai depan rumah sakit. Rara dan Ken pun segera turun dari mobil.


"Ayo Ra, biar aku antar kamu, sekalian aku mau jenguk ibumu." ajak Ken.


Ken mengikuti Rara menuju ruang rawat Karin namun saat hendak sampai ruangan Karin, tiba-tiba Anton yang ternyata sudah menunggu Ken, memanggilnya.


"Pak Kenzo, bapak sudah sampai, saya sudah menunggu kedatangan bapak dari tadi dan ada yang sudah menunggu bapak, mari pak saya antarkan menemuinya" ucap Anton yang menghampiri Ken.


"Maaf Ra, sepertinya aku belum bisa menjenguk ibumu, om masih ada urusan, lain kali om akan sempatkan waktu buat jenguk ibumu. Sampaikan salam om pada ibumu." ucap Ken.


"Gak papa om, Rara di antar sampai ke sini saja Rara sudah terimakasih banyak. kalau begitu Rara duluan ya om." Rara pun melanjutkan langkahnya begitu juga dengan Ken yang pergi mengikuti Anton.


Sesampainya di depan ruang rawat Karin, Rara di kejutkan dengan keberadaan Joy yang sudah ada di ruangan ibunya.


"Rara... dengan siapa kamu datang ke sini. Maafin kakak, tadi ada sedikit urusan makanya kakak pergi duluan dan setelah selesai kakak langsung kemari." jelas Joy

__ADS_1


"Oh...,"Saut Rara dengan wajah datar.


"Apa kamu marah Ra dengan kakak? kakak benar-benar minta maaf."


"Rara gak marah, Rara cuma kecewa kakak gak nepati janjinya."


"Lain kali kakak gak akan ingkar janji lagi. Kakak janji." Joy mengarahkan jari kelingkingnya untuk di hadapan Rara.


Rara pun menyambutnya dengan jari kelingkingnya juga." Kakak janji kan?" Rara pun tersenyum begitu juga dengan Joy.


"Ngomong-ngomong, kamu tadi kesini sama siapa? tanya Joy


"oh... tadi om Ken yang antar Rara, sekalian om juga ada urusan di sini." jawab Rara


"Papa ada di sini? terus sekarang papa dimana?"


"Tadi ada om-om yang nemuin om Ken terus ikut om-om itu."


"Ada perlu apa papa datang ke rumah sakit ini dan siapa yang papa temui." gumam joy


"Kakak keluar sebentar ya Ra? nanti kakak kembali." Joy pun pergi meninggalkan Rara bersama ibunya.


"Mau kemana lagi kak?" tanya Rara namun Joy keburu pergi meninggalkan Rara


Rara pun menghampiri ibunya yang masih terbaring di ranjang. Dengan lembut Rara mengusap kepala ibunya dan menggenggam tangan Karin yang nampak pucat dan mulai keriput.


"Bu? cepat sadar, Rara sudah rindu dengan ibu, Rara sudah kangen dengan omelan ibu. Ibu cepat bangun. Oya Bu, selama di sini Rara bertemu om Ken yang baik banget sama Karin dia itu papanya kak Joy. Kalau ibu sudah sadar nanti Rara kenalin sama om Ken dan kita berterimakasih sama om Ken dan juga kak Joy yang sudah mau menerima Rara tinggal sementara dirumahnya dan juga sudah perhatian sama Rara. Ibu...andai ayah Rara seperti om Ken Rara pasti akan menerimanya." Rara pun menciumi tangan ibunya dan menggenggamnya berharap Karin bisa segera sadar.


Setelah urusannya selesai, Ken pun pulang dan sopirnya pun menjemputnya di depan rumah sakit. Ken segera masuk dalam mobil dan duduk di kursi belakang, saat sedang duduk ia merasa menduduki sesuatu dan benar saja saat ia ambil barang yang ia duduki ternyata itu sebuah dompet.

__ADS_1


"Dompet siapa ini? Ken pun membuka dompet berwarna biru yang ia pegang dan alangkah terkejutnya dengan apa yang ia lihat di dalam dompet tersebut. Dengan segera ia menarik sesuatu yang ada dalam dompet itu.


"Bukankah ini..."


__ADS_2