
Ken menatap wajah Karin yang masih terlelap dalam tidurnya, setelah menghabiskan malam untuk memadu kasih.
Ken berkali kali menciumi wajah Karin.
"Mas, sudah jangan ganggu Karin." Karin menutupi pipinya dengan tangan sedangkan mata Karin masih terpejam.
"Mas bangun saja duluan nanti Karin nyusul, mata Karin masih lengket." lanjut Karin
"Mas, cuma mau lihat Isti mas yang cantik ini."
"Sayang hari ini harus dandan yang cantik, karena mas akan menunjukkan pada dunia istri mas yang paling cantik dan baik hati."
"Memangnya kita mau kemana, gak kemana-mana kan." karin membuka matanya dan menatap suaminya.
"Kamu itu adalah istri seorang pengusaha terkenal. Dan selama ini mas belum konfirmasi soal pernikahan kita ke publik."
"Gak usah lah mas, Karin malu, apalagi harus jadi perhatian orang banyak."
"Ngapain harus malu, itu resiko jadi istri mas. Buruan mandi dan sarapan bentar lagi ada yang datang dan kita akan bersikap kekantor."
Karin dengan langkah malasnya berjalan ke kamar mandi dan bergantian dengan suaminya.
Saat sedang sarapan, tiba-tiba ada tamu datang dan bi Wiwik segera membukakan pintu.
"Tuan, ada tamu."
"Nah itu sudah datang."
"Siapa mas?"
"Liat aja sendiri."
Tak lama dua pria tau wanita datang menghampiri dan berdiri di depan meja makan.
"Mereka yang akan menangani fashion dan makeup sayang." jelas Ken
Karin hanya menatap dari atas sempai bawah manusia setengah pria setengah wanita.
"Amit amit jangan sampai nurun ke anakku." batin Karin sambil mengusap perutnya.
"Kenapa sayang?"
"Gak papa, cuma gatal aja perut Karin."
__ADS_1
"Mas, gak salah kan, memilih orang, kok kaya gitu, itu laki atau perempuan." bisik Karin membuat Kenzo menahan tawa.
"Saya dengar Lo nyonya, gak usah takut sama saya, saya ini masih normal. Perkenalkan Kalau kami sedang berkerja nama saya Siska dan ini kembaran saya Riska tapi kalau saya di rumah nama saya Santo dan dia Ranto."
"Ya sudah, gak usah di permasalahkan, ayo buruan urus istri saya, nanti keburu kesiangan kekantor." ucap Ken.
Siska dan Riska pun langsung membantu Karin mempersiapkan diri untuk pertama kalinya di perkenalkan pada dunia luar sebagai istri Kenzo.
"Nyonya Ken, beruntung sekali ya, bisa dapat suami tampan, kaya raya dan baik hati pula."
"Aku juga gak nyangka bisa bertemu mas Ken dan bisa jadi istrinya, perjalanan gak mudah Lo."
"Yang benar nyonya, tapi....iya sih mana bisa sembarang orang untuk bisa menjadi pendamping pak Kenzo."
"Ngomong- ngomong kalian di kontrak berapa lama sama mas Ken?"
"Kita di kontrak pak Ken satu bulan khusus mengurus anda dengan bayaran yang fantastis buat kami, makanya kami mau ambil, sebenarnya banyak tawaran job untuk kami tapi karena penawaran pak Ken menggiurkan maka kami menyetujui kerjasama dengan beliau."
"Wah berarti aku termasuk, salah satu wanita yang beruntung bisa menggunakan jasa Kalian."
"yup... dan sekarang nyonya sudah selesai dan siap."
Kali ini Karin terlihat mempesona dan anggun.
"Mas gimana Karin sekarang."
"Wah....non cantik sekali, bibi sampai pangling melihatnya."
"Bibi jangan memuji berlebihan nanti kepala Karin jadi besar."
"Sayang sudah siap, sudah waktunya kita berangkat. Semua orang sudah menunggu kedatangan kita."
"Iya mas, Karin sudah siap."
Karin dan Ken pun berangkat ke kantor sesuai jadwal yang di tentukan Anton.
Sesampainya di kantor, para karyawan sudah menyambut kedatangan Ken dan Karin dengan mengalungkan kalung bunga dan juga buket bunga untuk Karin. Juga terpampang ucapan selamat datang Presdir.
Tak lupa juga pejabat tinggi kantor juga ikut serta menyambut kedatangan pemimpin perusahaan bersama istri.
Karin tak dapat bicara hanya tersenyum saja, sedangkan Ken menyapa semua bawahannya yang memiliki posisi penting di kantor dan sudah bekerja keras di untuk kemajuan perusahaan.
Di sudut sofa Karin duduk sendirian karena yang lain sibuk Menikmati acara yang mereka buat.
__ADS_1
Karin yang perutnya sudah terlihat besar, mengusap-usap perutnya yang tiba-tiba saja terasa sakit, Selama acara tak ada yang menanyakan keadaan Karin sampai Karin memilih untuk ke toilet, menghapus peluh yang keluar sendiri saat menahan sakit.
Ken yang melihat hanya memperhatikan langkah Karin sedangkan dirinya tak bisa meninggalkan orang orang penting yang ada.
Cukup lama Karin tak kunjung kembali Ken memperhatikan jam di tangannya hampir satu jam Karin pergi. Ken memutuskan untuk mendatangi istrinya yang berada di toilet wanita.
"Sayang, kamu gak papa kan, kenapa lama sekali ke toiletnya." Tanya Ken namun tak ada jawaban dari Karin
Ken mencari-cari keberadaan Karin sampai kedalam toilet namun tak mendapatkan sosok istrinya.
"Karin, kamu dimana?" Ken mulia bingung dengan keberadaan Karin yang tak biasa pergi Tanpa pamit.
Ken mengambil ponselnya di saku, untuk menghubungi Karin ternyata Karin sudah belasan kali menghubungi Ken namun tak ada satupun yang di angkatnya. Ternyata ponsel Ken dalam mode senyap.
Ken segera menghubungi kembali Karin namun saat panggilannya di angkat bukan Karin yang menerima panggilan itu melainkan suster.
"Halo Karin sayang kamu dimana, kenapa gak bilang-bilang kalau pergi?" tanya Ken dengan gelisah.
"Maaf pak, saya istri anda sekarang sedang di tangani dokter karena beliau datang kesini sendirian dengan posisi pendarahan, bapak harap segera datang untuk persetujuan tindakan selanjutnya."
"Apa sus, bagaimana bisa terjadi, istri saya belum beberapa lama yang lalu ada bersama dengan saya, bagaimana sekarang bisa di rumah sakit."
"Masalah itu bisa anda tanyakan langsung pada istri Anda."
"Baik sus saya akan segera ke ruang sakit sekarang."
Ken segera meminta Anton untuk mengambil alih acara dan Ken buru-buru kerumah sakit menemui istrinya yang kembali kritis seperti yang pernah di sampaikan dokter Sandi sebelum Karin koma.
"Tunggu aku sayang, aku akan segera datang." Ken sesegera mungkin untuk bisa sampai kerumah sakit.
Setelah sampai Ken buru-buru menanyakan keberadaan Karin dan ternyata Karin berada di ruang UGD, karena kondisinya tiba-tiba turun drastis.
Dokter yang baru saja keluar dari ruang UGD langsung di cecar banyak pertanyaan oleh Ken.
"Sabar pak, kondisi istri bapak tiba-tiba saja drop dan kami harus segera menangani Operasi agar anak bapak bisa di selamatkan."
"Tapi dok, sebelum-sebelum istri saya baik-baik saja dan gak pernah mengeluh apa-apa."
"Mungkin istri bapak tidak ingin menceritakan keluhannya dengan bapak, kondisi yang sebenarnya istri bapak sangat buruk jika tidak di operasi secepatnya keduanya bisa tak tertolong."
"Lakukan apa saja dok, selamat kan keduanya dok"
"Baik pak, setelah mendapatkan persetujuan bapak istri bapak akan segera menjalani operasi." Dokter pun pergi meninggalkan Ken.
__ADS_1
Ken melihat Karin dari luar kaca.
"Kenapa kamu gak pernah cerita, padaku bahwa kamu menderita selama ini, tak pernah kau tampakkan rasa sakitmu padaku, aku ini suamimu seharusnya kamu bisa mengatakannya padaku, Kamu sedang mengandung anakku darah dagingku, kita sekarang adalah satu bisa saling merasakan sakit itu sama-sama. Semoga kamu kuat sayang Seperti kamu kuat menahan rasa sakit selama ber bersamaku." Ken pun menangis melihat kondisi Karin yang kritis mendadak.