
Rara duduk di samping Joy, dengan pandangan matanya ke arah lain.
"Ra, bolehkah aku bertanya sesuatu padamu?" tanya Joy pada Rara.
"Tanya sesuatu ya? gimana ya. sepertinya tak ada yang perlu di tanyakan tentang Rara dan memang gak ada yang penting."
"Tapi ada sesuatu yang membuatku penasaran dan rasa penasaran ku tak akan hilang sebelum aku bertanya langsung padamu."
"Memang apa yang ingin bapak tanyakan, jika sekiranya aku bisa jawab akan aku jawab dan jika tidak, maaf tak akan aku jawab." saut Rara dan Joy pun langsung menanyakan sesuatu yang ada di benaknya.
"Aku hanya ingin tahu, di mana ayahmu? kenapa kamu dan ibumu harus banting tulang untuk bertahan hidup, seharusnya ini adalah tanggung jawab ayahmu sebagai kepala keluarga." tanya Joy yang mencoba mencari kebenaran tentang mama Karin Dan juga adiknya Rara. Namun pertanyaan Joy membuat Rara terdiam membisu dan memilih bangkit berdiri dan beranjak pergi masuk ke dalam rumah, namun tangan Rara diraih Joy hingga Rara hanya dapat bergerak beberapa langkah saja sebelum terhenti.
"Lepaskan aku pak, aku ingin masuk ke dalam rumah." Rara mencoba menarik tangannya yang masih di pegang Joy dan berusaha melepaskannya.
"Maafkan aku Ra, jika pertanyanku salah. tapi aku benar-benar tak bermaksud membuatmu marah. jika kamu gak mau menjawab tak masalah tapi jangan marah padaku.
"Bapak di sini baru dua hari, dan bapak sudah mau menggali tentang keluargaku." Joy pun melepaskan tangan Rara dan membiarkan Rara masuk ke dalam rumah.
__ADS_1
Joy kembali duduk di anak tangga, dengan raut wajah sedih. Tak ada niatan dirinya untuk membuat adiknya marah, namun rasa penasarannya membuatnya tak mampu menahan diri untuk menanyakan langsung pada Rara.
"Maafin kakak Ra, bukan maksud kakak membuatmu sedih. Aku hanya ingin tahu. apa yang sebenarnya terjadi, agar aku bisa mencari jalan terbaik untuk mempertemukan kalian dengan papa. Tak mungkin aku bertanya langsung pada mama Karin, aku takut dengan pertanyaan ku ini akan membuat kesehatan mama makin memburuk." gumam Joy dalam diamnya. Rara yang masih berdiri di pintu memperhatikan Joy yang masih duduk seorang diri di anak tangga. Membuat Rara merasa bersalah atas ucapannya yang terlalu kasar.
"Maafkan aku pak, jika ucapanku tadi terlalu kasar." Rara menghampiri Joy dan kembali duduk di samping Joy.
"Gak papa, aku yang salah."
Rara menarik nafas panjang dan ia hembuskan dengan kasar. "Ayah... aku tak tahu dan tak pernah tahu bagaimana wajah ayahku. Sejak lahir aku tinggal hanya berdua dengan ibu. Setiap aku tanya tentang ayah ibu hanya bilang ayah sudah pergi. Dan memintaku untuk melupakan ayah. Berkali-kali aku bertanya namun jawaban selalu sama, sampai aku di hina teman-temanku mereka bilang aku anak haram sampai aku merasa malu dan memutuskan untuk berhenti sekolah karena perlakuan mereka padaku yang membuatku malu." Rara terus menceritakan kehidupannya selama ini bersama ibunya pada Joy hingga menitikkan air mata.
Joy pun dengan spontan menghapus air mata yang membasahi pipi Rara." Apa kamu membenci ayahmu?" Rara pun menggelengkan kepala, "aku tak pernah membenci ayah, ibu selalu bilang padaku untuk tidak membencinya, ibu juga bilang, semua adalah salah ibu yang membuat ayah pergi. Sampai sekarang di setiap doaku aku selalu berdoa agar bisa di pertemuan dengan ayah walaupun hanya dalam mimpi, itu sudah membuatku merasa bahagia. Aku akan bilang pada ayah kalau aku baik-baik saja bersama ibu disini walaupun tanpa ayah."
ππππ
Ken, duduk seorang diri di balkon di mana tempat Ken dan Karin sering menghabiskan waktu bersantai berdua.
Bayangan Karin masih saja ada di setiap Ken merindukannya. Tawanya, perhatiannya dan juga amarahnya yang selalu membuat Ken tak bisa melupakan sosok istinya yang selama ini mendampinginya.
__ADS_1
"Sudah bertahun-tahun, kau pergi meninggalkan aku. Tapi kenapa rasanya dirimu masih ada di dekat ku. Mungkin hati ini belum bisa melepaskan kepergian mu. Sayang maafkan aku sebagai seorang suami gagal melindungi mu. Aku harap kamu damai di tempat barumu dan tunggu aku datang menemui mu." Ken berbicara seorang diri.
Arthur memerintahkan bawahannya untuk menyiapkan semua yang di minta Joy pada Arthur. alangkah terkejutnya Arthur saat membaca semua barang yang di pesan Joy ada salah satu barang yang aneh. Di dalam pesan Joy minta di kirimkan sebuah kebaya warna biru.
"Apa gak salah kak Joy minta ini. Memangnya kebaya ini untuk siapa?" Arthur pun berusaha menghubungi Joy dan menanyakan salah satu barang yang dia pinta untuk memastikan kebenarannya, namun sayang berkali-kali di hubungi namun tak bisa.
"Kak Joy ini disana sedang bekerja atau sedang mencari calon istri? atau jangan-jangan malah kak Joy mau menikah dengan gadis desa. Arthur pun mulai menerka-nerka tentang Joy.
πππππ
Malam itu Joy tak dapat tidur, ia selalu terngiang-ngiang dengan ucapan Rara yang membuatnya terus berfikir keras dengan apa yang terjadi sebenarnya. Dan kenyataan apa yang tak ia ketahui. Sebab saat kejadian penembakan Joy dan Arthur sudah pergi terlebih dahulu hingga tak mengetahui secara jelas apa yang sebenarnya terjadi.
"Apa yang harus aku lakukan, aku tak tahu sebenarnya yang terjadi dan kenapa mama tak mau kembali menemui papa, mama seharusnya berusaha mencari jalan keluar untuk bisa kembali bersama papa bukan malah menjauhi papa. Atau ada sesuatu yang terjadi setelah mama di buang di di desa ini. Sungguh malang nasibmu ma, walaupun aku ini bukan anak kandungmu tapi aku sayang dan sudah menganggap mu lebih dari ibu kandungku sendiri." Belum sempat mata Joy terpejam, ia mendengar Karin terus saja batuk di dapur dan sepertinya itu sangat menyiksanya. Joy pun segera bergegas menghampiri Karin di dapur dan di dapatnya Karin sedang duduk di depan tungku kayu dan berusaha menghidupkan api untuk memasak.
"Bu... apa yang ibu lakukan dini hari seperti ini? seharusnya ibu istirahat ibu kan masih sakit." panggil Joy dan berjalan menghampiri Karin.
"Nak Jo, apa yang kamu lakukan di sini. istirahat hari masih gelap. Ibu mau menanak nasi untuk sarapan." ucap Karin sambil terus berusaha menghidupkan api."
__ADS_1
"Aku tak bisa tidur, bolehkah aku membantu ibu menghidupkan apinya, ibu lebih baik kerjakan yang lainnya kasihan ibu jika terlalu banyak menghirup asap, batuk ibu akan semakin parah." Joy mengambil alih posisi Karin, walaupun Joy sendiri belum pernah melakukan pekerjaan itu. Karin hanya tersenyum saat Joy berusaha keras menghidupkan apinya karena kayu yang sedikit basah hingga banyak arang yang menempel di wajah Joy.