Bukan Salahku Menjadi Pelakor

Bukan Salahku Menjadi Pelakor
season 2 : dia mirip


__ADS_3

Di depan sebuah raungan tempat Karin di rawat. Rara duduk seorang diri sedangkan Joy pergi entah kemana. Rara menunggu Karin dan berharap ada keajaiban yang bisa segera menyembuhkan ibunya. Langkah kaki para perawat dan dokter serta orang-orang yang datang berkunjung untuk menjenguk keluarganya menjadi irama di setiap waktu.


Tak lama Joy kembali dan membawa kantong plastik di tangannya dan kembali menghampiri Rara.


"Ra... ini ada makan buat kamu, ayo makan dulu. Kamu belum makan dari tadi. Nanti kamu bisa sakit." Joy memberikan nasi bungkus pada Rara. Tak ada penolakan lagi dari Rara baginya Joy adalah satu-satunya orang yang ada di dekatnya yang mau menemani dan menguatkannya.


"Terimakasih banyak pak, atas semua perhatian dan pertolongan bapak. Rara gak tau lagi jika tak ada bapak di sini untuk menolong Rara." Joy hanya tersenyum.


"Ra.. jika kamu perlu apa-apa jangan sungkan bilang padaku. Dan iya panggil aku kakak dan bukan bapak kerena aku bukan bapakmu." ucap Joy sambil sedikit bercanda memecah kesedihan.


"kakak... Rara harus panggil bapak dengan panggilan kakak?" tanya Rara balik.


"Iya, karena kamu itu adik ku."


"Maksudnya???"


"Maksudku... ah bukan apa-apa, aku hanya terasa lebih tua jika di panggil bapak." Joy yang sempat keceplosan segera mengalihkan pembicaraan.


"Begitu ya kak."


"Sudahlah sekarang makan dulu, nanti keburu dingin nasinya." Rara pun segera menyantap makanan pemberian Joy. dan Joy pun memandangi Rara yang masih begitu polosnya.


"Aku janji Ra, akan menjaga dan melindungi mu. Dan aku juga akan berusaha menyatukan mama dan papa, bagaimanapun caranya tapi tidak sekarang, aku tidak mau pertemuan yang seharusnya membawa kebahagiaan malah menjadi pertemuan yang menyedihkan. Maaf bukan maksudku untuk mengulur-ulur waktu. Tapi ini semua demi kebaikan kita semua." gumam Joy dalam hati.


πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚


Ken yang baru kembali dari makam Karin, sedikit shok mendengar ucapan Sasa, hatinya masih tak percaya dengan ucapan Sasa, namun dari tatapan Sasa sepertinya ada kejujuran dari Sasa.

__ADS_1


Ken mengambil foto Karin yang ada di atas nakas. "Andai kamu masih ada di sini, aku tak akan menjadi seperti ini. Tolong kuatkan aku, jangan biarkan hatiku terombang-ambing tak menentu, Bangkitkan aku dari delema ini, berikanlah aku secercah harapan. Jika kamu benar-benar masih hidup, dimana kamu sekarang? kenapa selama bertahun-tahun kamu tak kembali? aku sangat merindukanmu." Ken pun memeluk foto Karin dalam dekapannya. Dan kembali mengenang memori masa lalu, dimana kebersamaan yang indah yang di lalui bersama istrinya.


πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚


Saat sedang sibuk bekerja, tiba-tiba bayangan wajah Rara muncul di benak Arthur.


"Apa yang aku pikirkan, kenapa aku bisa-bisanya memikirkan wanita itu." Arthur pun kembali fokus pada pekerjaannya namun kali ini tak bisa, ia masih saja gagal memfokuskan diri.


Arthur mengambil foto bundanya yang selalu menemaninya di meja kerja.


"Bunda, Arthur rindu bunda. Andai bunda masih ada Arthur pasti akan banyak cerita pada bunda. Bunda hari ini Arthur melihat gadis yang sangat mirip dengan bunda. Andai bunda masih ada dan adik Arthur juga masih ada mungkin dia sudah sebesar dirinya." Arthur mengusap foto bundanya dan kemudian menciumnya.


πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚


Sore hari Arthur pulang lebih awal dan tidak mengambil lembur. Di saat bersamaan Joy dan Rara pun juga kembali ke rumah.


"Dia memang benar-benar mirip bunda." gumam Arthur. Lalu menyusul masuk ke dalam.


Rara yang masih canggung tinggal bersama keluarga Joy. Tak terlalu berani melakukan apa-apa.


"Kak, di mana om kok gak kelihatan." pertanyaan Rara pada Joy.


"Mungkin papa ada di kamarnya atau bisa juga di halaman belakang. Ada apa mamangnya?" Rara hanya menggelengkan kepalanya. Saat ingin berbalik tanpa sengaja Rara bertabrakan dengan Arthur.


"Aaauuuhhh." kata yang terucap keduanya, " Maaf... kak saya gak sengaja." ucap Rara, Arthur malah mengerutkan keningnya mendengar panggilan kakak dari mulut Rara.


Arthur tak menjawab permintaan maaf Rara dan memilih untuk kembali ke kamar.

__ADS_1


"Kak Joy malam ini kakak harus menemani Arthur minum, Arthur juga ingin bertanya sesuatu yang sangat penting." ucap Arthur sambil berlalu.


Joy pun pergi ke kamarnya begitu juga dengan Rara. Saat di kamar Rara melihat bayangan Ken dari pintu balkon yang sedang duduk seorang diri.


"Apa yang di lakukan om di sana? kenapa kelihatannya begitu sedih." gumam Rara lalu membuka pintu balkon dan berdiri di balkon.


Ken yang sadar sedang di pandangi seseorang pun memalingkan wajahnya menatap kembali orang yang berani menatapnya.


"Karin... " ucap Ken pelan. kemudian ia pun mengusap matanya dan mematikannya lagi, dan yang ia lihat tetap sama namun kali ini ada yang berbeda.


"Kenapa gadis itu selalu mengingatkan ku akan dirimu. Apakah dirimu menjelma dalam gadis itu." gumam Ken dan Rara hanya tersenyum melihat Ken yang terus memperhatikannya.


πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚


Pesan masuk di ponsel Joy, segara saja Joy membukanya sambil merebahkan tubuhnya di kasur.


"Halo beb, Minggu depan aku kembali ke Indonesia, jangan lupa jemput aku ya. Oya kenapa aku hubungi gak ada satupun panggilan ku yang di angkat, kamu masih marah ya?" pesan yang di kirim oleh Nabila pacar Joy yaitu anak dari Rafael adik kandung Ken.


Ken membanting ponselnya di sebelahnya, Bukannya membalas pesan Nabila Joy malah membayangkan wajah Nabila di sela istirahatnya.


"Apa-apaan aku ini, kenapa aku malah kepikiran Rara. Ingat Joy Rara itu adikmu dan kamu sudah punya Nabila, yang sudah kamu pacari selama satu tahun." gejolak dalam hati joy


Joy pun membalas pesan Nabila, untuk mengusir pikirannya pada Rara.


"Ya sayang, akan ku tunggu kedatanganmu. Papa pasti juga senang mendengar kamu datang kemari. Gimana kabar paman Rafael?" balas dari Joy. Ia pun segera tidur setelah membalas pesan Nabila.


Rara yang kembali ke kamar mengambil foto ibunya yang ada di tas dan memandangi sambil mengusap-usapnya.

__ADS_1


"Ibu... cepat sembuh, biar kita bisa cepat pulang. Rara sudah kangen dengar suara ibu yang selalu marah-marah, Rara juga kangen dengan masakan ibu yang sederhana, Rara kangen juga dengan pelukan ibu. Bu maafin Rara, gara-gara Rara ibu jadi begini. Rara janji Rara gak akan ngulangi kesalahan Rara lagi, Rara juga gak akan tanya tentang ayah maupun kakak Rara lagi, bagi Rara hanya ibu keluarga Rara yang Rara punya. cepat sembuh ya Bu." Rara pun mendekap foto ibunya sambil menangis.


__ADS_2