Bukan Salahku Menjadi Pelakor

Bukan Salahku Menjadi Pelakor
S1-15


__ADS_3

Setelah kejadian itu, Karin dan Ken tak banyak bicara hanya sesekali jika penting, mami Vika dan Rafael yang sering kali memperhatikan tingkah keduanya yang seperti orang asing.


Saat Ken sedang santai di taman belakang mama Vika datang menghampiri, memastikan anaknya baik-baik saja.


"Ken, sebenarnya ada apa, kenapa beberapa hari ini, kamu terlihat murung dan jarang bicara, jika ada masalah coba ceritakan sama mami, siapa tahu mami bisa bantu."


"Gak ada mam, Ken cuma lagi banyak masalah kantor saja, mami gak usah cemaskan Ken, dan sudah bisa mengambil keputusan sendiri."


"Baguslah kalau tidak ada apa-apa, mama cuma kuatir aja."


Sedangkan Karin sendiri sedang duduk di balkon memperhatikan Ken yang sedang ngobrol dengan maminya.


Tak lama Rafael juga muncul di balkonnya dan memperhatikan Karin.


"Karin, ada masalah apa kamu sama Abang, aku perhatikan beberapa hari ini kamu terlihat jarang bicara."


Karin menatap Rafael. "Aku gak papa kak, gak usah kuatir."


"Bagus deh kalau kamu baik-baik saja. Oya lusa aku akan kembali ke Australia buat wisuda. setelah itu aku akan menetap disini bantuin perusahaan Abang."


"Selamat ya kak, sebentar lagi Kakak sudah dapat gelar."


Karin pun kembali ke kamar dan menghabiskan waktu kesendiriannya.


Merebahkan diri membolak-balikan tubuhnya, melupakan kejadian beberapa hari yang lalu namun tak dapat hilang begitu saja.


Tak lama kemudian suara ketukan pintu terdengar dikamar Karin.


"Karin aku ingin bicara sebentar, tolong buka pintunya." ucapan Ken dibalik pintu.


Karin pun langsung membukakan pintu, dan mempersilakan Ken masuk.


"Duduklah di sini, aku ingin bicara sebentar." Karin pun menuruti dan duduk di samping Ken.


"Tuan ingin berbicara apa?"


"Bersiaplah dan besok pulanglah ke kampung halaman mu, karena aku dan mami akan ke Australia menghadiri wisuda Rafael, jika aku sudah kembali, aku akan menjemputmu. Aku janji pasti menjemputmu dan tinggal lagi bersamaku."


Mendengar ucapan Ken, Karin menjadi bingung apakah harus bahagia atau sedih. rasa takut pun mulai menyerang, takut ini pertanda Ken membuangnya.


"Baiklah, jika itu keputusan tuan." Karin hanya menunduk tak berani menatap Kenzo.


Ken meraih pundak karin dan mendekapnya, "jangan kuatir, ini hanya sementara, aku yakin setelah kamu pulang nanti, pikiran mu akan jernih lagi.Dan berjanjilah kamu akan ikut kembali jika aku menjemputmu."

__ADS_1


"Tuan, apakah tuan benar-benar akan kembali, tuan tidak akan mencampakkan Karin begitu saja kan." Karin menyembunyikan wajahnya di dada Ken menutupi rasa sedihnya.


"Aku janji."


_____


Keesokan harinya pun tiba, Karin sudah bersiap-siap dan Ken sudah menunggunya.


Sebelum pergi, Karin pamit dengan Mami Vika dan Rafael.


"Mam, karin pamit pulang dulu, terimakasih sudah mau menerima Karin disini." Karin memeluk mami Vika dengan erat.


"Iya sayang, mami pasti merindukan mu, hati-hati di jalan ya sayang."


Rafael pun langsung memeluk Karin.


"Jangan sedih, kita pasti akan ketemu lagi, jaga dirimu baik-baik ya, aku pasti akan merindukan mu.


"Makasih ya kak, sudah mau menerima Karin di sini, mudah-mudahan kita bisa bertemu kembali."


Setelah pamit Ken pun mengantarkan Karin ke terminal, selama diperjalanan tak ada pembicaraan yang terjadi hanya tatapan yang sering kali dilemparkan, tak mampu mengungkapkan kata perpisahan.


Sesaat sebelum Karin pergi Ken menggenggam tangan karin, seperti tak ingin melepaskan Karin. Ken melingkarkan sebuah cincin di jari Karin.


"Tuan sudah waktunya, Karin harus pergi, Karin pasti akan menunggu tuan."


Ken pun memeluk karin, sebelum Karin naik bus, sebelum pergi Karin tersenyum pada Ken sebagai, pengganti ucapan perpisahan.


Ken menatap kepergian Karin, hingga bus yang di tumpangi karin pergi menjauh. Begitu juga dengan Karin, tak terasa air mata menetes di pipi Karin. "aku akan menunggumu tuan, sampai kapan pun itu."


Selama diperjalanan Karin mengingat semua kenangan bersama Ken, sampai terlelap dalam tidurnya.


Ken sendiri langsung pergi menemui pengacaranya untuk mengurus surat perceraian Ken dengan Sasa.


Ken sudah memutuskan untuk berpisah dengan Sasa, setelah mendapatkan informasi tentang perselingkuhan Sasa dengan managernya Dan sudah mendapatkan dukungan mami Vika.


___


Butuh waktu 12 jam untuk sampai ke kampung dan berganti kendaraan sebanyak dua kali. Akhirnya karin sampai di gerbang selamat datang Medang Sari, desa yang memiliki tradisi yang sangat kuat. disana sudah ada pangkalan ojek yang siap mengantar sampai tujuan.


Karin menghampiri salah satu temannya yang bekerja menjadi tukang ojek.


"Kang Bejo, bisa antarkan Karin kerumah ibu gak." panggil Karin pada salah satu ojek yang dia kenal.

__ADS_1


Bejo yang baru menyadari saat Karin datang, melongo melihat wanita yang sedang memanggilnya. "Ke rumah ibu siapa neng? ngomong-ngomong neng lain orang sini ya."


"Ya ampun Kang Bejo, masa gak ingat sama Karin. Ini Karina kang, anaknya mbok asih, masa baru merantau sebentar sudah gak ngenalin karin."


"Karin anaknya mbok asih?" Bejo memutari tubuh Karin yang sangat berbeda." Ya ampun Karin, sekarang kamu cantik banget, pasti kamu sukses merantau di kota."


"Bisa ngantarin Karin gak nie, Karin udah capek banget pengen cepat istirahat dirumah."


"Ya jadi, ayo kang Bejo antar." Bejo pun membonceng Karin, dan segera mengantarkan ke rumahnya.


"Mbok asih.... mbok, perawan mbok sudah datang." Teriak Bejo walaupun belum sampai depan rumah.


"Kang jangan teriak-triak kenapa, malu kalau kedengaran tetangga." Karin mencubit pinggang Bejo.


"Gak papa to Karin, la memang nyatanya kamu datang, aku juga seneng banget kamu pulang." Bejo pun mengantar Karin sampai depan rumah.


Karin langsung memanggil ibunya, yang sangat dirindukannya.


"Ibu....ibu....." panggil Karin. Dan Bu asih pun langsung keluar dari dalam rumah bersama Adit dan Bima.


"Mbak Karin, teriak adik dan Bima bersamaan dan langsung memeluk Karin.


"Ya Allah nak, kamu sudah pulang." Bu asih langsung menangis melihat putrinya sudah kembali setelah merantau.


"Iya Bu, Karin pulang, Karin rindu ibu sama ade-ade, gimana keadaan ibu, apa ibu sehat." Karin memeluk ibunya melepaskan kerinduannya.


"Ibu baik nak, kenapa gak ngabarin ibu, kalau mau pulang."


"Maaf Bu, soalnya bos kerja karin pergi keluar negeri jadi Karin suruh cuti dulu."


"Oya, kang Bejo maaf sampai lupa, berapa kang ongkosnya." karin membuka dompetnya dan ingin membayar.


"Gak usah Karin, buat kamu gratis. Tapi bolehkan Bejo main ke rumah Karin?"


"Makasih banyak ya kang, tentu saja boleh, main aja ada oleh-oleh buat kang Bejo. tapi nanti ya, Karin masih capek mau bongkar tas."


"Iya gak papa, kalau gitu Bejo balik ke pangkalan ojek dulu, nanti malam Bejo main."


"Iya kang hati-hati ya kang, terimakasih banyak."


"Ayo Bu masuk, Karin sudah rindu kamar karin. Bima dan Adit bawa tas kakak, jangan cuma minta oleh-oleh tapi gak mau bantu."


"Siappp kak."

__ADS_1


__ADS_2