Bukan Salahku Menjadi Pelakor

Bukan Salahku Menjadi Pelakor
pulang kampung


__ADS_3

12 jam perjalanan sudah di tempuh keluarga Ken untuk sampai ke kampung medang sari.


Hati Karin sangat bahagia, sejak ia sadar dari koma belum pernah bertemu dengan ibu dan adik-adiknya.


Arthur sudah gak sabar ingin bertemu dengan nenek dan pamannya.


"Papa kita kapan sampainya. Arthur sudah capek."


"Sabar sayang sebentar lagi sampai."


Tak lama kemudian mobil berhenti di halaman villa.


"Nah sekarang sudah sampai, ayo kita turun itu paman adit sudah menunggu." ucap ken.


"Lo mas kok Adit ada di villa?" tanya karin yang masih bingung.


"Nanti Mas jelaskan. Ayo sekarang kita turun, ibu juga pasti sudah menunggu."


Karin, Arthur dan Ken pun turun dan di sambut Adit yang berjalan menghampiri.


"Mbak karin gimana kabarnya Adit, Ibu dan Bima rindu banget dengan mbak karin." ucap Adit sambil memeluk Karin.


"Mbak juga kangen sama kamu" Karin pun membalas pelukan Adit.


"Halo ponakan kecil paman. Ternyata ponakan paman sudah besar dan tampan." ucap Adit dan langsung menggendong Arthur masuk ke dalam villa.


"mbah. . . .cucunya sudah datang." Adit membawa Arthur menemui neneknya.


"Eeehhh cucu si mbah sudah datang."


"Arthur cium tangan nenek dengan sopan!" perintah Karin. Dan Arthur pun melakukannya.


Karin pun memeluk ibunya begitu juga dengan ken.


"Ayo nak makan dulu sudah ibu siapkan di meja. Ibu masak banyak dan gak lupa masak makanan kesukaan mu."

__ADS_1


"Makasih bu, Karin sayang banget sama ibu. Oya mana bima bu?" tanya karin.


"Bima masih kuliah."


Mereka pun menikmati makan bersama seluruh anggota keluarga.


Karin nampak lahap menikmati masakan ibunya, yang sudah lama tak pernah memakannya lagi.


Arthur nampak menikmati masakan neneknya yang berbeda dengan yang sering ia makan dirumah.


Setelah selesai makan Ken memilih istirahat dan Arthur di ajak bermain oleh Adit.


Karin menemui ibunya yang tengah duduk di halaman belakang yang nampak asri dan sejuk di temani ikan yang berenang di kolam.


Ibu asih kini semakin tua, kulitnya sudah mulai keriput dan uban rambutnya hampir menggantikan rambut hitamnya.


"Ibu. . ."Panggil karin sambil menyandarkan kepalanya di paha ibunya dan duduk di lantai.


Bu Asih yang paham bahwa anaknya membutuhkan dukungan darinya hanya mengusap pucuk rambutnya sambil menunggu.


"Memangnya kenapa nak, cerita sama ibu. Bagaimanapun ibu ini adalah ibumu yang masih bisa memberimu nasehat."


"Karin. Meminta mas ken mengambil hak asuh atas joy. Karin tahu joy bukan anak kandung mas ken, tapi mas ken pernah merawatnya selama 3 tahun. Karin merasa bersalah seolah- olah karinlah yang menghancurkan kebahagian mereka. Karin ingin mengembalikan kebahagian mereka bu, sebagai penebus rasa bersalah karin pada mereka. Walaupun nantinya joy tahu bahwa mas ken bukan ayah kandungnya setidaknya mereka sudah menghabiskan waktu bersama."


"Dengarkan ibu nduk. Hubungan Ken dan Joy sudah di takdirkan oleh yang kuasa. Jangan pernah menyalahkan diri sendiri. Pahami penyebab hancurnya keluarga mereka itu bukan sepenuhnya salahmu. Nak ken sudah menceritakan semuanya pada ibu tentang masa lalunya. Anggap aja Nak ken dan mantan istrinya memang jodohnya sampai di situ dan cara perpisahannya yang tidak baik sedangkan kamu masuk dalam kehidupan mereka di saat tak tepat. Jadi jangan seolah-olah kamu sebagai pelakor."


"Tapi bu, Apapun alasannya orang tetap menggap karin salah yang sudah hadir di tengah-tengah mereka."


"Sudah nduk. jangan dengarkan omongan orang. Belum tentu rumah tangga mereka benar. Mereka tak tahu yang terjadi padamu dan keluargamu. Mereka tak akan pernah diam sampai mereka menyadari jika sudah terjadi pada mereka. Sekarang berhentilah bersedih. Fokus pada keluargamu dan bahagiakan anak dan suamimu. Jika memang joy dan Ken di takdirkan menjadi keluarga bersamamu maka terimalah joy dengan tulus jangan hiraukan gunjingan orang." Bu Asih menasehati putrinya panjang lebar.


"Makasih bu, buat nasehatnya. Karin akan berusaha menjadi ibu dan istri terbaik. Karin hanya minta doa dari ibu semoga keluarga karin tetap utuh selamanya sampai maut memisahkan."


"Tentu sayang, ibu selalu mendoakan anak-anak ibu semuanya. Ingat pesan ibu jika ada yang masih bilang kamu adalah pelakor jangan ambil hati. pelakor itu sudah ada dari ibu belum lahir, cuma namanya aja yang makin trending. Itu ujian rumah tangga nak. Kalau tidak ada pelakor mungkin tidak ada suami yang memiliki lebih dari satu istri dan tidak ada perceraian itu semua sudah berjalan beriringan."


"Bunda. . . ." Arthur yang baru pulang dari keliling desa bersama Adit dan langsung merangkul ibunya yang masih duduk di lantai

__ADS_1


"Iya sayang. Gimana jalan-jalannya dengan paman suka gak? "


"Suka bun. Tapi bun orang-orang jahat sama Arghur. Masa Arthur di cubit pipinya. lihat ini bun merah pipi Arthur." jelas Arthur dan karin hanya tersenyum.


"Mereka pada gemes sama Arthur yang genteng, imut, putih dan lucu makanya mereka gemes."


"Tapi sakit paman."


"Biar nanti bunda yang bilangin mereka agar gak cubit arthur lagi. Sekarang Arthur mandi sana, badannya sudah bau matahari."


"Gak mau. Paman mau ngajak arthur mandi di sungai kata paman enak mandi di sana."


"Adit. Ponakan kamu ini belum terbiasa udara dingin di sini kok mau di ajak mandi kesungai." tegur bu Asih.


"Ya maaf bu, Soalnya Arthur bawel tanya terus gak ada capeknya. Adit sampai bosan menjawabnya."


"Biar lah bu, namanya juga anak-anak akan selalu penasaran kalau gak di coba."


"Yo wes. ibu ngalah. Sana bawa anakmu mandi di sungai tempat kamu biasa main air. mumpung belum sore nanti keburu dingin."


"Iya bu, nanti kalau mas ken bangun suruh nyusul ya bu. Karin juga rindu menikmati masa kanak-kanak."


Arthur pun bergegas naik ke punggung Adit minta gendong lagi sedangkan karin mengambil peralatan mandi dan pakaian ganti.


Sungai yang di tuju tidak terlalu jauh dari villa dan selalu ramai untuk aktivitas mandi para warga. sungai yang selalu mengalir walaupun musim kemarau dan airnya selalu jernih.


Saat Karin sampai sungai ada beberapa ibu- ibu sedang nyuci.


"Ibu-ibu...udah sore kok masih nyuci." sapa karin


"Eh...karin kapan datang? iya ibu bisanya nyuci sore biar pagi tinggal di jemur sama anak-anak. Maklum kalau pagi kerja." jawab salah satu ibu yang lagi nyuci.


"Nak karin, Gak sombong ya. Masih mau mandi berbaur dengan warga sini. Biasanya kalau sudah kaya, anti mandi di sungai."


"Gak juga bu. Lagian ini kan juga kampung karin dari kecil karin sudah terbiasa mandi di sini. Ya udah bu silahkan di lanjut. saya mau menemani Anda Arthur mandi dulu."

__ADS_1


__ADS_2