
Beberapa hari setelah Ken sadar akan sikapnya pada putranya, Ken mulai belajar membagi waktu antara kerja dan putranya yang masih membutuhkan perhatian.
Ken sadar seharusnya inilah sikap yang harus ia berikan kepada Arthur dari dulu. Ken juga baru menyadari bahwa inilah keinginan Karin Sebelum dia terlelap dalam tidurnya, bisa menghabiskan waktu bersama Arthur mengantikan dirinya yang tak mampu mendampingi.
Pagi itu Arthur datang ke kamar Karin, dan langsung naik ke atas tubuh Karin.
"Bunda cepat bangun, Arthur pengen main sama bunda sama papa." Arthur mencium kening Karin dengan penuh perasaan.
Tiba-tiba Arthur merasakan bajunya terasa ada yang menggegam. Arthur memperhatikan bajunya dan melihat tangan bundanya meremas baju Arthur.
"Bunda... bunda bangun, bunda mau main sama Arthur."ucap Arthur yang belum terlalu paham.
perlahan, Karin membuka matanya dan menatap langit-langit dan kemudian matanya tertuju pada anak kecil yang tengah duduk di sampingnya sambil menyisihkan rambut Karin yang menutupi wajahnya karena Arthur.
"Bunda...." panggil Arthur kembali namun Karin belum bisa merespon.
Arthur turun dari ranjang dan mendatangi pengasuh Arthur dan menarik bajunya.
"Ada apa den?" tanya Susi pengasuh Arthur yang berusia 40 tahun.
"Bibi, bisa hubungi papa, Arthur mau ngomong sama papa sekarang!" pinta Arthur tanpa memberitahu Susi bahwa Karin sudah sadar.
Susi menghubungi Ken beberapa kali namun panggilannya tidak di angkat.
"Maaf den, Sepertinya papa masih sibuk di kantor dan gak bisa di ganggu." jelas Susi.
"Hubungi paman Anton bi, ini penting dan darurat."
"Iya den, coba bibi hubungi pak Anton nya." jawab Susi
"Aden Arthur ini sudah seperti Pria dewasa, tahu hal penting dan darurat segala." gumam Susi sambil mencoba menghubungi Anton.
Susi beberapa kali menghubungi Anton yang juga tidak mengangkat panggilannya, namun Susi tetap berusaha menghubungi Anton kerena merasa kasihan dengan Arthur yang menunggu dan berharap bisa bicara dengan Anton dan papanya.
Setelah beberapa kali menghubungi, Susi pun menyerah. Mungkin mereka masih sibuk dan tak bisa di ganggu.
Sui duduk dan bertumpu pada lutut di lantai agar bisa sejajar dengan Arthur yang masih kecil.
__ADS_1
"Maaf den, Sepertinya papa dan pak Anton masih sibuk di kantor dan tak bisa di ganggu." jelas Susi sambil membujuk Arthur.
belum sempat Arthur bicara, Anton sudah menghubungi balik dan buru-buru Susi mengangkatnya.
"Ada apa mbak?"
"Maaf pak, den Arthur ingin bicara." jelas Susi dan langsung memberikan ponselnya pada Arthur.
"Hallo paman, apa Arthur bisa bicara dengan papa, ini darurat." ucap Arthur sambil membawa ponsel Susi kembali kekamar Susi.
"Maaf sayang, papa masih ada mitting dan gak bisa di ganggu, memangnya apa apa Arthur yang sangat darurat? Bilang sama paman biar nanti paman sampaikan sama papa."
"Bunda paman, bunda sudah bangun. Kata papa kalau bunda bangun harus bilang ke papa." ucap Arthur dan membuat Anton terkejut.
"Apa yang Arthur bilang apa benar, bundanya Arthur sudah bangun?"
"Iya paman, bunda sudah bangun dan sekarang ada di samping Arthur tapi bunda gak mau ngomong sama Arthur."
"Baik sayang, Arthur coba ajak bicara dengan bunda terus sampai papa dan paman pulang dan bunda jangan di tinggal sendiri, bi susi mana Arthur paman mau bicara dengannya."
"Ya sudah, Arthur temani bunda ya, kami akan segera pulang." Anton pun segera mematikan ponselnya dan segera menemui Ken untuk menyampaikan kabar gembira ini.
Saat Ken sedang mendengarkan presentasi dari karyawannya mengenai perkembangan perekonomian perusahaan Anton tiba-tiba saja menghampiri Ken dan membisikkan kabar gembira itu pada Ken.
Seketika Ken langsung, menghentikan rapat untuk dilanjutkan besok, Ken bergegas pergi dari ruangan dan segera pulang bersama Anton.
Ken menghubungi dokter untuk segera datang kerumah dan Melihat perkembangan Karin, sedangkan Ken sendiri tak percaya istrinya sudah sadar.
"Apa kau percaya mukjizat, Anton" tanya Ken tiba-tiba.
"Ya aku percaya, mungkin Karin bisa sadar juga merupakan mukjizat dari yang kuasa dan juga keyakinan Arthur dan bapak bahwa Karin pasti bisa sadar."
"Iya, ini semua tak lepas dari putraku Arthur yang selalu meminta bundanya untuk bangun."
Setelah beberapa waktu akhirnya Ken dan Anton sudah datang juga dokter yang dipanggil sudah datang terlebih dahulu untuk memeriksa Karin.
Di kamar Karin hanya terdiam namun matanya sudah terbuka dan selalu memandang Arthur.
__ADS_1
Dokter memeriksa keadaan Karin, dan sudah bisa mendapatkan hasilnya.
Tak lama Ken sampai kekamar Karin di ikuti Anton.
"Papa...bunda bangun" teriak Arthur saat melihat Ken dan langsung berlari kearah Ken.
Ken langsung menggendong Arthur dan berjalan menghampiri dokter.
"Bagaimana keadaan istri saya dok, apa dia benar-benar sadar?"
"istri bapak, sudah mulai ada perkembangan dan butuh beberapa hari untuk menormalkan anggota tubuh yang terlalu lama tak bergerak, dan tolong ajak terus komunikasi istrinya lidahnya yang kelu bisa berfungsi kembali." jelas dokter.
Ken duduk di samping Karin dan menggegam tangannya.
"Sayang sudah lima tahun berlalu kamu terbaring di ranjang ini, mas ingin kamu segera bangun dan menikmati hari-hari yang telah jipang begitu saja, lihatlah putra kita sudah besar dia selalu merindukan kamu untuk bisa bermain bersama denganmu." Ken menitikkan air mata yang sudah tidak bisa di bendung lagi begitu juga Karin walaupun belum bisa bicara tapi dia sudah mengerti dengan yang Ken ucapkan. Karin pun meneteskan air matanya hingga membasahi pipi.
Seorang suami yang sudah lima tahun menunggu istrinya dengan sabar dan tak ada niatan mencari pengganti, kini Ken bisa bernafas lega penantiannya tak sia-sia. Karin Kembali dalam hidupnya dan juga putranya.
Anton dan Susi pun ikut sedih dan juga bahagia melihat pasangan suami-istri yang saling menatap.
Arthur memeluk tubuh Karin dan merebahkan tubuhnya di samping Karin.
"Bunda besok kita main ya bunda, besok Arthur lihatkan ke bunda kalau Arthur punya mainan banyak sekali di kamar, papa selalu belikan mainan kesukaan Arthur tapi papa gak mau nemanin main Arthur, kalau bunda sudah bangun besok kita mainnya seharian ya Bun, Arthur juga minta sama papa buat nemanin Arthur juga" ucap Arthur yang begitu menginginkan bermain bersama kedua orangtuanya.
"Iya sayang, nanti saat bunda sudah benar-benar sehat papa akan meluangkan waktu yang banyak untuk bermain bersama Kalian setiap saat." Ken mengecup kening Arthur dan juga Karin.
Anton keluar kamar mengantarkan dokter begitu juga dengan Susi yang lebih memilih keluar.
Kini di kamar nya tersisa keluarga kecil yang sedang melepas rindu.
terimakasih sudah mampir jangan lupa tinggalkan jejak πβ€οΈβπ§ΏβοΈ di tunggu.
"Setiap jejak kalian sungguh berarti buat saya."
πππ
Mohon maaf jika saya kurang bisa update atau tidak update setiap hari, karena saya sedang jd bumil kadang-kadang suka gak fokus mengumpulkan ide. Harap yang setia membaca karya saya tidak kecewa dan masih mau setia menunggu dan tetap meninggalkan jejak πππ
__ADS_1