
Semakin hari kesehatan Karin makin membaik dan dokter pun sudah mengizinkan Karin untuk di rawat di rumah.
Dibantu Arthur dan Ken untuk mempersiapkan kepulangannya. Dengan hati-hati Ken membimbing duduk di kursi roda, dan membawa Karin ke kamar mandi untuk mengganti pakaian baru yang sudah di bawakan Arthur. Sedangkan Arthur membersihkan barang-barang yang ada dikamar.
Ken pun membantu Karin mengganti pakaiannya, dengan sangat hati-hati.
"Mas. . .aku gak sabar ingin pulang."
"Sebentar lagi kita akan pulang, semua milikmu di rumah masih utuh dan tak ada satupun yang berpindah dari tempatnya." jawab Ken sambil merapikan baju istrinya.
"Sudah hampir sembilan belas tahun aku tak kembali, menjalani hidup dalam pengasingan, harapanku hampir pupus saat tak ada jalan untuk bisa menemuimu lagi mas, tapi saat ini aku sangat bahagia masih bisa melihat wajah mas lagi walaupun sekarang kita sama-sama tak lagi muda.
"Bunda, papa... sudah selesai belum, jangan lama-lama di dalam kita harus segera pulang." panggil Arthur sambil mengetuk pintu yang sedari tadi Karin dan Ken belum keluar dari kamar mandi.
"Kamu dengar putramu yang satu ini tak bisa memberi kita waktu sebentar apa untuk saling berbincang."
"Wajar kalau Arthur mengetuk, ini kamar mandi bukan taman untuk bernostalgia." saut Karin. Ken pun keluar dengan Karin yang masih duduk di kursi roda.
πππππ
Di rumah Joy dan Rara sibuk mempersiapkan kejutan untuk kedatangan Karin yang bertepatan dengan hari ulang tahunnya. Joy pun sudah mengabari Adit dan juga Bima adik kandung Karin.
Bukannya sibuk mempersiapkan segala sesuatu Mereka malah sibuk dengan berdebat tentang warna favorit Karin.
"Ibu itu suka warna hijau, kenapa hiasan kuenya warna merah." protes Rara.
"Siapa bilang mama suka warna hijau, mama itu suka warna merah, dari dulu mama sering sekali memakai barang dengan warna merah bahkan suka dengan mawar merah."
__ADS_1
"Itu kan dulu, kalau sekarang mama suka warna hijau, Rara kan yang selalu ada di samping ibu, jadi Rara tahu yang ibu suka, memangnya lelaki tahunya apa."
"Masa iya, warna favorit bisa berubah, setahu aku, mama pernah bilang kalau suka merah." ucap Joy sambil menggaruk kepala bingung.
"Mama kalian, suka keduanya, merah dan hijau. Daripada berdebat lebih baik, kalian padukan dua warna itu." ucap seorang laki-laki yang baru masuk ke dalam rumah dan langsung menuju dapur. Dia Adit adik kandung Karin bersama istrinya.
"Om Adit, sudah datang." ucap Joy lalu menghampiri dan memeluknya." Apa kabar om? sudah lama om gak pernah main kesini."
"Kabar om baik, maaf om sibuk jadi belum ada waktu berkunjung ke sini, tapi mendengar kabar mbak Karin, om pun segera kemari."
"Ra... kemari..."panggil Joy dan Rara pun menghampiri.
"Ini om Adit dan istrinya Tante Dinda, mereka Adik mama. Om ini Rara adik bungsu Joy dan Arthur." Rara pun menjabat tangan Adit dan berpelukan dengan Dinda.
"Kamu cantik sekali Ra, sama seperti mamamu." puji Dinda.
Tak lama Bima dan istrinya pun datang begitu juga dengan Rafael dan istrinya serta Nabila.
"Kejutan..." ucap Nabila yang menghampiri Joy kalau memeluknya tiba-tiba." Aku merindukanmu sayang, kenapa kamu tak menjemput kedatanganku." protes Nabila, Rara yang melihat Joy berpelukan dengan wanita lain, hatinya sakit bahkan ingin menangis namun sekuatnya Rara mencoba tak menunjukkan perasaannya di hadapan banyak orang.
"Maaf, aku sangat sibuk, sampai lupa akan janjiku."
"Nabila, kenalin ini Rara adik ku dan Ra ini Nabila." Nabila pun mengulurkan tangannya dan Rara pun menjabatnya.
"Salam kenal calon adik ipar, aku Nabila calon istri kakakmu." ucap Nabila.
"Apa calon istri, jadi selama ini kak Joy sudah punya tunangan, kenapa dia tak cerita dari awal. Apa yang harus aku lakukan, sanggupkah aku menutup kembali hatiku yang sudah mulai terbuka. Ibu tolong Rara." gumam Rara dalam senyuman duka
__ADS_1
Semua keluarga sudah berkumpul tinggal menunggu kedatangan Karin.
Tak lama, Sebuah mobil masuk ke halaman rumah dan itu Karin bersama Ken dan Arthur.
"Mas, kenapa nampak sepi, apa mas sekarang sudah tak mempekerjakan pembantu?" tanya Karin yang merasa rumahnya sangat sepi bahkan tak ada aktivitas sama sekali.
"Masih ada, mungkin mereka sibuk di dalam rumah. Selamat datang nyonya Kenzo, rumah ini berserta isinya sudah menunggu kembali pemiliknya, jangan pergi lagi, jangan tinggalkan aku sendiri lagi untuk yang kesekian kalinya."
"Mas... ingat, kita ini sudah tak lagi muda, gak perlu kata-kata romantis atau apa itu, Karin janji akan selalu bersama dengan mas sekarang dan selamanya, puas. Kalau begitu sekarang antar istrimu ini masuk dalam rumah."
"Siap bos..." Ken pun tersenyum bahagia dihadapan Karin begitu juga dengan Karin.
"Terimakasih Tuhan, masih memberikan ku kesempatan kedua untuk bersatu kembali dengan istriku, jangan lagi kau ambil apa yang telah kau kembalikan. Biarkan aku membahagiakan dia di sisa hidup yang masih tersisa ini, sebelum ajal benar-benar memisahkan kita berdua." gumam Ken sambil berjalan mendorong Karin yang duduk di kursi roda.
Saat sampai di ambang pintu, kejutan pun datang semua keluarga datang menghampiri menyanyikan lagu happy birthday dan ucapan selamat datang pun terpampang di ruangan.
Kejutan yang membuat Karin terharu, tak menyangka kedatangannya di sambut keluarga besar.
Rara pun menghampiri Karin dan memeluknya." Ibu... selamat ulang tahun" ucap Karin disertai air mata. Ia tak kuasa menahan air mata bahagia dan juga patah hati. Walau bagaimanapun Rara masihlah gadis labil.
"Ada apa sayang, kenapa kamu menangis?" tanya Karin sambil menghapus air mata Rara. Rara hanya menggelengkan kepalanya.
"Jangan buang air matamu, untuk hal yang tidak seharusnya kamu tangisi. Ibu gak mau melihat putri ibu, sedih dan terluka." Belum selesai berbicara dengan Rara. Dinda dan Adit datang menghampiri.
"Mbak Karin, maafin Adit. Adit gak bisa menepati janji Adit, Adit terlanjur sayang dengan Dinda." Adit bersimpuh depan Karin begitu juga dengan Dinda.
"Kak, maafin Dinda dan Abang reval. gara-gara kami kakak seperti ini dan harus berpisah dengan suami kakak, Dinda mohon jangan pisahkan aku dengan mas Adit, kami saling cinta kak."
__ADS_1
"Adit, Dinda berdirilah, tak sepantasnya kalian, bersimpuh di depanku. Sudahlah, semua adalah masa lalu, atap saja ini adalah ujian dan juga takdir. Aku harap kalian bisa hidup bahagia." Adit dan Dinda pun memeluk Karin, merasa bahagia, rasa bersalah yang menghampiri mereka punah sudah setelah mendapat maaf dari Karin. Semua orang yang ada pun ikut bahagia