
"Apa yang kamu tangiskan sayang? sampai seperti itu? tanya Ken dengan sedikit mengkerutkan dahinya.
"Mas jahat, sudah Karin katakan jangan potong rambut Karin, mahkota Karin itu sangat berharga buat Karin. butuh berkarung-karung beras untuk memanjangkannya."
"Mana buktinya kalau mas memotong rambutmu, coba di periksa. Mas cuma bercanda sayang."
Tangis Karin pun terhenti dan mulai meraba-raba rambutnya dan memperhatikannya di cermin.
"Mas, benar-benar gak memotongnya. " Karin terus meraba rambutnya tak percaya.
Ken hanya tersenyum melihat Karin yang heboh dengan rambutnya yang terurai panjang.
Ken kembali memeluk Karin dari belakang. Dan berbisik di telinga Karin dengan lembut.
"Apa kamu tak percaya dengan suamimu ini yang sudah hampir 6 tahun berada di sisimu, yang selalu ada dia saat kamu membutuhkan mas." Bisikkan Ken membuat Karin merinding.
"Iya Karin selalu percaya sama mas, karena mas adalah suami Karin yang paling Karin cintai. Sampai kapanpun mas selalu ada di hati Karin."
_______
Dua Minggu sudah mereka berdua menghabiskan waktu bersama, dan berusaha agar segera mendapatkan momongan kembali namun sepertinya belum ada tanda-tanda yang menunjukkan Karin hamil.
Ken mulai tak sabar dan selalu bertanya pada Karin tentang tanda-tanda kehamilan namun jawabannya selalu mengecewakan.
"Apa kita harus lebih ekstra membuatnya. Kenapa sampai sekarang belum ada tanda-tanda." ucap Ken di sela sarapannya.
"Sabar lah mas, mungkin kita harus lebih bersabar, semuanya itu butuh waktu dan proses. Lagian kata dokter Karin dan mas tak ada masalah jadi tinggal sabar dan berusaha." Karin mencoba membuat Ken untuk sedikit lebih sabar.
"Sepertinya memang begitu, tapi jika selama sebulan ini kamu belum juga hamil, mas akan membawamu ke dokter yang benar-benar ahli dalam masalah ini, jika pilihannya dengan melakukan bayi tabung mas akan lakukan."
__ADS_1
"Terserah mas saja, Karin gak tau lagi harus berbuat apa jika mas sudah ngotot buat memiliki anak lagi."
Setelah selesai sarapan, Karin memilih bersantai sambil nonton TV, Sedangkan Ken pergi entah kemana.
______
Dinda melemparkan tasnya di sofa tepat di samping Reval dan langsung merebahkan kepalanya di pangkuan kakaknya.
"Kak, hari ini aku benar-benar bete sekali"
"Ada masalah apa, sampai muka adikku ini kusut?"
"Bisakah Dinda berhenti bekerja di Perusahaan itu, Dinda gak tahan, dengan ulah salah satu karyawan yang sok banget."
"Sabar, tunggu sebentar lagi sampai waktunya tepat dan kamu bisa bebas."
"Tapi kapan, Dinda sudah lelah?. Oya kak. Gimana kabar wanita pujaan kakak itu, apa sudah bertemu lagi dengannya." tanya Dinda dan Reval pun menggelengkan kepalanya.
"Lagian selera kakak, wanita bersuami. Kan masih banyak gadis-gadis di luar sana yang tertarik dengan kakak."
"Tapi yang ini berbeda dari yang lain, dia cantik, baik, polos, dan selalu membuat hati kakak selalu deg degan. Sudahlah ngomong denganmu itu sama seperti ngomong dengan batu".
Reval pun pergi dari sofa, dan meninggalkan adiknya yang masih merebahkan tubuhnya di sofa.
_______
Arthur yang sedang duduk melamun di atas ranjang sambil menyangga dagunya dengan tangan. Joy memperhatikan tingkah adiknya tirinya yang sedang melamun.
"Hai. . . apa yang kau pikirkan, bocil?" tanya Joy yang ada di ranjangnya.
__ADS_1
"Aku rindu bunda, kapan bunda pulang. Kanapa terasa lama sekali mereka belum juga kembali." ucap Arthur tanpa melihat ke arah Joy.
"Baru saja kamu ditinggal beberapa Minggu sudah begitu, apa lagi dengan ku yang di tinggal selama 15 tahun, dan entah kapan aku bisa bertemu dengannya lagi, mungkin setelah aku dewasa dan sudah lupa dengan kasih sayangnya." ucap Joy. dan Arthur pun berbalik menatap Joy yang ikutan sedih rindu dengan mamanya.
"Memangnya mamamu kemana? tega sekali meninggalkanmu sampai begitu lama. Apa mungkin dia sudah gak sayang lagi padamu sampai kamu di tinggalkanya." tanya polos Arthur dan membuat Joy makin sedih. Arthur berpindah menghampiri Joy di ranjangnya.
"Aku gak tahu, aku memiliki mama dan papa tapi mereka menganggap aku seperti tiada. Tak pernah kurasakan kasih sayang sesungguhnya. Kamu beruntung punya mama Karin yang sayang dan perhatian padamu, selalu mencurahkan kasih sayangnya tulus padamu."
"Jangan sedih, maafkan aku jika sudah membuatmu sedih, Bunda adalah ibunya Arthur yang paling baik sedunia. Kalau kamu mau, aku bisa membaginya denganmu, kamu juga akan bisa merasakan kasih sayang bunda yang sangat berbeda dengan yang lain."
"Aku akan berusaha bisa menerima mama Karin menjadi mamaku, dan aku harap apa yang kau katakan benar."
Arthur dan Joy kini mulai saling mengenal dan saling memahami satu sama lain. Joy mulai nyaman bersama Arthur dan dia mulai bisa merasakan betapa bahagianya punya saudara yang saling mengerti.
______
Ken pulang dengan membawa oleh-oleh berbagai macam buah-buahan yang sengaja ia beli. Namun kali ini ia membeli buah yang berbeda. Dia membeli buah-buahan yang bisa di bilang asam salah satunya stroberi dan mangga muda.
Alangkah terkejutnya Karin saat menerima bawaan suaminya yang sedikit berbeda.
"Mas, apa mas Ken gak salah beli buah, setahu Karin mas paling gak suka dengan buah yang rasanya asam tapi kenapa sekarang malah di beli, Karin gak ada memesannya? " tanya Karin yang heran.
"Memangnya gak boleh, sekali -kali mas beli buah itu, Mas lagi pengen sepertinya itu enak sekali dimakan saat cuaca panas."
"Ya gak papa sih mas, tapi Karin heran aja. Terus buah ini mau di bikin apa? gak mungkin mau mas makan seperti ini?"
"Mau mas makan seperti itu, tolong kupas kan dua buah mangga mudanya kalau sudah selesai antarkan ke kamar mas ingin menikmatinya sambil rebahan di kamar jangan lupa buatkan juga jus stroberinya, jangan menyuruh bibi mas mau sayang yang melakukannya buat mas." setelah memerintah Ken pun beranjak pergi ke kamar meninggalkan Karin yang masih bengong sambil memegang buah mangga muda di tangannya.
"Mas Ken ke sambet apa ya?" gumam Karin dan langsung mengerjakan apa yang di minta suami.
__ADS_1
Dengan segera Karin mengupas mangga muda sebanyak dua biji, sambil mengusap gigi Karin jadi terasa ngilu membayangkan betapa masamnya mangga itu di tambah lagi minumnya jus strawberry yang juga manis-manis masam.
"Awas saja mas kalau cuma ngerjain Karin dan gak habis, Bakalan Karin paksa menghabiskannya, lagian aneh-aneh gak biasa makan yang asam dan ini malah minta yang asam-asam." Karin terus saja ngoceh sendiri dengan kelakuan suaminya yang seperti orang kesurupan. Namun Karin tetap saja memberikan apa yang di inginkan suaminya.