
Arthur membawa Rara kembali ke mansion, tak lupa ia juga mengabari Joy dan keluarga bahwa Rara sudah di temukan.
Joy yang mendapat kabar dari Arthur pun bisa bernafas lega dan segera putar balik untuk kembali ke mansion.
Karin, Ken dan Nabila sudah menunggu kedatangan Rara dan Arthur. Karin tak hentinya mondar -mandir di depan pintu menunggu anak-anaknya segera kembali.
Pintu gerbang pun terbuka, mobil milik Arthur memasuki halaman dan berhenti tepat di depan pintu. Karin langsung berlari menghampiri dan memeluk Rara.
"Apa yang terjadi padamu nak? kenapa kamu bisa begini? ibu sangat cemas mendengar kamu hilang."
"Jangan cecar Rara dengan banyak pertanyaan, biarkan dia istirahat dulu, nanti baru kita tanya lagi." Ken menenangkan Karin.
Karin pun memapah putrinya untuk masuk ke dalam. Joy pun datang dan memarkirkan mobilnya tepat di belakang mobil Arthur. Dengan segera ia keluar dan berlari menghampiri Rara.
Joy langsung memeluk erat Rara. "Maafkan kakak Ra, ini semua salah kakak. seharusnya kakak tak membiarkan kamu pulang sendiri. Kakak benar-benar kuatir saat kamu menghilang. Tapi syukurlah kakak bisa bernafas lega melihat kamu pulang." ucap Joy melampiaskan kecemasannya sedangkan Rara hanya diam mematung.
Joy tak menyadari, bahwa ada Nabila di sana yang menyaksikan kekasihnya sedang memeluk Rara dan nampak begitu cemas.
"Apa yang kamu lakukan mas, tega sekali kamu padaku, apa kamu tak melihat aku ada disini. Selama bersamaku sikapmu tak pernah seperti ini, bahkan saat aku terluka, sikapmu hanya biasa-biasa saja tak pernah secemas kamu pada Rara." gumam Nabila. Ia pun berlahan mundur, memilih menjauh dan pergi ke kamar. segera saja ia menumpahkan air mata yang tak terbendung.
"Lepaskan aku kak Joy, aku gak papa, aku baik-baik saja. yang terpenting sekarang Rara sudah pulang dan baik-baik saja." ucap Rara.
"Bagaimana bisa baik-baik saja, lihatlah kepala, lengan dan kakimu terluka. itu kamu bilang baik-baik saja." saut Joy.
"Sudahlah nak, kita bahas nanti biarkan Rara istirahat dulu. dan kita bicarakan ini nanti lagi." ucap Karin lalu memapah Karin. Saat itu Karin sempat melirik dan mencari-cari Nabila yang tiba-tiba tak terlihat.
__ADS_1
"Kemana Nabila? perasaan tadi berdiri di sana? Atau jangan-jangan...?" muncul tanda tanya di benak Rara tentang Nabila.
Karin beristirahat di kamar orang tuanya, sebab kamar Rara di renovasi lagi, atas permintaan Arthur.
Varo melihat jam yang ada di tangannya sudah menunjukkan pukul 19.00.
"Van, kita pulang saja..." perintah Varo
"Lo tuan, bukannya kita harus menghadiri undangan dari rekan bisnis tuan." jawab Ivan.
"Kamu kabari saja, kita gak bisa datang dan beri alasan agar mereka tak kecewa. Mood ku, hilang gara-gara dia. sampai sekali lagi aku bertemu dengannya, akan ku buat di membayar waktuku yang terbuang sia-sia karena dia." Varo marah-marah sendiri dalam mobil.
"Maksud tuan, dia itu gadis yang kita tabrak tadi?" tanya Ivan.
"Ya namanya musibah, gak tahu kapan akan terjadi. kalaupun tahu saya gak mungkin menuruti permintaan tuan untuk mempercepat laju mobil." saut Ivan.
"Kamu. . .!!! kenapa malah membelanya, tapi nyata-nyata dia kan yang salah." Varo tetap ngotot menyalahkan Rara.
Ivan memilih diam, tak ada gunanya mendebatkan orang yang sudah pergi bahkan tau namanya saja tidak. batin Ivan dan terus fokus mengemudi dan kembali ke mansion.
Tak sengaja Varo melihat tas Rara tertinggal dan tergeletak di sudut lantai mobil. Ia pun segera mengambil dan memperhatikan tas tersebut.
"Ini tas siapa Van? kamu sudah mulai berani membawa wanita menggunakan mobilku." tuduh Varo lagi.
"Apa lagi sih tuan? tas siapa? aku sama sekali gak pernah memakai mobil tuan buat bawa perempuan." jelas Ivan yang mulai sedikit kesal. ia pun melirik kaca spion dan memperhatikan tas yang Varo pegang.
__ADS_1
Ivan mengingat-ingat pemilik tas tersebut. Ivan melacak memori otaknya untuk mencari tahu pemiliknya.
"Itu... sepertinya tas itu milik gadis yang kita tabrak tadi. Masalahnya tadi pagi mobil ini habis di cuci dan hanya gadis itu yang kita bawa masuk mobil ini." jelas Ivan yang mulai ingat.
"Jadi ini miliknya." Varo pun tersenyum penuh rencana di otaknya dan terus memandangi tas selempang mini berwarna hitam.
πππ
Ken duduk di samping Rara yang masih rebahan. ia mengusap pucuk rambut putrinya yang sedang terluka.
"Pa..." panggil Rara.
"Iya sayang papa di sini, kamu istirahat saja papa dan mamamu akan menjagamu, kalau ada yang sakit atau kamu perlu sesuatu bilang sama papa. Jangan sungkan dengan papa." Rara hanya mengangguk.
"Apa kamu tahu, betapa bahagianya papa saat kamu hadir di rahim mamamu, papa sudah merencanakan banyak hal menyambut kehadiran mu saat lahir ke dunia ini. bahkan kakakmu Arthur selalu bertanya kapan kamu lahir dan selalu tanya apakah adiknya perempuan. Tapi semua tinggal rencana, dan maafkan papa yang tak ada di sampingmu dari kamu lahir. Tapi percayalah sampai kapanpun papa tak akan membedakan antara kamu dan kakakmu, papa akan memberikan semuanya yang belum bisa kamu miliki dan nikmati dari kecil hingga sekarang." Ken terus saja menggenggam tangan putrinya.
"Pa... apa Rara boleh bertanya sesuatu?"
"Tentu saja sayang, apa yang ingin kamu tanyakan pada papa?" tanya balik Ken.
"Apakah cinta itu bisa datang secara tiba-tiba? apakah seseorang yang kita sukai bisa merasakan perasaan kita tanpa kita ungkapkan?" tanya Rara dan membuat Ken tersenyum mendengar pertanyaan putrinya.
"Apakah putriku ini sedang jatuh cinta? apa kamu tahu sayang, papa dulu sangat benci dengan mamamu, tapi mamamu bisa meluluhkan hati papa dengan sikapnya. jadi walaupun hanya dengan sikap kadang lelaki bisa memahaminya. Sekarang tidurlah hari sudah malam, papa dan mama akan temani kamu disini." Ken pun mengecup kening Rara dan menyelimuti tubuhnya.
"Terimakasih pa, sudah ada di sisi Rara. Walaupun baru sekarang kita bisa bertemu tapi aku sangat bahagia. tak pernah terpikirkan di benak Rara bisa memiliki papa yang sangat sayang dan peduli pada Rara. Rara janji pa akan jadi anak yang bisa membuat papa bangga dan gak akan mengecewakan papa. aku sayang papa." gumam Rara sebelum terlelap dalam tidur malamnya.
__ADS_1