
Malam hari bi Ani ke kamar karin membangunkan Karin untuk makan.
"Non, sudah malam non makan dulu ya, seharian belum makan." bujuk bibi
"Iya bi, tapi sakit bi kalau di bawa duduk. Bantuin Karin duduk ya Bi" ucap Karin yang sebenarnya sudah lapar.
Dengan Sabar bi Ani mendudukkan Karin dan bersandar pada bantal yang sudah di tata bi Ani. Bi Ani pun dengan telaten menyuapi Karin, dan dengan sabar mengurus karin.
"Bi, tuan kemana kok gak kelihatan?" tanya Karin sambil mengunyah makanan.
"Tuan tadi pergi entah kemana."jawab bi Ani sambil menyuapi Karin.
"Tuan apa marah dengan Karin?"
"Tidak non, mana mungkin tuan marah, melihat kondisi non Karin seperti ini."
Setelah selesai menyuapi Karin, bi Ani pun kembali turun ke bawah.
Karin pun mengambil ponselnya dan memberanikan diri mengirim pesan pada Kenzo.
Lima menit, sepuluh menit menunggu balasan namun tak ada satupun balasan pesan dari Ken..
Tiba-tiba Karin ingin sekali ke kamar mandi panggilan alam sudah memaksanya, Karin bingung mau di berjalan pinggangnya masih sakit, mau ditahan tapi gak tertahan, Karin mulai gelisah dan wajah memerah menahan.
"Bi.....bi....bi Ani ..... tolongin Karin." Karin berteriak lumayan nyaring namun tak mendapat jawaban dari BI Ani.
Karin pun tak ada pilihan lain, dan memaksa untuk turun dari ranjang dan dengan sekuat tenaga serta berjalan membungkuk Karin berjalan ke toilet untuk segera menyelesaikannya tugasnya.
Setelah menyelesaikan tugas alamnya Karin pun kembali dengan keringat bercucuran menahan sakit namun tak mampu Karin berjalan sampai ranjang, dia memilih duduk di lantai disudut ranjang, tak kuat untuk naik lagi keranjang.
Cukup lama Karin menunggu sampai Karin tertidur dengan posisi duduk dan kepala menunduk di sangga kedua lutut yang ditopang kedua tangannya, rambut Karin yang terurai menutupi wajah Karin.
Tengah malam Ken baru pulang Dangan keadan kacau dan bau alkohol. Ken langsung ke kamar dan mendapati Karin tidak ada.
"Pergi kemana karin tengah malam gini." pikir Ken.
__ADS_1
"Karin...kamu dimana... apa kamu di kamar mandi." panggil Ken dan berjalan menuju kamar mandi mencari Karin. Saat langkahnya sampai di depan ranjang tiba-tiba Ken tidak sengaja menyenggol sebuah kaki.
Ken yang kaget jantungnya serasa mau copot dan Ken langsung mundur beberapa langkah sambil mengelus dada.
"Siapa kamu? dimana Karin?" tanya Ken yang sedikit takut tapi penasaran karena tak ada jawaban.
Dengan perasaan sedikit takut ken mencoba memastikan bahwa kaki tadi adalah kaki orang Ken menilik dari bawah ranjang di salah satu sisi.
Ken dikejutkan lagi, dengan sosok berbaju merah dan rambut terurai dan terlihat bagian belakangnya.
Keringat dingin Ken langsung keluar dan tak mampu untuk teriak ditambah lagi saat dia berbalik badan dan matanya terbuka Langsung menatap Ken.
"Tuan Ken...."panggilnya. Tak perlu hitungan lagi. Ken langsung lari keluar kamar dan memanggil scurity.
"Pak jono.... tolong saya." ucap Ken sambil ngos-ngosan karena berlari ketakutan.
"Ada apa tuan, kenapa tuan Sampai begini apa yang terjadi tuan?" tanya scurity yang penasaran.
"Pak tolong, tolong pak Jono usir hantu yang ada di kamar, dia pakai baju merah dan rambutnya panjang." jelas Ken sambil tersedat-sendat.
"Iya pak, akan saya usir hantunya, bisa bapak tunjukkan dimana tempatnya."
Ken dan pak jono pun kembali ke kamar untuk memastikan keberadaan hantu baju merah itu.
"Disana pak, di sisi ranjang sebelah sana." tunjuk Ken pada pak Jono, Ken memposisikan dirinya di belakang pak jono. Dengan pelan-pelan pak Jono berjalan menghampiri tempat hantu yang ditunjuk Ken dengan membawa senjatanya. Dan saat sampai ditempat yang ditunjuk Ken, pak Jono bersiap mengayunkan senjatanya.
"Aaaaahhhh." Teriakan Karin menghentikan gerakkan pak Jono.
"Non Karin" ucap pak Jono yang kaget ternyata yang dikiranya hantu ternyata Karin.
"Tuan, bukan hantu tapi non Karin." pak Jono menoleh pada Ken sambil tersenyum.
"Karin." Ken yang kaget langsung menghampiri Karin.
"Ngapain kamu tidur dilantai. apa diranjang banyak durinya." ucap Ken sedikit emosi karena sudah dibuat ketakutan.
__ADS_1
"Karin gak bisa naik keranjang, tadi Karin tidurnya duduk gak terlentang begini." jelas Karin dan Ken langsung mengangkat tubuh Karin ke ranjang.
"Non, ada-ada aja, tuan Ken sampai ketakutan dikiranya non hantu baju merah" ucap pak Jono sambil menahan tawa, membuat Ken sedikit malu.
"Sudah sana pak, kembali kerja." perintah Ken dan pak Jono pun keluar sambil menahan tawa.
"Tuan takut hantu ya?" ledek Karin yang juga menahan tawa.
"Gak, siapa juga yang takut hantu. Masa aku takut sama hantu malu dong sama ketampanan ku yang ada hantunya jatuh cinta padaku." jawab Ken dengan pedenya.
"Kalau berani kenapa harus manggil pak Jono?" tanya Karin lagi.
"Sudahlah aku mau mandi dulu." sambil melepas bajunya.
"Awas tuan, didalam ada hantu baju merah menunggu tuan." ucap Karin mencoba menakuti Ken
"Gak takut, yang ada kubmakan tu hantu " ucap Ken dan pergi ke kamar mandi.
Setelah selesai mandi Ken pun merebahkan tubuhnya disamping Karin untuk melepas lelah.
Sebelum tidur Ken menghidupkan sepucuk rokok dan mengaktifkan kembali ponsel. Ken melihat banyak panggilan masuk dari Sasa dan pesan termasuk pesan Karin.
Karin pun memeluk tubuh Ken yang masih bersandar dan Karin dalam keadaan tidur. Ken Mengelus rambut Karin yang sedang memeluk dirinya sambil mencoba menghubungi Sasa.
📲
"Mas, akhirnya kamu menghubungiku, mas aku benar-benar minta maaf atas sikap ku yang kemarin-marin padamu, aku menyesal mas mau kan maafin aku."
"Aku selalu memaafkanmu tapi kamu gak pernah berubah gak bisa menghargai aku sebagai suamimu. jadi untuk apa kata maaf lagi."
"aku benar-benar minta maaf, aku janji akan meluangkan waktu untuk mu, tapi aku mohon mas pulang ya, aku sangat membutuhkan mas."
"Sepertinya aku gak bisa pulang, aku di sini masih banyak kerjaan, jika sudah selesai aku pasti pulang."
"Benar kan mas disana sedang mengurus kerjaan gak main perempuan kan."
__ADS_1
"Kalaupun aku main perempuan itu karenamu, yang gak bisa memenuhi kebutuhan ku. Aku juga gak tahu kamu di sana setia atau tidak, tapi itu urusanmu dan sepertinya hubungan kita akan segera selesai. Sudahlah jika sudah selesai aku akan segera kembali." Ken langsung mematikan panggilannya dan meletakkannya di meja merebahkan diri disamping Karin yang tertidur pulas, Ken sesaat memandangi wajah Karin dan mengecup keningnya sebelum ikut tidur.