Bukan Salahku Menjadi Pelakor

Bukan Salahku Menjadi Pelakor
season 2 : jurus Andalan


__ADS_3

Acara demi acara sudah di mulai, key dan Rara nampak menikmati pesta tersebut, sedangkan Arthur, Joy dan Varo, mereka sibuk sendiri karena menjadi tamu undangan VIP untuk menjadi saksi launching beberapa produk unggulan.


"Tante cantik, maukah Tante nginap di rumah key. Kan besok hari Minggu, key gak sekolah, jadi Tante bisa nemani key bermain." rayu key yang tiba-tiba saja begitu lengket dengan Rara, mungkin karena ia kesepian dan juga merindukan sosok ibu yang selalu di sampingnya.


Rara yang sedang memangku key pun menjawab dengan lembut. "Tapi key,Tante benar-benar minta maaf, Tante gak bisa menginap di rumahnya key. Nanti kakaknya Tante marah sama Tante." tolak Rara secara halus. Sebenarnya Rara sendiri tak berani, bermalam di tempat orang asing, apa lagi dirinya ada dendam kesumat dengan papanya.


Namun penolakan Rara di salah artikan key, hingga membuat key tiba-tiba menangis kencang dan membuat para tamu undangan terganggu dan semua mata tertuju pada key yang menangis kencang dan sedang duduk di pangkuan Rara.


Rara langsung panik,namun tak berkutik saat semua mata tertuju padanya dan tangis key yang semakin menjadi. Varo yang sedari tadi agak jauh, pun segera menghampiri mendengar suara tangisan putranya. yang pastinya sedang membuat ulah, entah apa yang diinginkan putranya tersebut, pikir Varo.


"Apa lagi yang dia lakukan lagi, key memang suka sekali membuat papanya marah." Arthur dan Joy pun ikut menghampiri key dan Rara.


"Key tolong berhenti, jangan menangis lagi. Tante minta maaf kalau kata-kata Tante ada yang salah" bujuk Rara dengan suara lirih.


Salah seorang pun menegur Rara." Nona bisakah, nona menenangkan putranya, lihatlah dia sampai terisak-isak begitu menangisnya."


"Anu, saya...sudah mencobanya, tapi..." belum selesai bicara Varo pun angkat bicara.


"Mohon maaf semuanya, gara-gara putra saya, kalian terusik. Kami akan segera pamit undur diri silahkan anda lanjutkan acaranya." Varo pun terpaksa mengucap kata maaf yang sangat berarti sekali ia ucapkan. tujuannya tak lain agar dirinya tak lebih di permalukan lagi.


Namun masih saja banyak mata yang tertuju pada mereka. memperhatikan apa yang dilakukan Varo dan beberapa kamera mengambil gambar Varo, rar dan key.


Varo menghampiri key dan juga Rara yang masih saja duduk tak bergerak. Ia berjongkok dan bertanya dengan suara lirih. "Apa yang kamu lakukan sampai membuat key mengeluarkan jurusnya." tanya Varo


"Aku tak melakukan papa. dia tiba-tiba saja menangis tanpa sebab." Jawab Rara dengan lirih. Varo ingin menggendong key, namun key malah memeluk erat Rara.


"Apa yang kamu lakukan key, ayo kita pulang. jangan permalukan papa lagi di tempat umum." ucap Varo

__ADS_1


"Key gak mau gendong papa, key minta mama yang gendong key." Tolak key dengan tegas dan keras sambil menggelengkan kepalanya.


"Mama???" ucap Rara dan Varo bersamaan.


Varo pun kembali berdiri dan mendekati Arthur yang ada di sampingnya." Bisakah aku membawa adikmu menginap di rumahku, sepertinya putraku sedang mempermalukan Ku." bisik Varo pada Arthur dan Arthur pun mengizinkannya, karena kondisi di tempat umum.


Varo menjulurkan tangannya menyambut Rara. "Sayang ayo kita pulang, sepertinya key sudah lelah makanya dia membuat ulah." Rara menatap Arthur dan Arthur yang paham maksud Rara pun menganggukkan kepala.


Bukannya menyambut tangan Varo Rara malah menunduk dan mengambil high heels dan memberikannya pada Varo.


"Apa-apaan ini?" tanya Varo yang semakin kesal.


"Aku gak bisa gendong key kalau pakai high heels. tinggal pilih mau membawa high heels ku atau aku biarkan key menangis." ancam Rara sekaligus ngerjain Varo. Dan mau tak mau Varo pun mengambil high heels Rara dan Rara pun menggendong key di depan dengan telanjang kaki. key pun langsung tersenyum saat jurus andalannya berhasil.


Sepanjang langkahnya menuju pintu keluar, Varo melingkarkan tangannya di pinggang Rara sambil berjalan beriringan.


"Pasti besok akan jadi topik utama di Koran pagi." gumam Varo walaupun sambil tersenyum paksa.


Joy yang mendapati adiknya bersama pria lain, hatinya seakan tak rela, namun ia tak bisa berbuat apa-apa, karena kamera ada di mana-mana, ia tak ingin menambah lagi rasa malu yang Rara alami.


Sampai di depan mobil pun masih saja ada kamera yang mengambil gambarnya, akhirnya Varo pun harus tetap berpura-pura.


Ivan yang mengemudi mobil Varo pun hanya bisa memperhatikan kedua insan yang saling membuang muka, diam seribu bahasa. selama di perjalanan key pun tertidur sambil memeluk Rara tak ingin melepaskannya.


Rara pun akhirnya ikut tertidur, karena perjalanan dari rumah ke tempat pesta sedikit jauh.


"Hati-hati pak.!!!" ucap Ivan.

__ADS_1


"Hati-hati Kenapa?"


"Hati-hati kalau gadis itu bisa mencuri hati bapak."


"Kamu..apa alasan kamu, bisa bicara begitu."


"Saya bisa melihat dari tatapan mata bapak pada gadis itu, dan terlihat sangat berbeda." jelas Ivan sedikit menggoda. ucapan Ivan membuat Varo berdecak tak percaya.


Tak selang beberapa lama, Arthur dan Joy pun meninggalkan pesta dan segera pulang. Selama di perjalanan Joy tak banyak bicara. Arthur merasa Joy sangat aneh semenjak pulang.


"Kak... kamu kenapa? tanya Arthur.


"Kenapa kamu mengizinkan Rara pulang bersama Varo." jawab Joy yang kesal.


"Memangnya kenapa kak, bukannya Varo sahabat kakak. setidaknya dia pasti bisa menjaga Rara dengan baik. Gak mungkin kan Arthur melarang begitu saja di tempat umum, itu bisa berdampak buruk tidak hanya untuk Varo tapi juga untuk kita. Ayolah kak, gak usah terlalu cemas, hanya semalam saja, kalau kaka kuatir pagi-pagi besok bisa kakak jemput Rara." saut Arthur. Joy pun terdiam dan tak ingin melanjutkan pembicaraan.


Sesampainya di mansion. Varo mengangkat tubuh key dan membawanya masuk ke kamarnya. lalu ia kembali lagi ke mobil untuk membangunkan Rara.


Beberapa kali Varo mencoba membangunkan Rara namun tak ada respon Rara bahkan tubuhnya sedikit di goyang pun tak ada reaksi.


"Dia ini tidur atau mati sih, nyusahin orang saja." gerutu Varo dan ia pun mengangkat Rara dan membawanya masuk.


Varo mengangkat tubuh Rara dan meletakkannya di kamarnya, karena kamar key tak muat untuk berdua sedangkan kamar tamu di tempati Ivan.


Dengan pelan Varo meletakkan tubuh Rara dan menyelimutinya.


"Badan aja keliatan langsing, tapi beratnya gak ketulungan."

__ADS_1


Varo pun meninggalkan Rara. Ia membersihkan diri dan Menganti pakaiannya. Varo memilih tidur di sofa, ia tak tega jika harus Rara yang tidur di sofa.


πŸ™πŸ™πŸ™ mohon maaf untuk Arthur, tidak saya ceritakan secara detail aktivitas dan juga masalah percintaannya. karena akan di buat karya baru yang berfokus pada Arthur. insyaallah akan segera meluncur karyanya.πŸ™πŸ™πŸ™πŸ™


__ADS_2