Bukan Salahku Menjadi Pelakor

Bukan Salahku Menjadi Pelakor
Season 2 : benci


__ADS_3

Suara alarm berbunyi nyaring di dekat telinga Rara, membuat dirinya terbangun, karena kaget.


"Siapa sih yang meletakkan alarm di sini?" gerutu Rara. Ia pun mengambilnya dan ingin mematikannya. Matanya yang awalnya masih buram karena bangun tidur berubah terang seketika saat dirinya melihat jam tersebut dengan mata melotot. Ternyata sudah jam sembilan pagi.


"Astaga... rupanya sudah siang." Rara ingin beranjak turun namun ia baru sadar, bahwa dia tidak tidur di kamarnya.


"Ini...ini pasti kamarnya. Jadi tadi malam aku tidur disini? terus kalau ini kamarnya dan aku tidur di sini terus dia tadi malam tidur dimana?" Pikiran Rara langsung terbang kemana-mana.


"Tidak. tidak mungkin aku tidur dengannya kan?" Saat Rara hendak turun. Pintu kamar mandi yang ada di kamar terdengar seseorang membuka pintunya dan benar saja Varo keluar dari kamar mandi dengan telanjang dada dan hanya mengenakan handuk yang dililitkan di pinggang.


Seketika Rara berteriak dan langsung menutup wajahnya." Apa yang kamu lakukan, apa kamu tak melihat ada aku di sini?" ucap Rara yang masih menutup mata.


"Oh... rupanya penyihir sudah bangun? baguslah, biar aku gak terlalu lama menunggu dan membuang waktuku dengan percuma."


"Apa kamu bilang aku penyihir? memangnya aku sudah menyihir siapa ha...? dasar Duren." ucap Rara dan ternyata Varo tidak terima dirinya dikatai duren oleh rara.


Varo mengepalkan kedua tangannya, dan menghampiri Rara yang masih tak bergerak dari atas ranjang.


"Apa yang kamu lakukan? jangan mendekat atau aku akan teriak." Varo berdiri di sisi ranjang dan masih telanjang dada dan mengambil sesuatu dari dalam laci nakas.


Kartu identitas pun di lemparkan ke Rara.


"Dasar otak mesum, siapa juga yang mau mendekatimu. Buka matamu lebar-lebar dan baca. dengan benar. Sekali lagi kamu bilang seperti itu. aku pastikan kamu gak akan bisa pulang ke rumahmu lagi." ancam Varo lalu ia pergi keruang khusus tempat menyimpan pakaiannya.


"Rupanya ada yang marah aku panggil duren, tapi kan memang dia duda beranak satu, ya walaupun dia keren tapi tetap saja duda." gumam Rara sebelum matanya melotot saat membaca identitas Varo.


"Apa.... statusnya belum kawin. Jadi dia masih lajang dong, terus key anak siapa. Gak mungkin dia pasti duda." Rara membaca berulang-ulang namun tetap sama tak ada perubahan status Varo memang masih lajang.


Varo pun membawa key dan juga rara jalan-jalan menghabiskan akhir pekan bersama. Key nampak begitu bahagia Bahkan menghabiskan waktu lebih banyak dengan Rara ketimbang dengan Varo.

__ADS_1


Selama bersama key, Varo harus berpura-pura baik kepada Rara begitu juga sebaliknya dengan Rara.


menjelang senja, mereka singgah di salah satu taman untuk menghilangkan lelah sesaat.


Rara duduk di bangku taman, bersama key dan memeluknya dari samping


"Terimakasih key, sudah membuat Tante bahagia hari ini. Hari ini akan menjadi kenangan yang tak akan terlupakan buat tante dan akan Tante kenang." Rara sejenak terdiam sebelum ia kembali memanggil "Key..."


"Eeemmm" key memainkan jemari Rara.


"Saat Tante pergi nanti, apa key akan melupakan Tante?" tanya Rara. Key pun berhenti memainkan jemari Rara. Ia pun menatap Rara dengan penuh tanda tanya.


"Tante mau pergi ninggalin key?"


"Maaf key, mungkin ini adalah hari terakhir kita bertemu dan bermain, setelah ini Tante akan pergi ke Amerika untuk melanjutkan pendidikan Tante." Rara pun memeluk key kembali dan menitikkan air mata, Rara sudah terlanjur sayang dengan key.


Key tiba-tiba menjauhkan tubuhnya dan menangis. "Aku benci Tante... kenapa Tante harus meninggalkan key. Kenapa Tante harus datang kalau Tante juga harus pergi. Key benci Tante..." key pun berlari meninggalkan Rara sambil menangis begitu juga Rara yang memanggil key.


Varo pun sempat menoleh ke arah Rara yang berdiri terpaku dengan berlinang air mata.


Hari semakin gelap, Rara tak bergerak dari bangku yang ia duduki. Bahkan saat hari mulai gerimis ia pun tetap bertahan di tempat.


Tak lama sebuah payung meneduhkan Rara, melindungi dirinya dari rintik hujan.


"Ra... ayo kita pulang!" Joy berdiri di samping Rara. Saat Rara menyadari kehadiran Joy ia pun segera memeluk erat kakaknya itu dan kembali menangis.


"Rara benci kak, Rara benci jika harus berpisah dengan orang-orang yang Rara sayang, Rara gak sanggup kak." Rara menumpahkan semua kesedihannya di pelukan Joy.


Joy memeluk Rara, dan membiarkan payung yang sedari tadi di pegangnya lepas.

__ADS_1


"Kakak tahu apa yang kamu rasakan Ra, Kakak juga benci harus berpisah denganmu. Terlalu sakit hati ini melepaskannya."


Rara pun pulang bersama dengan Joy, kembali ke mansion.


Key, uring-uringan di kamar membuang semua yang ada di kamarnya.


"Tante jahat, kenapa Tante tega sama key."


"Apa yang kamu lakukan key? ada masalah apa kamu dengan Tante cantik. Coba bilang sama papa biar papa bisa bantu. " Varo mencoba menenangkan sikap key yang kacau.


"Papa... cegah Tante cantik pergi. Jangan biarkan Tante cantik meninggalkan key. key sudah sayang dengan Tante cantik. tapi Tante cantik mau pergi." jelas key sambil terisak-isak. Varo mengangkat tubuh key dan mendudukkannya dalam pangkuan. ia pun menghapus air mata yang membasahi pipi key.


"Apa Tante mengatakan itu dengan sungguh-sungguh?" tanya Varo dan key pun mengangguk.


"Tante beling mau pergi kemana?"


"Tante mau ke Amerika melanjutkan pendidikannya di sana." jelas key dan membuat Varo paham. mereka pun akhirnya berdiskusi dan memutuskan apa yang akan mereka lakukan.


Rara menangis seorang diri di dalam kamar, terlalu cepat rasanya waktu berlalu, baru beberapa waktu Rara berkumpul dan bertemu dengan orang-orang baru, tapi sekarang ia kan segera meninggalkan mereka dalam waktu yang cukup lama, bahkan ibunya yang selama ini selalu ada di dekatnya harus ia tinggalkan.


"Ra...kamu kenapa?"Karin datang dan memeluk putrinya yang butuh kekuatan.


"Bu... Rara gak mau pergi bu, Rara mau tetap di sini bersama ibu dan yang lain."


"Ibu tahu perasaanmu Ra, memang sangat berat meninggalkan orang-orang yang kita sayangi. tapi itu hanya sesaat, semua akan kembali normal seiring berjalannya waktu. apa lagi kalau kamu fokus pada pendidikan mu. Ibu akan menunggumu kembali membawa hasil yang membanggakan buat keluarga. Percayalah semua orang akan menunggumu sampai kamu kembali."


"Benarkah??? apa orang yang Rara sayang juga akan menunggu Rara sampai Rara kembali?" Karin pun mengangguk. memberikan sedikit harapan baru untuk Rara. hingga senyum tipis terukir di wajah manis Rara.


__ADS_1


Jangan lupa mampir ada spin off Rara, jangan lupa dukungannya. so di sini di ambil garis besarnya saja, kalau yang baru versi lengkapnya. jadi gak bingung πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚


__ADS_2