Bukan Salahku Menjadi Pelakor

Bukan Salahku Menjadi Pelakor
S1-13


__ADS_3

Langkah kaki Karin terhenti saat namanya di panggil, oleh orang yang paling dia benci.


"Karin, syukurlah bulek bisa ketemu kamu disini, apa bulek bisa bicara empat mata dengan mu." ucap Rahayu. Karin menatap Ken meminta persetujuannya.


"Baiklah, silahkan kalian bicara aku akan pergi sebentar mencari minuman dulu." Ken pun pergi meninggalkan Karin dan Rahayu.


"Kita ngobrol di kamar rawat ku saja." Karin berjalan kembali ke kamarnya diikuti Rahayu.


Sesampainya di kamar tanpa basa-basi Karin langsung bertanya pada Rahayu. "Mau bicara apa lagi bulek, sepertinya sudah tidak ada urusan antara kita berdua." ucap Karin dengan tegas


"Karin, bulek minta maaf, atas semua perbuatan bulek, bulek khilaf. Karin bisakah kamu memaafkan bulek, sekarang bulek sudah mendapatkan hukumannya, bule di vonis dokter mengidap kanker, walaupun belum parah, tapi bulek ingin minta maaf sama kamu, selagi masih sempat." ucap Rahayu sambil menangis.


"Maaf... bulek, bagaimana aku bisa memaafkan bulek setelah apa yang bulek lakukan padaku, apa bulek gak pernah berfikir apa yang akan terjadi padaku jika ibu tahu apa yang aku kerjakan selama di kota ini. Aku disini menderita bulek, aku menderita harus menjadi budak laki-laki yang tak ada ikatan apa-apa denganku, aku menjaga kehormatan ku baik-baik selama dikampung, tapi disini aku harus merelakan mahkota ku di renggut paksa itu semua ulah bulek, aku benar-benar kecewa dengan bulek."


"Aku khilaf Karin, aku tergiur dengan uang yang dijanjikan teman bulek." Rahayu bersimpuh dan memohon Karin mau memaafkan nya.


"Berapa bulek, berapa uang yang dijanjikan untuk membeliku, katakan bulek Karin ingin mendengarnya" teriak Karin penuh emosi.


"100 juta." Karin syok dan terduduk di ranjangnya.


"100 juta bulek menjual ku, 100 juta harga diriku." Karin pun tertawa dengan paksa mendapati dirinya seharga 100 juta.


"Pergi bulek, dan jangan pernah muncul lagi dihadapan ku dan keluarga ku di kampung, anggap saja uang 100 juta itu sebagai pemutus hubungan kekeluargaan kita. jangan pernah menganggap kami keluarga lagi, jangan pernah mengharapkan apapun lagi dari kami. Pergi sekarang, cepat pergi." usir Karin dan Rahayu pun dengan langkah lemah berjalan pergi keluar kamar dan berselisih dengan Ken yang baru datang.


Ken masuk dan mendapati Karin sedang menangis tersedu-sedu. Ken langsung mendekap Karin dan mengusap pucuk rambut nya, mencoba menenangkan walau tak tahu apa yang sebenarnya terjadi.


"begitu rendahnya kah aku, sampai bisa di beli dengan nilai rupiah, aku ini bukan barang yang bisa di perjual belikan." Karin menghapus air matanya dan langsung mendorong tubuh Ken untuk menjauh darinya.


"Berapa tuan membeli tubuhku ini, dan seberapa rendahnya aku dimata tuan, aku sekarang jijik dengan diriku sendiri, aku jijik mendengar nilai harga diriku ini. Katakan berapa tuan membeli diriku."

__ADS_1


"Apa maksudmu, apa yang ada dipikiranmu, kenapa kamu tiba-tiba jadi begini. Apa yang salah, apa yang dilakukan wanita tadi padamu?" Ken kembali bertanya pada Karin mengenai sikapnya yang berubah mendadak.


"Pergi, tinggalkan aku sendiri." Karin merebahkan tubuhnya, meringkuk dalam selimut, membenamkan wajahnya dalam selimut.


Ken tak ingin bertengkar, dia memilih diam padahal didalam hati amarah sudah berkobar atas sikap Karin yang berlebihan. membiarkan Karin menyendiri sesuai keinginannya. Ken berjalan keparkiran dan beristirahat di dalam mobil, Ken menghubungi Sasa yang sedari pagi tidak ada kabar darinya. Namun beberapa kali Ken menghubungi tak ada satu pun yang masuk membuat Ken makin emosi, dilemparkannya ponselnya di kursi belakang.


Ken menghisap dalam-dalam rokoknya yang sedari tadi menemani dan mengembuskannya diikuti Beban pikiran yang terbelenggu.


Tak lama Ken kembali ke kamar Karin untuk melihat keadaannya, walau bagaimanapun Ken tidak bisa meninggalkan Karin sendirian, Ken harus bertanggung jawab atas semua derita yang karin alami selama bersamanya.


Sesampainya di ruang rawat Karin, Ken dikejutkan dengan Karin yang sudah mengganti pakaiannya dan melepas selang infusnya.


"Karin, kamu mau kemana? dan apa yang kamu lakukan?" Ken berusaha mencegah Karin.


"Tuan Karin mau pulang, bisakah kita pulang, Karin gak mau dirawat disini lagi."


"Tapi Karin, kamu harus dapat persetujuan dokter dulu baru bisa pulang."


"Baiklah, tunggu disini dulu, biar aku mengurus kepulangan mu." Karin pun mengangguk.


Setelah selesai Ken pun kembali menghampiri Karin.


"Ayo kita pulang, kamu sudah bisa pulang." Karin pun tersenyum namun Ken menggelengkan kepala.


"Kesambet setan apa dia ini, sebentar marah, sebentar tersenyum, tapi itu yang membuat ku candu padanya."gumam Ken sambil membimbing Karin keluar rumah sakit.


Suasana malam Minggu begitu ramai, Karin menatap Ken yang sedang mengemudi mobilnya.


"Tuan bisakah kita singgah sejenak di taman, Karin ingin menikmati malam Minggu seperti remaja lainnya." ajak Karin.

__ADS_1


"Kita langsung pulang saja ya, ngapain juga di tempat yang ramai kaya gitu lagian kamu masih baru sembuh rentan dengan udara dingin diluar sana."


"tuan...." Karin memasang wajah memelas berharap Ken mau menurutinya.


Naluri remaja Karin meronta-ronta, walau bagaimanapun, diusia Karin yang masih 19 tahun, seharusnya masih menikmati masa-masa remaja, masa-masa kebebasan berkumpul bersama teman, Menikmati masa pacaran. Tapi sekarang berbeda walaupun Karin belum berkeluarga tapi kebebasannya sangat dibatasi sejak menjadi budak Ken dua bulan lalu Karin hampir lupa rasanya malam mingguan. Walaupun Karin hidup dikampung tradisi malam mingguan tak pernah ketinggalan, walaupun tanpa pasangan setidaknya bersama teman yang sesama jomblo.


Ken menghentikan mobilnya mendadak di pinggir jalan.


"Ada apa tuan, kok mendadak berhenti disini?"


"Jika aku menuruti permintaanmu, apa kamu mau tetap tinggal disini,kamu boleh kembali ke kampung tapi sebentar saja dan kamu kembali disini."


"Tapi tuan." Karin menghembuskan nafas panjang menjawab permintaan Ken. "Berikan alasan untuk Karin tetap tinggal disini?"


"Apa aku perlu menjelaskan nya lagi?"


Karin menyadari bahwa takkan mudah lepas dari tangan Ken yang sudah memiliki nya.


"Baiklah, aku akan turuti permintaan tuan, tapi aku ingin kembali tinggal bersama bi Ani , tidak di sini." pinta Karin.


"Baiklah, sekarang aku sudah puas mendengar Jawabanmu sekarang akan ku antar kamu menikmati apa yang kamu inginkan, tapi jangan lama-lama."


Ken pun kembali menyalakan mobilnya dan pergi ketempat yang diinginkan Karin, walaupun sebenarnya Ken tidak menyukainya.


Kebahagiaan terpancar dari wajah Karin, yang mendapati Ken sekarang tidak terlalu menekannya, dan mau mengalah walaupun hanya sekali-kali.


Karin menggandeng tangan Ken, membawa Ken jalan-jalan menyusuri tempat yang sangat romantis.


____

__ADS_1


makasih sudah mampir, jangan lupa dukungannya ya 👍⭐✍️🧿❤️ terimakasih.


__ADS_2