
Keesokan harinya Joy pun bersiap untuk keberangkatannya ke desa W. Ia hanya membawa beberapa lembar baju, karena ia hanya akan tinggal beberapa hari saja.
"Semangat amat mau pergi." goda Arthur sambil melemparkan baju kaos pada Joy.
"Benarkah? aku rasa biasa saja. Aku hanya menganggap ini sebagai liburan saja. Sekalian cuci mata. Katanya gadis-gadis desa itu banyak yang cantik dan kecantikannya natural." jawab balik Joy.
"Pa...Kak Joy mau cari istri gadis desa." teriak Arthur pada Ken. Dengan Sigap Joy membungkam mulut Arthur sehingga ucapan Joy tak terlalu jelas. Arthur meronta mencoba membuka bekapan di mulutnya.
"Apa yang kamu lakukan? Kamu bisa membuat papa sedih lagi. Sudah sana keluar dari kamar dan jangan ganggu aku lagi." Usir Joy.
"Sorry, aku gak bermaksud begitu, hanya ingin bercanda." Arthur pun keluar kamar dan menuju ruang makan. Di sana ternyata sudah ada Ken yang sedang menunggu sambil menikmati secangkir kopi.
"Pagi pa?" Sapa Arthur lalu duduk di samping Ken. Lalu mengambil sarapan yang ada di meja.
"Mana Joy?" Tanya Ken.
"Kak Joy, masih bersiap-siap, kan hari ini dia mau ke desa w, Kak Joy yang ambil alih untuk mengawasi pembangunan beberapa tempat kursus yang papa perintahkan." Jawab Arthur sambil mengunyah nasi goreng yang masih ada dalam mulutnya. Tak lama Joy pun muncul untuk ikut sarapan.
"Pagi pa!" sapa Joy yang sudah siap dengan memakai celana jeans dan kaos biru berlapis jaket.
"Pagi. Apa benar kamu mau pergi ke desa W Kata adikmu?" tanya Ken.
__ADS_1
"Iya pa! Maaf kalau Joy gak diskusi dulu dengan papa. Tapi Joy tertarik dengan pembangunan tempat kursus yang papa programkan." jelas Joy.
"Baiklah. Papa harap kamu bisa mengawasi pekerjaan di sana."
Setelah sarapan selesai Arthur dan Joy pun berpamitan untuk pergi masing-masing. Ken yang sudah menyerahkan perusahaannya pada Arthur dan Joy dan memilih menghabiskan waktu di rumah seraya mengenang kebersamaannya bersama Karin.
Joy memilih di antar sopir , karena dirinya belum paham betul letak desa yang akan di tuju. perjalanan yang cukup jauh hingga menempuh waktu kurang lebih lima jam.
Selama di perjalanan Joy masih mengingat-ingat ucapan Mama Sasa yang tentang mama Karin yang masih hidup dan anak perempuan Ken juga masih hidup. "Mungkin sekarang sudah dewasa dan cantik seperti mama Karin." gumam Joy sambil mengingat-ingat wajah Karin.
Setelah perjalanan panjang akhirnya Joy sampai di depan bangunan yang baru jadi sekitar 45%. Di sana Joy langsung di sambut oleh kepala pengawas dan langsung menjelaskan secara detail tentang bangunan yang sedang di garap.
Tak jauh dari Joy berdiri, terlihat seseorang sedang mondar-mandir mengangkat batu bata. Joy baru menyadari bahwa ada kuli perempuan di tempat pembangunan.
"Tapi pak! kasian dia. Anak itu lagi butuh kerjaan untuk membantu ibunya." jelas kepala pengawas.
"Memangnya dia gak punya bapak, sampai banting tulang begitu, saya gak mau tahu dan jika ini sampai tahu papa kamu yang malah bisa di pecat. Kalau kamu gak tega panggil dia kesini biar aku yang langsung memecatnya." tegas Joy dan kepala pengawas itu hanya mengangguk dan memanggil perempuan itu.
"Rara... kemari." panggil Pengawas dari tempatnya berdiri. Rara yang masih kotor karena debu batu bata datang menghampiri pengawas dan juga Joy.
"Iya ada apa pak? Apa ada pekerjaan lain yang harus saya kerjakan?" tanya Rara.
__ADS_1
"Mulai sekarang kamu berhenti bekerja di sini? Aku gak mau ada kuli perempuan itu sangat beresiko." Saut Joy. Dan Rara menoleh pada pengawas tak paham dengan salahnya hingga dirinya di pecat padahal dia sangat membutuhkan pekerjaan itu.
"Ini pak Joy, dia datang dari kota untuk melihat bangunan miliknya dan kebetulan melintas kamu bekerja jadi kuli. Pak Joy gak suka dan meminta kamu berhenti, beliau gak mau ambil resiko." Jelas pengawas itu.
"Tapi pak! Saya benar-benar butuh pekerjaan ini. Kalau saya di pecat mau kerja apa lagi saya pak, saya gak punya pengalaman lain mana mungkin ada yang menerima saya bekerja. Tolong pak beri saya kesempatan, saya janji saya akan hati-hati. "Rara terus memohon namun Joy tetap memecatnya.
"Tidak ada kesempatan lagi, aku gak mau ada apa-apa denganmu. Di tambah lagi kalau sampai papa tahu di proyek ini ada pekerja wanita bisa di hentikan pembangunan ini dan itu bisa membuat yang lain ikut jadi pengangguran. Lebih baik saya memecat satu orang daripada yang lain kena imbasnya."
Rara menitikkan air mata, dia benar-benar pasrah dengan dirinya keluar dari kerjaannya ia tak tahu lagi harus bagaimana membantu ibunya. Joy meminta pengawas langsung membayar hasil kerjanya dua kali lipat.
Dengan langkah lesu, Rara pergi dari hadapan Joy dan pengawas segera untuk pulang. Ia tak tahu harus berkata apa pada ibunya jika dia sudah tidak punya pekerjaan untuk membantu membayar tunggakan kontrakan yang sudah 3 bulan belum di bayar.
Kepala pengawas yang merasa kasihan pun mencoba menjelaskan pada Joy, agar bisa menerimanya kembali bekerja. Ia pun menjelaskan keadaan Rara yang sebenarnya dan tanpa terasa penjelasan pengawas itu membuat hati Joy merasa kasihan, apa lagi Rara hanya tinggal berdua dengan ibunya yang sudah tua dan tak memiliki ayah.
"Apa benar yang kamu jelaskan tentang wanita tadi?" tanya Joy meyakinkan.
"Iya pak, saya berkata jujur apa adanya. Kalau bapak gak percaya bapak bisa datang langsung ke rumahnya untuk melihat ke adaan yang sebenarnya. Saya bisa mengantarkan bapak ke sana untuk membuktikan perkataan saya."
"Baiklah antarkan aku ke sana, aku ingin tahu apa yang kamu katakan mu benar atau tidak." Joy tersentuh hatinya dengan kata-kata pengawas itu dan ingin membuktikan yang sebenarnya. jika memang benar yang di ucapkan pengawas tadi benar Joy juga tak akan tega membiarkan orang lain menderita dia akan mencarikan jalan keluar yang terbaik yang bisa membantunya.
Joy dan pengawas itu berjalan kaki menuju rumah Rara yang ternyata tinggal di sebuah barakkan yang terdiri dari 10 pintu berarti ada 10 kepala keluarga yang tinggal berdampingan dengan kediaman Rara. Tempat tinggal Rara ada di paling ujung.
__ADS_1
"Itu pak rumah Rara yang paling ujung." ucap pengawas itu sambil menunjuk ke arah barakkan paling ujung.