Bukan Salahku Menjadi Pelakor

Bukan Salahku Menjadi Pelakor
50


__ADS_3

Ken sedang sibuk memainkan ponselnya, membalas email yang masuk. Karin datang menghampiri membawakan secangkir kopi dan duduk di samping ken.


"Mas ini karin buatkan kopi." ucap karin setelah meletakan secangkir kopi di meja.


"Makasih sayang." ucap Ken dan tetap sibuk dengan ponselnya.


Karin yang duduk di sebelah Ken, Sesekali melirik suaminya yang tak menghiraukan dirinyam Lama kelamaan Karin bosan dan merasa cemburu merasa di duakan.


Karin menempelkan kepalanya di lengan Ken mencoba mencari perhatian seperti kucing yang menggesekan tubuhnya pada tuannya. Namun sayang sikapnya tak direspon suaminya.


Hati Karin maki cemburu, namun Karin tak mau kalah dari sebuah ponsel.


"Mas. . . ." rengek Karin


"Eeeeemmmm, apa sayang?"


"Karin cemburu" ucap jujur Karin pada Ken


Dan sepertinya Ken mulai paham itu, diletakannya ponselnya di meja dan kembali menatap istrinya yang sudah manyun seperti ikan lauhan.


"Kemarilah. . !" pinta Ken.


Karin pun duduk di pangkuan Ken dan saling berhadapan. Karin melingkarkan tangannya di leher Ken.


"Apa yang membuat istriku ini cemburu? coba katakan pada mas?" tanya Ken sambil menyisihkan rambut Karin yang terurai ke depan dan meletakannya di belakang telinga karin.


"Tidak adakah waktu sejenak buat istrimu ini yang ingin di manja? apakah pekerjaan lebih penting dari istrimu ini yang ingin menikmati waktu bersama."


"Jadi waktu yang sudah mas luangkan ini masih kurang?" tanya Ken sambil mencubit hidung karin dengan lembut dan Karin hanya mengangguk karena memang itu yang dia rasakan.


"Karin hanya ingin mas bisa membagi waktu antara pekerjaan dan keluarga. Apa gunanya uang banyak jika tak bisa mendapatkan kebahagian keluarga."


"Baiklah. mas akan usahakan. Maaf kalau mas kurang menghabiskan waktu bersamamu. Kita akan memberikan adik buat Arthur. "


"Mas. . . kok malah mau buat anak."


"Gak papa kan, Arthur juga sudah besar, sudah waktunya punya adik lagi kan."

__ADS_1


"Karin belum siap mas, Karin masih takut jika masa lalu terulang lagi. Karin belum siap."


"Jangan kuatir. Mas akan selalu ada di sampingmu sampai kapanpun. Tak akan ku biarkan masa lalu terulang lagi. Kita bisa konsultasi dulu dengan dokter."


"Makasih, mas selalu ada buat karin dan gak ada niatan buat ninggalin Karin. Maaf Karin sempat berfikir negatif sama mas di saat Karin koma. Karin Takut mas kembali seperti dulu bahkan mas mencari wanita lain untuk mengantikan tugas karin." Karin memeluk Ken dengan erat.


"Mas akan selalu setia sayang, tak akan pernah mas lepaskan wanita seperti dirimu. hanya ada 1 dari ribuan wanita yang seperti dirimu. Tetaplah jadi istri kebanggaan mas dan menjadi ibu dari anak-anak mas." Ken mengusap pucuk rambut Karin dan membuat karin nyaman dan tertidur di pangkuan Ken.


Tak lama Anton menghubungi Ken dan sepertinya darurat dan Ken langsung mengangkatnya.


"Pak, maaf mengganggu malam- malam begini. Sepertinya bapak besok harus kembali. perusahan sedang ada masalah sepertinya ada penghianat yang menjual informasi perusahaan kita."


"Apa kamu bilang, bagaimana bisa itu bisa terjadi. Apakah kamu sudah mencari tahu siapa pelakunya?"


"Saya sudah berusaha pak, tapi maaf saya belum bisa menemukan pelakunya. Dia terlalu rapi menjalankan aksinya."


"Baiklah. tetap selidiki. Aku besok akan kembali dan sudah ku siapkan orang yang akan bisa membantumu."


"Siapa pak yang akan jadi rekan saya."


"Kamu tunggu saja. Terus kabari jika ada perkembangan. Tak kan ku biarkan penghianat lolos dari cengkeraman ku. Awas saja jika sudah ku dapatkan." Ken menahan emosinya takut Karin terbangun dari tidurnya.


Ken keluar kamar dan turun kebawah. Bola matanya berputar, berkeliling mencari seseorang. Tak lama pencariannya tehenti saat dirinya ditegur.


"Belum tidur mas." tegur Adit yang baru saja masuk dalam villa.


"Kebetulan kamu datang. Dari mana saja kamu? Mas sedang mencari dirimu. Ayo ikut mas! ada yang ingin mas bicarakan." Adit pun mengikuti ken ke halaman belakang.


" Ada apa mas? sepertinya ada hal penting?" tanya Adit.


"Kamu masih ingat kan dengan ucapan mu saat mas akan membiayai kamu kuliah? "


" Iya mas, Adit masih ingat. Gak mungkin Adit melupakan janji Adit yang sudah Adit buat sendiri."


"Bagus. Saat ini perusahaan mas membutuhkan dirimu. Besok ikut mas ke jakarta kamu bisa tinggal bersama kami dan bekerja di perusahaan mas."


"Iya mas. kapan pun mas membutuhkan Adit siap dan Adit pastikan tidak akan mengecewakan mas, ini bebagai balas budi karena telah mau membiayai Adit dan Juga Bima."

__ADS_1


"Mas pegang ucapanmu. Sekarang istirahatlah besok kita berangkat." Ken menepuk pundak Adit lalu pergi meninggalkannya.


Adit masih berdiri meyakinkan diri bahwa yang ia lakukan sudah benar dan tidak akan mengecewakan mbak Karinnya dan juga kakak iparnya.


Ken kembali ke kamar dan mendapati istrinya yang masih tidur nyenyak.


"Maaf mas harus merusak liburan kita kali ini dan harus kembali. Mas harap sayang bisa mengerti dengan keputusan mas." Ken mengecup kening Karin dan merebahkan tubuhnya.


Setelah beberapa saat Ken mencoba memejamkan mata namun sayang ia tak dapat tidur. Bebannya yang di pikul sangat berat.


Dia harus membersihkan penghianat perusahaan yang belum juga tertangkap, Ken juga harus mengorbankan kebahagiaan keluarganya serta harus mengorbankan Adit untuk menjadi umpan.


Entah apa semua keputusan ini akan di pahami karin apa lagi harus melibatkan Adiknya.


Tanpa Ken sadari karin terbangun.


"Mas. . .kok belum tidur? ada masalah apa mas?"


"Gak ada sayang. Mas cuma harus mengatakan ini pada sayang dan mas harap sayang bisa memahaminya."


"Katakan mas, jangan buat karin penasaran."


"Maaf mas harus merusak acara berlibur kita. Karena kita harus kembali ke jakarta, perusahaan sedang ada masalah."


"Kita pulang ya? sebenarnya Aku sedikit kecewa mas dengan keputusan mas yang mendadak ini. Tapi apa boleh buat, kita bisa berlibur lagi setelah masalah mas di kantor selesai, karin gak mau menambah beban mas."


"Makasih sayang sudah mau mengerti, mas janji setelah masalah ini selesai kita akan jalan- jalan keluar negeri, terserah sayang mau kemana akan mas turuti tapi harus menunggu sampai masalah ini selesai."


"Iya mas karin paham. Sekarang mas harus tidur mas juga harus jaga kesehatan."


"Baiklah tapi mas mau minta jatah dulu baru bisa tidur nyenyak."


"Gak ada jatah. Mas tidur aja."


Ken terus saja menggoda Karin untuk mengurangi sesikit beban yang sedang ia rasakan saat ini."


MAKASIH SUDAH MAMPIR BACA. MAAF TELAT UPDATENYA SO HPNYA GAK BISA DI AJAK KOMPROMI.

__ADS_1


JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAK LIKE, VOTE, HADIAH, FAVORIT. SELALU DI TUNGGU


__ADS_2