Bukan Salahku Menjadi Pelakor

Bukan Salahku Menjadi Pelakor
S-32


__ADS_3

Karin dan Ken merebahkan tubuhnya di ranjang pasien yang muat untuk berdua.


"Mas sekarang aku adalah istri mu, dan sedang mengandung anakmu, apakah mas masih akan kasar padaku?" Karin memiringkan kepalanya menatap Ken.


"Apakah sayang trauma dengan perlakuan kasarku? Dan apakah sayang mau memaafkan aku?."


"Aku gak pernah benci, dari awal aku sudah pasrah merelakan tubuh ini pada mas Ken, bahkan jika mas membunuhku aku rela."


"Yang benar, sayang rela mati buat mas. Kalau sekarang mas minta sayang bunuh diri apa sayang akan melakukannya?" canda Ken


"Tidak aku tidak mau melakukannya, itu membuatku sia-sia, setelah berjuang sampai sekarang. Dan aku juga belum menikmati indahnya pernikahan. Jadi jangan menyuruh Karin mati. Kalaupun Karin mati, Karin pasti akan menghantui mas seperti Waktu itu, mas ketakutan Karin dikiranya hantu." Karin mulai berani meledek Ken.


"Kan sudah ku katakan, aku tidak takut, aku hanya... eeeemmm."


"Hanya malu mengakui iya kan."


"Udahlah, mas gak mau becanda, mas gak suka." Ken memalingkan wajahnya dari pandangan Karin.


Karin sudah biasa melihat ken ngambek bahkan marah padanya.


"Baiklah, kalau mas marah, lebih baik Karin turun dan pergi, sepertinya Karin sudah bisa berjalan." Karin duduk dan menurunkan kedua kakinya.


"Mau kemana?" Tahan Ken.


"Mau turun, biasanya kalau mas marah pasti mau menjambak rambut Karin.


"Kembali Rebahkan tubuhmu" pinta Ken. Namun Karin tetap duduk, akhirnya Ken memilih memeluk Karin.


"Kamu sekarang adalah istri ku bukan budakku, tak mungkin aku akan menyakitimu lagi, aku tahu kamu sangat menderita hidup bersamaku dalam satu atap, tapi aku janji mulai sekarang akan menjadikanmu wanita satu-satunya dalam hatiku." Ken menempelkan kepala di pundak karin


Air mata mengalir di sudut mata mengalir ke pipi dan menetes membasahi tangan Ken yang sedang memeluk dirinya. Karin meremas sprei ranjang mencoba menahan air matanya.


"Menangis lah jika itu bisa meluapkan amarahmu, kebencianmu, sakit hatimu. asalkan itu bisa menghapus kesedihanmu."


Karin menarik tangan Ken dan menciumi punggung tangannya. "Aku sangat bahagia sekali, bisa mendapatkan hati mas Ken, walaupun sejujurnya tak ada niatan ku, untuk merusak rumah tangga kalian. Tapi aku janji akan menjadi istri yang setia dan patuh pada suami, seperti pesan ibu padaku dulu."

__ADS_1


Saat sedang ngobrol tiba-tiba saja lampu mati semua dan membuat ruangan gelap gulita. Ken memeluk erat Karin sampai Karin kesulitan bergerak. Tak ada suara yang keluar dari mulut Ken.


"Mas, kamu kenapa? Tolong jangan erat-erat pelukannya, Karin gak bisa nafas?" Karin sedikit meronta Karena terlalu erat namun tetap saja Ken tak mau melepaskannya.


Tak lama pintu terbuka dan berjalan sesosok dengan baju berwarna merah, tak terlihat wajahnya yang terlihat warna merahnya saja.


Ken bersembunyi di balik tubuh Karin, yang kecil itu. karena baju merah itu berjalan menghampiri keringat dingin membasahi tubuh Ken dan jantungnya berdetak kencang.


Akhirnya lampu pun menyala, dan terlihatlah sosok wajah-wajah manusianya.


"Pak, anda kenapa?" tanya Anton yang melihat bosnya sembunyi di balik tubuh Karin.


"Kelihatannya mas Ken ketakutan melihat kamu." Karin tertawa kecil." Mas sudah jangan takut lagi, itu Anton bukan hantu." Karin menyadarkan suaminya yang masih takut.


"Apa... aku di bilang hantu, sungguh keterlaluan bapak ini, orang masih hidup di sangka hantu."


Ken melempar bantal kearah arah Anton."Kamu yang keterlaluan, ngapain malam-malam kesini, pakai baju merah lagi dan berjalan di kegelapan."


"Kok nyalakan saya pakai baju merah, salahkan saja fobia bapak. Saya kan kesini cuma mampir dan mana tahu kalau lampu mau mati pas saya di depan pintu."


"Kedua-duanya Karin, makanya Pak Ken kalau keluar malam gak pernah sendiri pasti minta aku menemaninya. Sangat aneh kan, laki-laki keren, tegas, galak, angkuh, egois, sangat takut dengan hal mistis." ledek Anton.


Ken tak dapat menjawab karena omongan Anton memang benar. "Sayang, apa kamu tak malu mengetahui kalau suamimu ini paling takut sama gelap." Ken memandang lekat Karin.


"Tidak, ku tidak akan malu, semua manusia pasti ada kurangnya termasuk mas, kita akan membantu mas menghadapi fobia mas, agar bisa melindungi istri mas dalam keadaaan apapun." Karin memeluk suaminya dan menenangkannya, karena jantungnya masih berdetak kencang.


"Pak, aku kesini tadi cuma mau bilang ke bapak, apartemennya sudah siap, tinggal di tempati." jelas Anton.


Karin hanya memandang kedua pria dengan penuh tanda tanya.


"Anton, mas suruh mencari apartemen sementara untuk kita tinggal yang tak jauh dari sini, soalnya sayang harus sering kontrol kerumah sakit, biar gak terlalu jauh." jelas Ken yang merebahkan diri diranjang.


"Makasih ya Anton, kamu selalu menjaga dan menemani Suamiku, kami tak akan pernah melupakan semua jasa-jasamu."


Anton pun pergi, merasa tidak nyaman menggangu malam-malam.

__ADS_1


"Mas...mas mau tidur." Tanya Karin melihat Ken yang memejamkan mata.


" Belum, memangnya kenapa?" tanya Ken namun tak membuka mata.


"Mas, aku lapar, aku gak bisa tidur dengan posisi perut lapar."


Ken membuka matanya dan duduk, "Sayang mau makan apa?"


"Kupaskan buah aja, itu cukup mengganjal sementara sampai pagi."


Ken pun berjalan kearah kulkas dan mengambil beberapa buah.


Ken dengan penuh kasih sayang melayani istrinya yang lemah, yang susah bergerak karena infus mengulanginya untuk melakukan sesuatu mungkin sampai beberapa hari ke depan, hingga Karin benar-benar pulih, karena semua obat-obatan masuk lewat infus.


"Mas, bolehkah aku meminta sesuatu?"


"Katakan saja mau apa." ucap Ken sambil mengupas buah.


"Jika nanti aku sudah sehat, bisakah mas membantuku mencari temanku, dia hilang kontak dengan keluarganya."


"Emang siapa namanya?" tanya Ken


"Namanya Nisa, dia sahabatku waktu sekolah, kami sempat tak akur, karena rebutan cowok, tapi walau bagaimanapun dia tetap sahabatku." jelas Karin


Namun Ken tiba-tiba sersedak mendengar nama Nisa keluar dari mulut Karin. "Gak usah mencarinya, aku gak mengizinkan kamu kemana, apa lagi mencari orang yang gak penting."


Wajah Karin langsung kusut, mendengar larangan suaminya dan memilih menyembunyikannya di balik selimut.


"Jangan marah, katakan mau nurut sama perkataan suami, Jadi sekali aku melarang tetap akan ku larang, lagian mendengar namanya saja aku gak selera, bagaimana bisa dia menjadi sahabatmu."


"Dia baik kok, mas belum pernah kenal kan sama di kok, sudah menilainya seperti itu."


"Aku Tahu semuanya, dia juga pernah menjadi salah satu wanita yang ditunjukan padaku, tapi entah kemana aku memilih kamu dan satu hal lagi dia tidak akan melihat dunia luar untuk waktu yang lama jadi jangan mencarinya."


"Maksud mas?" Karin dibuat bingung oleh Ken.Ken tak menjawab hanya memeluknya.

__ADS_1


__ADS_2