
Kebahagiaan yang datang dari Ken adalah kesedihan buat Karin. Ken akan meninggalkan Karin selama satu Minggu keluar negeri untuk urusan pekerjaan, dan Karin sekarang harus tinggal sendirian dan hanya di temani penjaga rumah, sedangkan Bi Ani izin cuti pulang kampung menjenguk anaknya.
Ken yang sudah bersiap-siap, dan berpamitan pada Karin.
"Hai... sayang ku, jangan menangis, aku hanya sebentar saja." Ken menghapus air mata Karin yang membasahi pipinya.
"Karin, gak papa, sepertinya dia yang sedih." Karin menunjuk pada perutnya.
Ken berjongkok di depan Karin, Sambil mengusap perut Karin." Jaga mamamu Baik-baik, papa pergi sebentar." Ken kembali mengecup kening Karin." Jaga diri baik-baik, aku berangkat dulu" pamit Ken dan pergi meninggalkan karin.
Setelah Ken pergi, seharian tak ada aktivitas yang dilakukan Karin. Sore harinya Karin berencana pergi belanja kebutuhannya.
Saat keluar betapa terkejutnya Karin, melihat scurity dan pak sopir sedang dihajar oleh dua pria bertubuh kekar dan tampak mereka sudah tak berdaya.
Tak lama seseorang keluar dari dalam mobil, orang yang Karin kenal dia adalah Sasa.
" Mbak Sasa kenapa buat keributan di sini?" Ucap Karin yang sedikit kesal karena seenaknya saja menghajar orang tanpa sebab.
"Apa kabar karin, lama kita tidak bertemu." Sasa mendekati Karin perlahan.
"Aku baik, ada apa mbak Sasa datang kemari, tuan Ken tidak ada dirumah." jawab Karin yang memang sudah merasa ada yang salah dengan kedatangannya.
Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Karin." Dasar p*lac*r, wanita murahan, gara-gara kamu, mas Kenzo mau menceraikan aku. Dasar pelakor, kamu gak pantas ada didekat mas Kenzo." ucap Sasa sambil menjambak rambut Karin
"Ampun mbak sakit, aku gak merebut tuan dia yang menginginkanku, bukankah dari awal hubungan kalian juga tidak baik." ucap Karin. Sasa mendorong tubuh Karin hingga membentur dinding.
"Aaauuuhhhh." Karin memegang dahinya yang memar dan pipinya yang merah bekas tamparan.
"Ini pelajaran buat kamu, dan satu lagi aku ingin kamu gugurkan kandungan mu, aku tahu kamu sedang hamil anak mas Ken kan, tapi aku tidak menginginkannya. Hanya Joy yang akan menjadi pewaris satu-satunya harta mas Ken. Jadi kamu gugurkan sendiri kandunganmu atau aku yang akan memaksamu melakukannya.
"Tidak akan, sampai kapanpun aku tidak akan pernah menggugurkan kandunganku, dia anakku kamu tidak berhak, mengambil nyawanya dariku." Karin bangkit berdiri melawan Sasa, kesabarannya terusik saat Sasa ingin melukai anaknya.
__ADS_1
"Jadi kamu tidak mau menggugurkannya, baik biar aku sendiri yang memaksamu." Sasa memanggil pengawalnya untuk membawa Karin.
"Jangan harap kau bisa menyentuh janinku, sampai kapanpun tak akan pernah kubiarkan." Karin mendorong tubuh Sasa dan mencoba berlari melepaskan diri dari hadangan dua pengawal Sasa.
"Berhenti Karin, tak kan ku biarkan kamu lolos begitu saja, dasar Pel*c*r" teriak Sasa.
Karin terus berlari dan terus berlari mencoba menyelamatkan diri dari kejaran pengawal Sasa.
Karin pun sampai di tepi jalan raya bingung mencari arah berlari. Tak jauh dari Karin berhenti Sandi pun lewat dan singgah menghampiri Karin.
"Karin kamu kenapa?" Tanya Sandi saat membuka kaca mobilnya.
"Dokter... dok tolong bawa saya pergi dok, saya di kejar-kejar." Tanpa permisi Karin pun masuk mobil Sandi Karena sudah darurat.
Sandi pun segera membawa pergi menjauh dari kejaran pengawal Sasa. Jantung Karin berdetak kencang, nafasnya tak beraturan, peluhnya membasahi tubuhnya.
"Terimakasih dok, sudah menyelamatkan saya"ucap Karin dengan nafas yang masih ngos-ngosan.
Sandi merasa penasaran dengan apa yang terjadi pada Karin, Apa lagi Karin sedang hamil, gak seharusnya mengalami hal seperti ini.
Sebelum Sandi sempat bertanya, Karin sudah pingsan. Sandi langsung membawa Karin ke apartemen miliknya.
Sasa yang kehilangan jejak Karin memerintahkan pengawalnya untuk menemukan keberadaan Karin dan mengawasi kediaman Karin.
"Cari terus keberadaan Karin jangan sampai dia lolos, aku ingin ibu dan janinnya mati. Bereskan sisanya jangan sampai meninggalkan jejak." Sasa pun pergi dan para pengawal membersihkan semua kekacauan yang ada dan membuatnya kembali seperti semula seolah-olah tidak terjadi sesuatu, dan menyekap security yang menjadi saksi atas perlakuan Sasa pada Karin.
____
Tubuh Karin di letakkan di ranjang. Sandi melepas sepatu Karin yang dikenakan dan terdapat beberapa luka lecet di kaki Karin.
Sandi mengobati luka di kakinya dan memar di wajahnya, dan membiarkan Karin istirahat.
__ADS_1
Sandi menebak-nebak apa yang terjadi pada Karin, Salah satu tebakannya adalah KDRT.
"Karin, Kenapa suamimu tega melakukan itu padamu? tega menyiksa kamu yang sedang hamil."
Setelah beberapa jam kemudian, Karin pun sadar dan memandang langit langit kamar.
"Karin kamu sudah sadar." Sandi yang sedang duduk di pinggir ranjang.
"Mas sandi saya di mana?" tanya Karin yang merasa asing dengan kamar yang ada.
"Kamu di apartemenku, aku membawa mu kemari karena aku tak tahu tujuan mu, dan kamu keburu pingsan.
"Terimakasih mas, sudah menolong Karin. Karin tak tahu lagi apa yang akan terjadi jika mas Sandi tidak datang tepat waktu." ucap Karin sambil menitikkan air mata.
"Sudahlah nanti aja terimakasih nya, sekarang yang terpenting kamu baik-baik saja. kamu aman disini tak akan ada yang menemukanmu. Sekarang kamu istirahat saja di ranjang kakimu terluka, kalau kamu perlu apa-apa bilang saja padaku, aku keluar sebentar membeli sesuatu, ingat jangan kemana-mana." ucap Sandi dan pergi meninggalkan Karin sendirian.
Di kamar Karin menangis mengingat, perlakuan Sasa pada dirinya. Karin tak menyangka Sasa tega melakukan itu padanya bahkan ingin membunuh janinnya. Ucapan Sasa masih terngiang-ngiang ditelinga Karin yang menuduhnya sebagai pel*c*r, dan perebut suaminya.
"Aku bukan pelakor, aku bukan pel*c*r. Aku juga gak ingin seperti ini, menjalani kehidupan yang tak pernah terbayangkan oleh ku, jika waktu memberikan kesempatan untuk berjalan mundur, aku tak akan pernah berharap bisa bertemu dengan tuan Ken."
"Tuan, ini semua salahmu, kau terlalu Egois menyakiti dua hati wanita." Karin menangis terisak-isak cukup lama sampai Sandi kembali.
"Ada apa Karin? kenapa kamu menangis?" Sandi menghampiri Karin. Karin pun langsung memeluk Sandi.
"Mas aku bukan pel*c*r, aku bukan pelakor. Dia yang membawaku masuk dalam kehidupannya, dia yang membuatku terikat." tangis Karin membasahi kemeja Sandi.
"Tenang Karin, tenang, semua bisa di selesaikan secara baik-baik, semua pasti ada jalan keluarnya, kamu tenang dulu ya."
"Tapi...tapi dia mau membunuh calon bayiku, dia gak mau anakku lahir kedunia. Aku takut jika harus kehilangan bayiku, dia darah dagingku, aku tak ingin kehilangannya." tangis Karin makin menjadi.
"Iya Karin, tak akan ada yang bisa membunuh anakmu, siapapun itu. Sekarang kamu tenang, kasian janin mu akan terganggu jika kamu stress, kamu tenang, kamu aman bersamaku." Sandi mengusap pucuk rambut Karin untuk menenangkannya.
__ADS_1
Terimakasih sudah mampir jangan lupa tinggalkan jejak 👍❤️⭐🧿✍️ di tunggu.