
Reval yang sudah mengetahui jadwal Arthur pulang sekolah, menunggu di dekat gerbang.
Tak lama Arthur dan Joy pun pulang yaitu sekitar jam empat sore.
Reval datang menghampiri Arthur dengan membawa robot kesukaan Arthur.
"Halo Arthur, masih ingat dengan om?" tanya Reval saat menyapa Arthur.
"Om Reval, temannya bunda Karin?" jawab Arthur.
"Ada apa om kemari?" tanya Arthur.
"Om kesini mau menjemput kamu, bundamu tadi yang meminta om untuk menjemput." jelas Reval.
"Siapa dia Arthur?" tanya Joy yang sedikit curiga.
"Kenalin ini om Reval temannya bunda Karin dan om Reval ini Joy kakak Arthur." Arthur pun memperkenalkan dan mereka pun saling berjabat tangan.
"Arthur, tadi bagi mama bilang kalau kita akan di jemput sopir bukan om Reval."
"Joy, jangan kuatir om ini gak ada niatan jahat. Om ini teman baik mama kamu. j
Arthur juga tahu itu." bujuk Reval.
"Ayolah Joy, kita ikut om Reval, daripada gak di jemput supir, emang kamu mau menunggu sampai malam di sini. Om Reval ini orangnya baik kok." Joy pun terpaksa mengikuti permintaan Arthur untuk ikut bersama Reval, walaupun Joy masih tak percaya Reval tak macam-macam padanya karena tingkahnya yang sedikit mencurigakan.
Akhirnya, Reval pun membawa Joy dan Arthur pergi meninggalkan sekolah, tak lama kemudian Karin dan Ken datang untuk menjemput namun sekolah nampak sudah sepi.
Ken turun, untuk bertanya pada scurity sekolah. namun jawabannya membuat Ken cemas dan langsung kembali ke dalam mobil.
"Mana Arthur dan Joy mas?" tanya Karin.
__ADS_1
"Ada pria yang menjemput mereka dan itu lain orang yang biasa menjemputnya, scurity bilang katanya itu suruhan kamu." Jelas Ken.
"Aku gak ada berpesan apa-apa pada mereka aku hanya bilang kalau supir yang yang biasa antar jemput yang menjemput mereka berdua. Terus siapa yang menjemput mereka mas, aku takut mereka kenapa-kenapa." Karin pun mulai cemas dan segera menghubungi orang rumah menanyakan keberadaan kedua putranya apa sudah pulang, Namun jawabannya nihil.
Scurity itu pun mengetuk kaca mobil Ken.
"Jika anda ingin melihat orang yang menjemputnya, kalian bisa lihat dari cctv siapa tahu kalian kenal, soalnya saat saya perhatikan Arthur terlihat akrab dengan pria itu." Ken dan Karin pun bergegas melihat layar monitor yang ada di pos dan melihat kejadian beberapa menit yang lalu.
Alangkah terkejutnya Karin melihat siapa yang datang. Pria yang selama ini sering menemuinya didekat sekolah anaknya. Reval adalah pria yang membawa pergi Arthur dan Joy.
"Brengsek kamu Reval, apa yang kamu rencanakan dengan membawa anak-anakku." Ken meninju Diding pos meluapkan emosinya.
"Mas, Arthur dan Joy. Mas Reval membawa mereka kemana? aku gak mau terjadi apa-apa pada kedua putraku mas." Karin pun menangis mengkhawatirkan kedua putranya.
"Tenang sayang, lebih baik kita pulang dulu. Mas akan berusaha mencari mereka. Sayang gak usah kuatir, ingat sayang juga sedang mengandung, kasian janin sayang kalau sayang sedih." Ken pun membawa kembali pulang istrinya dan langsung meminta Anton dan Adit ikut membantu mencari putranya.
_______
"Om, kita ini mau kemana? ini bukan jalan arah kita pulang kerumah?" tanya Joy dan Reval menjawab dengan santai.
"Om tahu, ini bukan jalan menuju rumah kalian, om hanya ingin mengajak kalian jalan-jalan sebentar saja. Apa kamu tak suka Joy?"
"Hore... kita jalan-jalan, om baik banget. Tapi om Arthur lapar. Arthur ingin makan." saut Arthur dengan lugunya.
"Baiklah kita akan cari restoran dan kita akan makan sepuasnya." Reval pun melajukan kendaraannya hingga sampai ke sebuah restoran. Mereka pun segera memarkirkan mobilnya dan masuk dalam sebuah restoran.
Di sana mereka memesan beberapa menu makanan dan Arthur begitu lahap memakannya.
Tak lama mereka berdua pun merasa mengantuk dan tertidur pulas. Reval tersenyum jahat merasa sudah mendapatkan tahanan.
"Apa yang akan kamu lakukan Ken, anak-anakmu sekarang berada di genggaman ku."
__ADS_1
______
Karin terus saja menangis, mengetahui kedua putranya sedang di culik oleh orang yang sama sekali tak pernah membayangkan dia tega melakukan itu.
"Mas Reval, apa yang kamu lakukan kenapa ku tega menculik anak-anakku, apa salah mereka padamu sampai kamu tega melakukan itu."
Ken berusaha mencari jejak keberadaan Reval namun keberadaannya tak terlacak. Anton mendesak Dinda yang sudah disekap Anton untuk menunjukkan tempat-tempat persembunyian kakaknya namun Dinda menutup rapat mulutnya tak mau memberitahu.
Adit pun tak tinggal diam, berusaha mencari keberadaan kedua keponakannya walaupun disisi lain Adit merasa bimbang dengan Dinda, ingin rasanya dia juga bisa membebaskan Dinda tapi bingung mana yang harus di dahulukan, antara wanita yang mulai ia sukai dengan kedua keponakannya.
Malam semakin larut, Namun hasil tetap nihil. Tiba-tiba saja ponsel Karin berdering dan itu dari Reval.
"Halo sayang, apa kabar? apa kamu sekarang sedang bingung mencari kedua putra mu." ucap Reval.
"Mas apa yang mas Reval mau, jangan sakiti anak-anakku, tolong kembalikan mereka."
"Tenang sayang, kedua anakmu baik-baik saja, mereka aman di tanganku. Jika kamu ingin anak-anakmu kembali, persyaratannya mudah dan harus bisa kamu penuhi, jika tidak kamu tak akan melihat lagi kedua putramu."
"Apa maksudmu mas, apa yang kamu inginkan dariku. aku gak nyangka kamu sejahat itu, aku kira kamu pria baik."
"Kamu.... kamu yang sudah membuatku nekat melakukan ini." bentak Reval.
"Sabar sayang, aku ingin bermain sebentar dengan suamimu yang sok baik dan sok setia itu. Biarkan aku bermain dengan puas setelah itu akan ku beritahu persyaratannya agar anakmu bisa kembali padamu." Reval pun langsung mematikan panggilannya dan menonaktifkan nomornya membuat Karin menjadi-jadi tangisnya.
Ken pun menyewa orang-orang yang bisa di percaya untuk mencari keberadaan Arthur dan Joy namun semua juga belum mendapatkan kabar.
Disisi lain Dinda sedang di ikat di sebuah kursi, tak dapat berbuat apa-apa selain teriak tertahan karena mulutnya yang tersumpal.
"Kak Reval tolong Dinda, Dinda gak mau lama-lama disini. Dinda bisa mati. kak tolong Dinda." teriak Dinda dalam hati.
Adit yang sedang berjaga di tempat Dinda di sekap hanya bisa mengintip dari lubang kunci tak berani untuk membantu membebaskannya. Adit merasa kasihan dengan wanita yang mulai ia sukai.
__ADS_1
"Maafkan aku, saat ini aku belum bisa membantumu. tapi aku akan mencari cara agar kamu bisa bebas dari tempat ini." gumam Adit.