
Setelah lelah bermain key pun tertidur pulas di pangkuan Rara. Varo pun dengan hati-hati mengangkat key dan membaringkan tubuh key di ranjangnya.
" Apa kamu lapar?" Tanya Varo dengan lembut, saat memperhatikan Rara memegang perutnya dan masih duduk di sofa kamar key.
"Tentu saja aku lapar, dari tadi belum makan. Bahkan cemilan pun tak ada." saut Rara dengan ketus.
"Kalau lapar kamu bisa masak di dapur. Pembantu di sini sedang cuti dan babysitter key sudah mengundurkan diri, kerena gak tahan dengan sikap key akhir-akhir ini."
"Apa kamu mau menemani? Aku gak terbiasa makan sendirian, paling tidak selalu ada ibu yang selalu menemaniku."
"Iya baiklah, kebetulan aku juga belum makan. Lihat saja apa yang ada di lemari pendingin yang bisa di masak, aku gak paham urusan dapur."
Rara dan Varo pun pergi ke dapur bersama. Rara melihat isi kulkas hanya ada beberapa jenis sayuran, dan ikan. Rara pun mengambil bahan-bahan yang hendak ia masak.
"Mau masak apa?" Varo menghampiri Rara yang sedang memotong sayuran.
"Aku mau masak sayur oseng sama goreng ikan, soalnya hanya ada ini saja yang tersisa."
"Sini biar aku yang bantu potong, kamu bersihkan ikannya biar cepat selesai, karena sudah malam takutnya nanti kamu bisa sakit kalau terlambat makan." Varo pun mengambil alih untuk memotong sayur.
"Ternyata dia baik dan perhatian juga, gak seperti penampilan luarnya yang sangat menyebalkan." Gumam Rara sambil tersenyum dan memandang wajah tampan Varo yang memiliki hidung mancung.
Mereka pun masak bersama hingga selesai dan siap untuk di nikmati.
Varo begitu menikmati makanan yang Rara buat bahkan ia sampai nambah walau hanya dengan tambah seadanya.
"Oya aku belum sempat bertanya denganmu? Kenapa kamu memilih kuliah di Amerika bukankah di sini banyak universitas ternama dan bisa di bilang sudah kelas internasional?"
__ADS_1
"Ini bukan kemauan dariku, tapi papa yang memaksaku untuk kuliah di sana. Kalau aku bisa memilih kuliah di sini saja gak masalah yang penting bisa selalu dekat dengan keluarga bagiku itu yang lebih membuatku bahagia."
"Kenapa kamu gak jujur dengan papamu, apa yang kamu mau?" Rara hanya menggelengkan kepalanya Dan tak melanjutkan pembicaraannya ia langsung mengantar piring kotor bekas makan dirinya dan juga Varo di tempat cucian piring.
"Hidup menjadi orang sederhana itu simpel, melakukan segala sesuatu sesuai keinginan hati , tanpa beban dan tanpa drama. Berbeda dengan kehidupan menjadi orang kaya dan terpandang, melangkah satu langkah saja banyak peraturan dan juga banyak drama. Walau terlihat ringan tapi sebenarnya memikul beban yang berat. Benar kan ucapanku?" Ucap Rara sambil mencuci piring.
"Bijak sekali ucapanmu, aku kira pemikiran mu sama seperti usiamu yang masih kekanak-kanakan, gak tahunya kamu juga bisa berpikir dewasa." Saut Varo sambil memandang Rara.
"Mulai lagi ni orang." Gerutu Rara. Ia lalu membalikkan badan dan berkacak pinggang, "Kamu pikir anak kecil gak bisa berpikir dewasa, asal kamu tahu ya. Dari kecil aku sudah di paksa untuk berfikir dewasa dan memutar otak biar bisa bertahan hidup di pengasingan."
"Maksudmu?"
"Ahhh, sudahlah... Orang seperti dirimu manalah paham dengan apa yang aku ucapkan." Rara tiba-tiba terdiam, ia mengingat kenangan saat pertama kali bertemu dengan Joy. Tiba-tiba saja Rara meneteskan air mata hal itu membuat Varo kuatir dan langsung memeluk Rara untuk kali pertamanya.
"Kenapa semua terasa tak adil bagiku. Aku mencoba kuat, menerima semua dengan lapang dada. Menerima kenyataan yang menyakitkan yang membuatku harus menelan bulat-bulat pil pahit kehidupan."
"Baru kali ini, hatiku merasakan kesedihan, saat dirinya sedang bersedih. Bahkan berat rasanya untuk melepaskan dirinya, apa mungkin aku mulai jatuh cinta dengan gadis belia ini." Gumam Varo yang masih memeluk Rara.
ππππ
Joy, sedang dalam dilema, membuatnya bingung untuk mengambil keputusan, di satu sisi ia masih mencintai Nabila namun ia lebih memilih karirnya daripada dirinya, dan di sisi lain Rara selalu ada si saat dirinya membutuhkan perhatian.
Joy tak bisa tidur berkali-kali merubah posisi tidur, namun tetap saja ia masih gelisah. Di tambah lagi rasa cemburu yang mulai hadir saat Rara bersama dengan Varo sahabatnya.
Joy duduk dan mengacak rambutnya dengan kasar.
"Apa yang harus aku lakukan, kenapa aku harus di hadapkan dengan hal seperti ini." Joy pun mengambil jaket dan kunci mobil. Ia bergegas keluar kamar dan ingin pergi.
__ADS_1
Joy pergi ke bar, ia ingin menenangkan pikiran. Ia pergi seorang diri dan memesan Vodka. Di temani dengan alunan musik, Joy makin menjadi-jadi hingga ia mabuk dan tak mampu untuk berjalan pulang.
Dengan menyandarkan kepalanya di meja bar tak berdaya."Jangan tinggalkan aku Ra, aku gak bisa hidup tanpamu." Ucap Joy di sela-sela mabuknya.
ππππ
Suara ponsel Rara berdering di sakunya, saat dirinya sedang bersama dengan Varo menikmati acara di tv sambil menunggu kantuk datang.
Seorang bartender menghubungi Rara memberitahu Rara bahwa Joy sedang ada di salah satu bar dan sedang mabuk berat dan ia meminta untuk menghubungi dirinya untuk menjemputnya. Rara pun segera mengiyakan dan mematikan ponselnya.
"Ada apa Ra?" Tanya Varo, yang melihat Rara tiba-tiba cemas.
"Kak Joy sedang mabuk di salah satu bar, dan ia memintaku untuk menjemputnya. Sepertinya aku harus segera pergi, aku gak mau terjadi apa-apa dengan kak Joy."
"Biar aku temani. Aku gak mau kamu pergi sendirian apa lagi di tempat seperti itu tengah malam."
"Tapi bagaimana dengan key?"
"Tidak papa, key gak akan bangun malam-malam, nanti biar aku bilang dengan scurity untuk menjaga key." Varo pun segera kunci mobil dan Rara mengambil tasnya lalu bergegas pergi menjemput Joy.
Rara nampak cemas, sebab semenjak ia bersama dengan Joy, tak pernah dapati kakaknya itu mabuk-mabukan." Apa ini semua gara-gara ucapanku. Aku akan menyalakan diriku sendiri jika terjadi sesuatu dengan kak Joy." Gumam Rara dan kecemasannya begitu ketara di wajahnya.
"Gak usah terlalu cemas, Joy pasti gak papa. Namanya laki-laki mabuk itu adalah hal biasa hanya untuk menghilangkan beban sesaat" Varo menggenggam salah satu tangan Rara mencoba menenangkannya.
"Aku harap begitu, masih sudah menenangkan perasaanku." Rara pun sedikit tersenyum pada Varo yang sedang mengemudi mobilnya.
Mereka pun akhirnya sampai di bar yang di maksud bartender tadi. Rara nampak ragu untuk masuk kedalam. Varo mengandeng Rara dan mengajaknya masuk untuk menemui Joy.
__ADS_1
"Tenang saja, aku akan menjagamu."