Bukan Salahku Menjadi Pelakor

Bukan Salahku Menjadi Pelakor
season 2. Adikku


__ADS_3

Penyambutan kedatangan Karin serta ulang tahunnya berjalan dengan lancar, semua keluarga yang hadir turut merasakan kebahagiaan.


Setelah selesai mereka pun memilih menginap di hotel, dan Nabila memilih tinggal di kediaman Ken.


Malam semakin larut, dan semuanya memilih untuk beristirahat. Setelah Sekian lama pergi, kamar yang Pernah menjadi saksi bisu kebahagiaan sepasang suami istri tak ada yang berubah, semua nampak sama seperti terakhir kali Karin menempatinya.


Karin mengambil Foto yang terpajang di nakas, foto dirinya saat masih muda.


"Mas masih menyimpan ini?" tanya Karin sambil memperlihatkan foto dirinya yang baru ia ambil. Ken pun mengangguk dan mengambil dari tangan Karin.


Ken memandangi foto tersebut, " Hanya ini yang bisa ngobati rinduku padamu."


"Apa mas, masih sayang padaku? lihatlah diriku kini sudah tua, kulitku mulai keriput dan rambutku mulai beruban sedangkan mas, masih nampak awet muda."


"Aku tak peduli pada kondisi fisikmu yang sekarang, yang terpenting bagiku, kamu ada di sampingku dan menghabiskan sisa umur bersama. Cinta dan sayangku sudah ku labuh kan padamu sejak pertama kali aku memilikimu dan aku sudah berjanji akan selalu setia dan tak akan menduakan cintaku." Ken pun merebahkan tubuhnya di samping Karin, "Hari ini hatiku sangat bahagia, bisa mendapatkan kembali tulang rusukku yang hilang."


Karin pun menyandarkan kepalanya di dada Ken dan memeluk tubuhnya. Tak terasa air mata menetes membasahi pipi. " Terimakasih Tuhan, engkau telah menyatukan kami kembali, Izinkan aku untuk bisa tetap bersamanya, sampai maut memisahkan." gumam Karin.


πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚


Rara membawa bantal dalam pelukannya dan berdiri tepat di depan pintu kamar orang tuanya. Saat ingin mengetuk pintu tersebut tangannya di tahan Arthur.


"Apa yang kamu lakukan malam-malam begini mengetuk pintu kamar orang tua kita?" tanya Arthur sambil menarik tubuh Rara menjauh dari pintu.


"Aku... mau tidur dengan ibu, aku gak bisa tidur."jawab Rara


"Apa??? kamu yang sudah sebesar ini masih tidur dengan bunda, apa kamu gak malu dengan usiamu yang sudah remaja."


"Memang apa salahnya, ibu selalu menemaniku dan memelukku saat aku gak bisa tidur atau sedang sedih." Rara pun berlari dan kembali ke kamar sambil menangis. Arthur terdiam memandang kepergian Rara. Mulutnya ingin memanggilnya namun lidahnya tiba-tiba terasa kelu hingga tak dapat mengeluarkan satu kata pun dari mulutnya.


"Apakah aku pantas menjadi seorang kakak untuk Rara, sepertinya dia lebih nyaman mendapatkan perhatian kak Joy. Tidak- Tidak. Rara adik kandungku Dan aku kakaknya, ini adalah salah satu tanggung jawab ku, harus membuat dirinya bahagia. Baik mulai besok aku akan membuatnya selalu tersenyum." ucap Arthur dalam hatinya dan ia pun melanjutkan langkahnya untuk ke dapur.

__ADS_1


Saat ia sedang mengambil minuman di dalam kulkas, Ia teringat lagi dengan Rara, apa yang terjadi padanya, sampai ia tak bisa tidur? apa karena dia belum terbiasa tinggal di sini atau dia sedang ada masalah, apa aku harus bertanya langsung padanya? sepertinya dia belum tidur." Gumam Arthur namun langkahnya begitu berat untuk menghampiri Rara.


πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚


Keesokan harinya semua berkumpul di meja makan, namun salah satu kursi masih kosong.


"Dimana Rara?" tanya Karin yang tak mendapati putrinya.


"Mungkin masih di kamar atau malah belum bangun." jawab Arthur.


"Bi... panggil Rara untuk sarapan!" perintah Ken.


"Biar aku saja yang memanggilnya." saut bersamaan antara Joy dan Arthur.


"Kaka temani saja Nabila, gak enak kalau ditinggal biar aku saja yang memanggilnya." ucap Arthur dan pergi menghampiri kamar Rara sedangkan yang lain menunggu.


Tok... tok...tok...


Beberapa kali ketukan pintu dari Arthur tak mendapat jawaban. Arthur pun mencoba membuka pintu dan ternyata pintu itu pun tak terkunci.


Kamarnya begitu berantakan, semua barang tak tersusun dengan rapi, bahkan alat make-up pun berhamburan.


Arthur melihat Rara masih tertidur di ranjang dengan selimut menutupi seluruh tubuhnya.


Arthur membuka gorden jendela, membiarkan cahaya masuk, dan ia pun membuka selimut yang menutupi tubuh Rara.


"Ra... bangun, semua orang sudah menunggumu di bawah untuk sarapan, kenapa kamu malah masih tidur." ucap Arthur membangunkan Rara.


"Jangan tunggu aku, kalian duluan saja, aku masih ngantuk." ucap Rara dengan mata yang masih terpejam dan rambut acak-acakan.


"Apa kamu mau membuat kita semua tak sarapan pagi, papa tak akan memulai sarapan kalau semuanya belum berkumpul, Ayolah Ra, kamu sekarang bukan lagi gadis desa. Kamu itu anak papa dan bunda dan juga adikku, hilangkan semua kebiasaan burukmu, gak sepantas-nya kamu masih seperti ini."

__ADS_1


"Jadi kakak bawel banget sih." saut Rara singkat.


"Apa kamu bilang kakakmu ini bawel." Arthur melotot dan tanpa ba bi bu Arthur mengangkat tubuh Rara dan membawanya ke kamar mandi.


"Sekarang cuci wajahmu dan sikat gigimu. Arthur mengambil sisir dan menyisir rambut Rara yang berantakan dari belakang.


"Aku bisa nyisir rambut sendiri, gak perlu disisirin."


"Gak usah cerewet, nunggu kamu bersiap, aku bisa terlambat ke kantor. kalau sudah selesai ayo cepat turun."


"Kakak bisa keluar dulu gak?"


"Kenapa kamu mengusirku?"


Rara dengan gregetan, mendorong tubuh Arthur keluar kamar mandi." Kakak turun dulu, Rara mau buang air, nanti Rara nyusul." ucap Rara yang berada di balik pintu kamar mandi.


"Baiklah, tapi cepat, aku bisa terlambat." Arthur pun keluar kamar dan kembali ke meja makan. Semua orang masih menunggu Rara.


"Mana Rara adikmu?" tanya Karin.


"Bentar lagi Rara turun Bun." jawab Arthur.


Joy berkali-kali melirik ke arah kamar Rara. Sedangkan Nabila memperhatikan tatapan Joy.


Tak lama Rara pun muncul dan langsung menghampiri ibunya dan menciumnya. Dan duduk bersebelahan dengan Karin dan juga Arthur sedangkan di depannya Joy.


Dengan datangnya Rara, sarapan pagi pun bisa di mulai. Seperti seorang istri,Nabila melayani joy dengan mengambilkan sarapan Joy, dan itu membuat hati Rara panas, ia hanya memegang sendok dan garpu sedangkan di hadapannya hanya ada nasi dalam piring.


Arthur yang sedari tadi memperhatikan keduanya saling memandang dalam diam, Arthur pun mencoba memecah kebisuan itu. Ia mengambil beberapa lauk makan dan meletakkannya di piring Rara hingga penuh.


"Apa yang kakak lakukan, ini terlalu banyak, Rara gak bisa menghabiskan sarapan sebanyak ini." protes Rara pada Arthur.

__ADS_1


"Kamu harus banyak makan, biar tubuhmu lebih berisi. ini harus habis mengerti, papa gak suka lihat anak-anaknya menyia-nyiakan makan, jadi harus habis titik." ucap Arthur sambil tersenyum puas.


"Emangnya perutku ini perut karet, suruh menghabiskan makanan sebanyak ini" gumam Rara sambil cemberut.


__ADS_2