
"Ra... bisakah kamu menemani Kakak hari ini?" tanya Joy saat sarapan bersama keluarga. Rara pun hanya mengangguk, ia tak banyak bicara.
Ken memperhatikan putrinya yang nampak murung.
"Kamu kenapa Ra? apa kamu sakit? dari tadi papa perhatikan kamu gak seperti biasanya." tanya Ken pada putrinya. Rara hanya menggelengkan kepalanya.
"Baiklah kalau kamu memang baik-baik saja. Papa sudah urus semuanya tinggal menunggu kamu siap berangkat. Dan kamu Arthur papa ingin bicara denganmu sebelum kamu berangkat kerja."
"Iya pa..."
Joy membawa Rara pergi jalan-jalan, menghabiskan waktu bersama.
"Kita mau pergi kemana kak? tanya Rara yang penasaran karena tak kunjung berhenti.
"Entahlah, aku hanya ingin menghabiskan waktu bersama denganmu, dan mungkin ini untuk terakhir kalinya Sebelum kita berpisah. Apa kamu ingin pergi ke suatu tempat?"
"Bisakah kita pergi ke taman kota saja? aku lebih suka di sana daripada ketempat lain."
"Baiklah, kita akan ke sana." Rara dan Joy pun akhirnya pergi ke taman kota. Rara membawa Joy duduk di bawah pohon yang terlihat sangat sejuk, tak lupa mereka pun membeli makanan ringan.
πππππ
"Papa ingin bicara apa dengan Arthur pa?" tanya Arthur yang sedang duduk si ruang tamu.
"Papa tahu, kamu paling dekat dengan Rara, apa kamu tahu apa yang terjadi dengan Rara dan kenapa dia nampak murung? dan satu hal lagi.. kenapa di koran Rara menjadi trending topik, dan kenapa media mengatakan Rara akan menikah? Apa semua itu betul Arthur, coba jelaskan pada papa sekarang juga. Dari awal sudah papa katakan papa sendiri yang akan mengumumkan tentang Rara. Kenapa harus keduluan media yang tahu." Ken menunjukkan menunjukkan koran berita yang memuat tentang Rara.
"Maafkan Arthur pa, ini semua salah Arthur. Kalau bukan karena Arthur yang mengajak Rara ke pesta, ini semua gak akan terjadi. Dan masalah di media mengenai Rara dan Varo, Arthur benar-benar gak tahu, Arthur kira gak akan sampai segitunya media memberitakannya. Dan Rara murung karena dia gak ingin pergi ke Amerika, ia gak mau meninggalkan semua orang. Tapi dia takut mau menolak takut papa marah." Jelas Arthur. Ken menarik nafas dan menghembuskan nya dengan kasar.
"Baiklah, kalau itu penyebabnya. papa ingin kamu melakukan sesuatu, tapi jangan sampai Rara tahu sebelum Rara berangkat, dan minta media segera menghapus berita tentang Rara yang bisa membuat Rara down. " Ken pun memerintahkan Arthur dan membuat dirinya sebagai kakak ikut senang.
__ADS_1
"Baik pa, akan Arthur laksanakan samua perintah papa. Terimakasih pa, Arthur sayang sama papa." Arthur pun memeluk Ken dengan bahagia.
ππππ
Rara merebahkannya kepalanya di pangkuan Joy. Menyamankan diri berada di samping kakak sekaligus orang yang paling ia sukai.
"Apa kakak benar-benar akan menikah dengan Nabila?" tanya Rara
"kenapa kamu bertanya seperti itu? seperti kamu gak ikhlas kalau kakak menikah dengannya?"
"Apa Rara boleh jujur dengan kak Joy. Mungkin ini waktu yang tepat."
"Apa yang ingin kamu katakan Ra? jangan membuat kakak penasaran." Joy mengusap pucuk rambut Rara yang terurai.
Rara membalikan tubuhnya dan pandangannya mengarah pada wajah Joy. "Kak tatap Rara, hari ini Rara akan benar-benar jujur dengan kakak. Sebentar Rara.... Rara suka dengan kakak sejak pertama kali kita bertemu, dari situ Rara mulai nyaman berada di dekat kakak. Maaf jika rasa ini salah, tapi Rara tak bisa memungkiri perasaan Rara. Rara tahu mungkin cinta Rara hanya bertepuk sebelah tangan karena kakak sudah memiliki Nabila. tapi setidaknya Rara sudah mengungkapkan isi hati Rara, untuk yang pertama dan yang terakhir."
Joy terdiam mendengar pengakuan Rara. Joy sudah bisa menebak kejadian ini akan terjadi "Apa kamu tahu Ra... penyesalan terbesar dalam hidup ku, yaitu di saat aku membuat dirimu meneteskan air mata yang tak seharusnya kau keluarkan. Sejujurnya aku juga menyukai dirimu tapi apalah daya ku, aku tak ingin melukai dua hati wanita sekaligus. aku tak ingin menjadi orang yang sama yang pernah aku lihat di masa lalu. biarkan aku di sini yang terluka asalkan bukan dirimu. aku gak mau orang yang selalu membuatku marah, tersenyum, cemas kehilangan tawanya hanya karena kakak. " Joy menghapus air mata yang mengalir membasahi pipi Rara.
"Tidak Rara tidak akan menangis lagi, Rara tidak mau kalau sampai kakak terluka hatinya. Rara janji Rara tak akan pernah lagi menyimpan rasa pada kakak, Rara gak ingin menjadi adik yang gak tau diri. Rara harap kakak bisa bahagia bersanding dengan wanita pilihan kakak.
Mereka pun memutuskan untuk kembali. sepanjang perjalanan tak ada sepatah kata yang terucap di antara keduanya hanya tatapan yang sesekali bertemu.
Sesampainya di rumah, Rara di kejutkan dengan kedatangan key yang sedang menunggu dirinya. Cukup lama key menunggu Rara yang tak kunjung datang. Namun penantian key tak sia-sia Rara pun pulang yang membuat key tersenyum.
"Key kamu di sini?"
"Tante cantik...." key pun menghampiri Rara dan segera memeluknya.
"Maafkan key Tante, key sudah bersikap jahat dengan Tante. Apakah Tante benci sama key sampai semua hadiah dari key Tante kembalikan." key menangis terisak-isak di pelukan Rara.
__ADS_1
"Key beberapa hari ini selalu memikirkan kamu, harinya sangat kacau bahkan makan pun tak berselera." jelas Varo yang menghampiri keduanya.
"Apa itu benar key? maaf kalau sikap Tante membuat kamu seperti ini, Tante sudah memaafkan key. Sekarang key harus bisa kembali seperti dulu lagi seperti sebelum mengenal Tante bisa kan."
"Tante, bisakah tante tetap di sini dan jangan pergi. Tante bisa kuliah di sini biar key bilang sama papa buat mencarikan tempat kuliah yang terbaik." Bujuk key.
"Maunya Tante juga begitu key, tapi apalah daya Tante ini hanya seorang anak yang harus mengikuti kemauan orang tua yang sudah memberikan yang terbaik."
"Kapan kamu berangkat Ra...?" tanya Varo.
"Lusa aku akan berangkat."
"Bisakah malam ini kamu menemani key sebelum kamu pergi, bujuk dia agar bisa melepaskan kepergian mu."
"Baiklah, untuk malam ini saja. dan besok aku harus pulang karena banyak yang harus aku persiapkan."
"Baiklah."
"Aku pamit dengan orang tua ku dulu, kalian bisa ke mobil duluan nanti aku susul." Rara pun masuk ke rumah untuk minta izin kepada orang tuanya.
Joy yang masih ada di sana menghadang Varo.
"Aku ingin bicara empat mata denganmu sebentar."
Joy pun membawa Varo sedikit menjauh dari key dan membicarakan sesuatu hal yang membuat keduanya bersitegang.
Yang belum mampir jangan lupa mampir ya, dan
__ADS_1
jangan lupa tinggalkan jejak sebagai dukungan, LIKE, komen, hadiah dan vote kalian sangat berarti buat saya.