
Hanya nasi dan telur goreng yang tersedia di hadapan Joy. Sambil duduk lesehan Bersama Karin dan Rara. Joy memandang keduanya nampak begitu lahap menikmati makan malam yang ada. Andai Joy seorang wanita mungkin dirinya sudah menangis melihat secara langsung penderitaan orang-orang yang ia sayangi.
"Andai saja kita berkumpul di rumah dan menikmati makanan yang bergizi dan membuat mama dan Rara terpenuhi kebutuhan nutrisinya. Tak mungkin kalian nampak kurus seperti sekarang ini. Maafkan aku. Ini semua terjadi karena aku. Andai saja mereka tak menaruh dendam pada papa mungkin mama dan Rara tak menderita seperti ini.
"Nak Jo. kenapa melamun? ayo di makan nanti keburu dingin." tegur Karin dan membuat Joy sadar dari lamunannya.
"Mungkin pak Jo gak nafsu lihat makanan kita Bu? namanya juga orang kaya pasti makanannya enak-enak." Saut Rara. Joy tak bisa membantah ucapan Rara ia hanya bisa diam dan menutup mulutnya dengan sesuap nasi.
Setelah Selesai makan Joy duduk di teras mencari udara segar, karena didalam terlalu panas. Joy sibuk mencari sinyal ponselnya yang tak ada. Ia ingin menghubungi Arthur namun apa daya tak ada jaringan.
"Sibuk nyari apa pak? tanya Rara yang berdiri di depan pintu memperhatikan tingkah Joy yang sebentar duduk dan sebentar berjalan mencari sinyal di ponselnya.
"Apa disini memang gak ada jaringan untuk ponsel. Sudah hampir setengah jam aku mondar-mandir tapi tak ada satupun yang nyangkut di ponselku." jawab Joy sambil terus mondar-mandir.
"Mungkin ponsel bapak kurang canggih atau kurang mahal." ledek Rara sambil tertawa.
"Ah masa iya. Ini kan ponsel keluaran terbaru, Jangan meledek ya, aku ini benar-benar serius ada sesuatu yang ingin aku kabari ke kota."
"Ya maaf pak. Rara cuma bercanda. Kalau bapak mau cari sinyal mudah kok. Nanti Rara kasih tahu caranya, tapi kira-kira bapak sanggup gak ya."
"Katakan dimana di sini tempat yang ada sinyalnya, jangan remehkan aku. Sekarang katakan di mana tempatnya aku benar-benar membutuhkannya."
"Yakin nie. Baiklah akan Rara kasih tahu tapi jangan kaget. Ayo ikut Rara."Rara pun berjalan keluar dan di ikuti Joy hingga mereka berhenti di depan sebuah pohon besar dan di atasnya ada rumah pohon sederhana.
"Jangan bilang tempatnya ada di atas pohon ini."
__ADS_1
"Yap betul, orang-orang sini biasanya harus naik ke atas pohon ini agar bisa memakai ponselnya." Ucap Rara sambil menunjuk ke ujung pohon yang kira-kira tinggi sekitar 6 Meter.
"Ya ampun, apa benar harus naik sampai ke ujung? apa aku sanggup memanjatnya. Seumur-umur aku gak pernah memanjat pohon apa lagi ini pohon tinggi amat, bisa jantungan aku." Gumam Joy.
"Kok diam pak? gak berani ya. Masa kalah sama Rara."
"Bukan gak berani Ra. Tapi aku gak tau cara manjatnya." ucap Joy dengan jujur namun menjadi bahan tertawaan Rara.
"Masa gak bisa. Ini kan sudah ada tangganya tinggal bapak panjat sampai ke ujung nanti juga sampai." Joy menatap tangga buatan yang terbuat dari kayu yang di pasang langsung di pohon dan sampai ujung.
"Ayo naik, biar Rara temani." Rara pun manjat duluan di ikuti Joy yang dengan langkah gemetaran menaiki anak tangga satu persatu hingga sampai ke ujung.
Keringat di tubuh Joy langsung bercucuran, tubuhnya gemetaran dan nafasnya ngos-ngosan saat sudah sampai ke rumah pohon, sedangkan Rara dengan santainya naik sampai ke rumah pohon. Namun usaha Joy membuahkan hasil, dan benar saja sinyal ponselnya langsung penuh.
"Kalau begitu saya turun, kalau gak boleh dengar, lagian tempat sesempit ini suruh tutup telinga, tetep aja kedengaran." jawab Rara
"Jangan-jangan, kamu tetap disini temani aku. Baiklah terserah apa maumu tapi jangan berisik."
Joy pun segera menghubungi Arthur berharap segera di angkat sebelum sinyal ponselnya hilang.
Tak lama panggilan Joy pun di angkat, Saat Arthur baru menyelesaikan makan malamnya bersama Ken.
"Ada apa kak? gimana kabarnya?" tanya Arthur.
"Aku baik, Aku cuma minta tolong kirimkan barang-barang yang sudah aku tuliskan di chat besok karena aku membutuhkannya. Dan mungkin aku akan di sini sedikit lebih lama. Sampaikan juga ke papa, jaga kesehatan. Joy di sini baik-baik saja." jelas Joy.
__ADS_1
"Iya... papa juga sudah dengar. Akan ku usahakan untuk mencarikan barangnya besok dan segera ku kirim. Apa masih ada lagi?" sudah itu aja. Jangan marah jika ponselku tidak aktif soalnya di sini sangat susah sinyalnya.
"Terus ini bisa menghubungi Arthur, memangnya kak Joy di mana?"
"Apa kamu tahu, kakak sedang berada di atas pohon yang tingginya kurang lebih 6 meter. Setengah mati kakak berusaha, dan ini saja tubuh kakak gemetaran dan berpeluhan." Jelas Joy dan Rara yang ada di sampingnya tertawa tertahan. begitu juga dengan Arthur. Membayangkan betapa berat usahanya agar bisa naik sampai ke atas pohon, Arthur paham jika kakaknya tak pernah bermain di ketinggian.
"Hati-hati kak turunnya jangan sampai terpeleset nanti bisa bahaya." ucap Arthur sambil tertawa.
"Sudahlah, kakak matikan dulu. Kakak sudah gak betah di sini banyak nyamuk." Joy pun mematikan panggilannya.
Ditatapnya Rara yang masih menutup telinga sambil tertawa tertahan.
"Puas kamu menertawakan aku." ucap Joy.
"Soalnya lucu, masa laki-laki gagah dan perkasa seperti bapak takut ketinggian. Kalah sama Rara."
"Bukanya takut, tapi aku gak pernah naik di tempat-tempat yang tinggi. Mungkin kalau terbiasa seperti kamu, aku juga gak takut. Sudahlah ayo turun aku sudah gak betah di sini banyak nyamuk. Tapi aku yang duluan ya." Joy mencoba mengelak dari ejekan Rara walaupun dalam hati ia berkata memang dirinya takut ketinggian namun malu untuk mengakuinya.
Tak lama mereka pun sudah sampai bawah dan Joy yang tubuhnya sudah penuh dengan keringat langsung membuka bajunya dan menampakkan bentuk tubuh atletisnya. Posturnya yang tinggi dan putih serta otot-otot tubuhnya yang terbentuk ditambah lagi berwajah tampan dan juga wangi, membuat siapa saja akan jatuh cinta padanya. Mungkin Rara pun bisa terpesona jika terlalu lama beranda di dekat Joy.
"Apa yang bapak lakukan?" Rara langsung menutup matanya dengan kedua tangan.
"Memangnya apa yang salah, Aku hanya kepanasan dan bajuku basah oleh keringat." Joy berjalan menuju teras rumah Rara dan duduk di anak tangga pintu." Duduklah sini aku ingin bertanya padamu."
Rara masih menutup matanya walaupun dengan jari-jari tangannya di renggangkan dan berjalan menghampiri Joy. Joy tersenyum melihat adiknya yang sudah dewasa dan tahu arti malu pada pria.
__ADS_1