
Waktu tak terasa begitu cepat berlalu, Arthur tumbuh menjadi anak yang tampan dan memiliki anugrah IQ tinggi walaupun lahir secara prematur, namun di usianya yang masih kecil Arthur sudah fasih dalam berbicara bahkan dalam bahasa Inggris dan Mandarin.
Ken yang yang tahu mengenai kecerdasan Arthur sejak usianya dua tahun mendukung tubuh kembang anaknya hingga mendatangkan langsung guru les dari luar negeri hanya untuk mengajari Arthur.
Di usainya yang menginjak 5 tahun Arthur sudah menguasai tiga bahasa.
Ken, memberikan fasilitas mewah pada Arthur bahkan apa yang di inginkan Arthur lengkap di sediakan oleh Ken.
Walaupun memiliki IQ tinggi Arthur tetaplah anak kecil diusianya yang baru 5 tahun, Arthur selalu membuat masalah di rumahnya hingga membuat babysitternya kerepotan.
Ken lebih banyak menghabiskan waktunya hanya untuk bekerja, berangkat pagi dan pulang malam, hampir tak ada waktu untuk bermain dengan Arthur.
Malam itu Arthur kesepian, papanya belum juga datang dan Arthur bosan dengan mainannya.
Hal yang selalu ia lakukan saat bosan adalah datang ke kamar bundanya yang tengah terbaring. Arthur selalu memeluk, mencium bahkan bercerita tentang papanya.
Arthur merebahkan tubuhnya di samping Karin dan memeluk tubuhnya.
"Bunda, Arthur bosan. Arthur gak punya teman. Bunda cepat bangun biar bisa temanin Arthur main. Papa gak pernah ada waktu buat Arthur papa sibuk cari uang katanya buat Arthur, tapi Arthur gak mau uang Arthur maunya main sama papa dan bunda."
Karin yang terbaring selalu menitikan air mata, mendengar setiap keluhan putranya. Walaupun Karin tak bisa bergerak dan tak bisa membuka mata namun otak Karin masih merespon dari Indra pendengarannya.
"Bunda jangan nangis, Arthur nanti ikut nangis, bunda cepat bangun ya nanti Arthur bilang ke papa buat belikan bunda es krim yang banyak sekali, biar bunda gak sedih. Papa selalu belikan Arthur es krim kalau lagi sedih." ucap Arthur sambil menghapus air mata Karin.
Suara pintu kamar terbuka secara berlahan, dan berdiri sosok pria yang sedang mencari anaknya.
"Arthur..." panggil Ken dan melangkah masuk dan duduk di samping Arthur.
"Papa..." teriak Arthur, "Bunda, papa sudah datang Arthur bilang ya ke papa."
"Bunda kenapa Arthur?"
__ADS_1
"Arthur bilang ke bunda mau belikan bunda es krim biar bunda gak nangis lagi, kan papa selalu belikan Arthur es krim kalau Arthur nangis."
"Memang Arthur tahu kalau bunda sedang sedih?" tanya Ken dan Arthur mengangguk
"Bunda sering nangis, dan Arthur selalu menghapus air matanya. Papa,papa bunda kok gak bangun-bangun, bunda gak capek ya tidur terus, Arthur aja cepek tidur terus maunya main."
"Ternyata selama ini, Karin sudah bisa merespon putranya, Karin ternyata mulai ada kemajuan, mudah-mudahan Karin bisa cepat sadar setelah mendengar suara putranya yang merindukannya." gumam Ken.
Ken hanya tersenyum melihat putranya yang cerdas dan penuh tanda tanya. Ken mengangkat tubuh Arthur dalam pangkuannya.
"Dengarkan papa sayang, jika Arthur pengen cepat bunda bangun, Arthur harus selalu doain bunda."
"Memangnya kalau kita mendoakan bunda, bunda bisa cepat bangun?"
"Iya sayang, percayalah. Sekarang Arthur kembali kekamar dan tidur hari sudah malam, bunda nanti sedih kalau lihat Arthur sering begadang." bujuk Ken dan Arthur mengaguk lalu beranjak pergi kekamar nya.
Ken kembali menatap Karin, dan mencium keningnya. "Sayang apa kamu dengar, putramu ingin kamu segera bangun, dia ingin bermain denganmu. Cepat sadar sayang, biar kebahagiaan Arthur lengkap "
Keesokkan harinya, tak seperti biasa Arthur sangat rewel tak ingin sarapan, bahkan piring yang sudah berisi nasi Arthur buang ke lantai membuat piringnya pecah.
"Arthur..."Bentak Ken yang mulai kehilangan kesabaran.
"Papa gak pernah mengajarkan kamu bersikap seperti itu," ucap Ken dengan nada tinggi.
Arthur malah menangis dan pergi. "Bunda papa jahat" Arthur menagis sambil memanggil bundanya.
"Arthur berhenti, jangan buat papa tambah marah." teriak Ken lagi namun tak di dengar Arthur.
Arthur berlari kekamar Karin dan langsung menaiki tubuh Karin sambil menangis sejadi-jadinya di atas tubuh Karin.
"Bunda, cepat bangun dan marahin papa. Papa gak sayang sama Arthur papa hanya sayang uang gak ada waktu buat main sama Arthur." ucap Arthur sambil terus menangis.
__ADS_1
Babysitter Arthur menghampiri Arthur dan membujuknya agar mau diam, namun sayang tak mempan Arthur malah mengusirnya.
Air mata Karin kembali menetes mendengar putranya sedang mengadu.
Arthur menangis cukup lama hingga ia kembali tertidur di atas tubuh Karin.
Ken tak konsentrasi dengan pekerjaannya, pikirannya terus pada Arthur. Ken merasa bersalah sudah membuat putranya menangis di pagi hari.
Rupanya kegelisahan Ken diperhatikan Anton sedari tadi.
"Pak, Sepertinya bapak sedang ada masalah yang belum selesai." ucap Anton
"Aku merasa bersalah dengan Arthur, seharusnya aku tidak membuatnya menagis, aku jadi menyesal."
"Lebih baik bapak pulang dan berbaikan dengan Arthur, mungkin Arthur sebenarnya mencari perhatian dari papanya. Kan bapak jarang sekali menghabiskan waktu bersama Arthur."
"Mungkin kamu benar, Arthur mungkin hanya ingin mencari perhatian yang kurang ku berikan padanya. Aku terlalu bodoh, seharusnya aku sebagai seorang papa harus lebih peka dengan anaknya sendiri, Andai Karin sehat mungkin Arthur tak akan kekurangan kasih sayang."
"Ya sudah lebih baik, bapak pulang, urusan kantor biar saya yang urus, Arthur mungkin dirumah sedang kesepian dan jangan lupa bawakan es krim kesukaannya," ucap Anton
Ken pun bergegas untuk pulang ke rumah dan tak lupa membelikan es krim kesukaan Arthur. Namun di saat keinginannya untuk segera sampai rumah ternyata pupus saat kemacetan kembali terjadi.
Hampir satu jam Ken terjebak macet bahkan es krim yang ia bawa pun meleleh.
Saat sampai rumah, Ken langsung memanggil Arthur, namun tak ada jawaban dari putranya.
Babysitter Arthur datang menghampiri.
"Maaf pak, den Arthur gak mau keluar dari kamar bundanya dan sekarang tidur di atas tubuh bundanya." jelasnya.
Ken segera menaiki anak tangga dan berjalan kekamar Karin, hati ken langsung saja menjadi sedih melihat putranya Sangat merindukan pelukan bundanya. Ken tak tega membangunkannya putranya yang sepertinya sangat nyaman mendekap ibunya yang lemah.
__ADS_1
"Maafkan papa sayang, seharusnya papa lebih peka dan lebih memahami perasaanmu yang sangat merindukan perhatian yang sangat jarang papa berikan. Papa terlalu egois mementingkan hati papa sendiri untuk mengurangi rasa rindu papa pada bundamu tanpa papa sadari sudah menyakitikan hatimu sayang. Papa janji mulai hari ini papa tak akan mengabaikan kamu lagi, papa janji." Ken mencoba menahan tangisnya karena rasa bersalah yang besar pada putranya.