
"Joy..." Panggil seorang wanita yang tengah duduk di ruang tunggu di dalam kantor Arthur. Seketika itu juga Arthur dan Joy menoleh ke arah wanita tua itu. Arthur terkejut dan tapi tidak dengan Joy, ia masih ingat betul dengan wanita yang memanggilnya.
"Siapa dia kak?"Tanya Arthur yang penasaran.
"Bukan siapa-siapa. Kamu keruangan saja dulu nanti aku menyusul." perintah Joy dan Arthur yang merasa tak mengenalnya pun memilih untuk meninggalkan Joy dan wanita itu, walaupun ada perasaan penasaran dengan sosok wanita yang memanggil kakaknya.
Joy melihat wanita itu, memasang wajah datar, ia merasa tak suka wanita itu datang menemuinya.
"Untuk apa kamu repot-repot datang kesini. Apa yang kamu inginkan lagi dariku?" tanya Joy.
"Joy, apa kamu masih membenciku? apakah tidak ada sedikitpun rasa sayangmu padaku?" tanya wanita itu.
"Rasa sayang?..." senyum kecut ia lemparkan pada wanita itu. "Rasa sayang dan cintaku hilang, setelah aku sadar bahwa kamu adalah wanita paling egois, wanita serakah dan wanita tak punya hati. Semua rasaku perlahan hilang saat dengan teganya kamu membohongi diriku, saat kamu bertindak, apa kamu tak berfikir panjang melampiaskan egomu tanpa pernah berfikir akibatnya padaku." ucap tegas Joy sambil menahan emosinya.
"Maafkan aku Joy, mama benar-benar menyesal atas semua Perbuatan yang mama lakukan. Berikan mama kesempatan untuk memperbaikinya." Ucap Sasa ia pun bersimpuh di kaki Joy. Karyawan yang yang ada di sekitaran lobby pun memperhatikan Joy dan Sasa.
"Apa yang kamu lakukan cepat berdiri. Jangan buat aku lebih malu lagi" Perintah Joy dengan kasar. Sasa pun langsung bangkit berdiri setelah mendengar permintaan putranya.
"Sekarang, cepat pergi dari sini dan jangan temui aku lagi. Aku gak ingin melihat wajahmu lagi, bagiku mamaku adalah mama Karin bukan dirimu lagi. Sudah cukup aku membantumu membebaskan mu dari penjara. Tapi jangan anggap aku memaafkanmu. Sekarang cepat keluar" Bentak Joy sambil tangannya menunjuk ke arah pintu luar. Joy tak perduli bahwa dirinya menjadi tontonan para karyawan. Arthur pun nampak memperhatikan Joy dari lantai dua yang terlihat karena berdinding kaca.
__ADS_1
"Siapa wanita itu? kenapa kak Joy begitu marah padanya hingga mengusirnya. Aku tak pernah lihat kak Joy semarah ini pada orang lain?" tanya Joy dalam hati. Sambil terus memperhatikan Joy.
"Baik, mama akan pergi dan tak akan mengganggumu lagi. Mungkin ini yang terakhir kalinya mama datang kesini. Sebenarnya mama kesini hanya ingin memberitahumu satu hal yang selama ini mama sembunyikan. Dan mama rasa ini adalah waktu yang tepat untuk mengatakannya padamu. Mama gak mau mengulangi kesalahan untuk yang ke-dua kalinya padamu. Jujur mama hanya ingin kamu tahu bahwa mama Karin yang merawatmu sebenarnya masih hidup dan kini ia tinggal berdua dengan putri bungsunya. Mama hanya ingin mengatakan ini padamu. Baik kalau begitu mama akan pergi dan tak akan mengganggumu lagi." Dengan menahan Air matanya Sasa pun melangkahkan kaki untuk keluarga. Sedangkan Joy hanya bisa menahan emosinya dengan menggegam kedua tangannya.
"Tunggu..." ucap Joy dan Sasa pun berhenti dan membalikkan badannya begitu juga dengan Joy.
"Apa yang kamu katakan barusan benar? Aku melihat dengan mata dan kepalaku sendiri mama Karin sudah meninggal. Jadi jangan bohongi aku dengan cerita yang mengada-ada itu." jelas Joy.
"Mama tidak mengada-ada. Yang kau lihat itu bukan Mama Karin itu orang lain yang disiapkan papa kandungmu untuk menghancurkan papa Ken. Dia masih sakit hati dengan papamu yang sudah menghancurkan bisnisnya. Papamu pernah cerita pada mama tentang semua rencananya untuk menghancurkan papa Ken dan keluarganya dengan mengadu domba Musuh papamu. Awalnya mama juga syok mendengar mamamu meninggal tapi mama ingat apa yang di katakan papamu dengan semua rencananya. Mama pun terpaksa meminta tolong seseorang untuk menyelidiki sebenarnya dan akhirnya mama tahu. Bahwa wanita yang keluar dari ruang operasi itu bukan Karin melainkan wanita yang mirip Karin melalui operasi plastik, sedangkan Karin bisa di selamatkan melalui operasi waktu. Sebenarnya yang di tunggu Ken waktu itu bukanlah Karin melainkan orang lain sedangkan Karin sendiri di pindahkan tanpa sepengetahuan Ken. Papamu membawa pergi Karin dan menempatkannya di sebuah desa yang jauh dari sini. Tapi sayang mama tak tahu di mana persisnya tempat Karin berada."Jelas Sasa panjang lebar.
"Apa kata-katamu ini bisa di pegang? apa mama Karin benar-benar masih hidup?"
"Apa yang masih kalian lihat. Ini bukan tontonan, cepat kembali bekerja." bentak Joy dan para karyawan pun tergesa-gesa kembali ketempat kerjanya. Joy pun langsung pergi keruang kerjanya yang satu ruangan dengan Arthur.
Sesampainya di meja kerja, Joy langsung menghubungi seseorang. Arthur datang dengan secangkir Kopi untuk Joy.
"Ada masalah apa? Kenapa kamu nampak gelisah?" tanya Arthur yang duduk di depan meja Joy. Joy hanya menghela nafas panjang.
"Tidak ada apa-apa, hanya masalah kecil."
__ADS_1
"Ohhhhh. Oya besok bisa menggantikan aku pergi ke desa W tidak. Masalahnya aku harus menghadiri rapat darurat."
"Kota W?"
"Iya... Buat melihat secara langsung pembangunan Tempat kursus buat para remaja yang belum memiliki ke ahlian khusus agar mereka bisa memiliki peluang untuk bisa bekerja dan bersaing dengan remaja berpendidikan. Karena kata bunda Karin Tidak harus berpendidikan tinggi untuk bisa bersaing di dunia kerja yang terpenting punya keterampilan dan juga wawasan mereka pun pasti bisa, Tapi apa salahnya sekolah yang tinggi."
"Kenapa aku tidak tahu tentang pembangunan Tempat kursus yang kamu maksud?"
"Papa yang menentukan dan aku hanya yang mengatur. Lagian aku kira kamu juga tahu hal ini, dan kamu gak tertarik."
"Sepertinya ini bisa jadi salah satu jalan untuk mencari keberadaan mama Karin. Jika mama Sasa berkata jujur dan mama Karin masih hidup ini adalah kesempatan untuk menemukan mereka." batin Joy.
"Baiklah, Bagaimana kalau aku yang ambil alih untuk pengaturan pembangunan tempat kursus di desa. Kamu yang urus kantor. Bagaimana apa kamu setuju?" tanya balik Joy.
"Aku suka keputusanmu. Lagian aku lebih suka di kota daripada di desa, kamu tahu kan aku ini kalau bicara selalu sering memakai bahasa asing. Takutnya kalau aku yang pergi ke desa mereka tak ada yang paham dengan ucapanku." Jawab Arthur.
Kita lanjut di sini aja ya season 2. Jangan lupa tinggalkan jejak.
LIKE, KOMEN, HADIAH, VOTE SEBAGAI BENTUK DUKUNGAN KALIAN.
__ADS_1