Bukan Salahku Menjadi Pelakor

Bukan Salahku Menjadi Pelakor
penolakan


__ADS_3

Pagi yang cerah, matahari menyambut pagi dengan sinarnya.


Karin membangunkan Ken yang masih terlelap dalam tidurnya.


"Mas..., bangun. Karin punya kabar buat mas, ayolah bangun." Karin menggoyangkan tubuh Ken.


"Bentar lagi, mas masih ngantuk. bisakah kabarnya di tunda lima menit lagi." saut Ken.


"kalau mas gak mau bangun sekarang, Karin gak akan kasih tahu sekalian." Karin memilih duduk di sisi ranjang sambil melipat kedua tangannya.


Ken pun mengucek matanya, yang masih berat, menatap bidadarinya yang sedang cemberut di sisi ranjang. Segera Ken memeluk Karin dari belakang dan menyandarkan kepalanya di pundak Karin.


"Pagi-pagi begini jangan merajuk, gak baik buat kesehatan. Memangnya ada berita apa yang ingin sayang sampaikan sampai gak sabar nunggu mas bangun." ucap Ken sambil matanya masih terpejam.


"Malas ah, bahasnya lagi, mas gak bisa di ajak serius."


"Maaf, mas tadi benar-benar masih ngantuk. Sekarang katakan apa yang ingin sayang sampaikan, mas akan mendengarkannya." Karin menjauhkan wajah suaminya dari pundaknya dan menatap lekat- wajah suaminya yang masih kusam karena bangun tidur.


"Ukurkan tangan mas sekarang!! dan tutup mata mas." pinta Karin dan Ken pun menurut saja. Karin mengambil sesuatu dari dalam sakunya dan meletakkan di telapak tangan Ken.


"Sekarang buka mata mas!" Ken pun membuka mata, alangkah terkejutnya apa yang ia lihat. Sebuah tespack dengan dua garis terpampang di tangan Ken.


"Yang, Apa ini?" Ken masih tak percaya.


"Mas lihat sendiri apa itu artinya."


Ken kembali menatap hasil testpack yang ada di tangan.


"Terimakasih sayang, untuk kejutannya pagi ini. Mas sangat bahagia." Ken pun memeluk Karin dan berkali-kali mengecup kening Karin.


"Mas, Karin punya satu permintaan." ucap Karin.


"Apa sayang katakan saja, semua permintaan sayang akan mas kabulkan."


"Karin ingin pulang, Karin sudah rindu dengan Arthur dan Joy, sudah satu bulan kita di sini dan meninggalkan mereka."

__ADS_1


"Baiklah, kita akan pulang hari ini. Sebenarnya mas juga mau mengatakan ini, lusa mas harus menghadiri rapat penting di kantor. Mas minta satu hal padamu. please jangan pernah bertemu dengan laki-laki itu lagi, karena dia hanya akan memanfaatkan mu saja, jadi mas mohon dengarkan kata-kata mas." Karin hanya mengangguk.


______


Setelah selesai berkemas, mereka pun akhirnya pulang, dimana mereka sudah merindukan anak-anak.


Karin dan Ken sampai di rumah malam hari. saat semua sudah terlelap tidur.


"Sepertinya, semuanya sudah tidur. Lebih baik sayang juga istirahat."


"Aku ingin melihat anak-anak sebentar mas, mas saja yang duluan ke kamar nanti Karin menyusul." Karin pun pergi ke kamar Arthur dan Joy sedangkan Ken kembali ke kamar.


Saat Karin masuk kamar anak-anak dan menyalakan lampu, pemandangan yang tak terduga terpampang di depan mata Karin Arthur dan Joy tidur satu ranjang. Karin tak menyangka ke dua putranya sudah lebih dekat. Karin mendekati kedua putranya dan mengecup kening mereka sambil merapikan selimutnya. Tak terasa air mata menetes di pipi Karin, merasa begitu bahagia melihat kedua putranya.


Karin kembali ke kamar, dan duduk di sisi ranjang. menatap seisi kamar yang sudah sebulan ia tinggalkan, sedangkan Ken masih mandi.


"Rasanya baru sebentar aku, menikah dengan mas Ken. Namun setelah aku melihat anak-anak aku baru sadar sudah bertahun-tahun aku hidup berumah tangga. Terimakasih Tuhan, engkau telah menganugerahkan ku kebahagiaan yang sempurna. Mas Ken, Arthur dan Joy. Kini engkau masih mempercayakan diriku untuk mengandung dan membesarkan anak lagi."


____


Bi Tika sudah sibuk menyiapkan sarapan. Karin pun sudah tak sabar melihat kedua putranya bangun, ia langsung pergi ke kamar putranya dan segera membangunkan.


"Arthur, Joy bangun ..., hari sudah siang nanti kian terlambat sekolah." ucap Karin Joy dan Arthur menggeliat merenggangkan otot-otot tubuhnya sebelum membuka matanya.


"Mama ..." panggil Joy saat melihat Karin sedang membuka korden jendela. Arthur yang mendengar Joy memanggil mama langsung buru-buru terbangun dan melihat sosok bundanya sudah berdiri di hadapannya.


"Bunda ..." teriak Arthur. Dengan begitu semangat, Arthur dan Joy turun dari ranjang mereka langsung memeluk Karin dengan erat.


"Bunda, Arthur kangen dengan Bunda. kenapa bunda pulangnya lama sekali." ucap Arthur.


"Joy juga kangen dengan mama."


"Sudah kangen-kangenannya nanti. sekarang kalian mandi dan bersiap sekolah nanti bunda yang akan antar kalian ke sekolah.


Setelah mereka bersiap, mereka pun turun untuk pergi sarapan. Di sana Karin dan Ken sudah duduk di meja makan. Arthur kegirangan melihat papanya juga sudah pulang. Namun berbeda dengan Joy yang hanya tertunduk tak berani menghampiri Ken.

__ADS_1


Arthur berkali-kali mencium papanya dan duduk di pangkuan Ken sedangkan Joy langsung duduk di kursi. Karin paham dengan perasaan Joy.


"Mas, Anak mas gak cuma satu tapi ada dua, gak adil jika mas hanya menyayangi salah satu darinya." Ken menatap Joy yang sedih begitu juga dengan Arthur.


"Papa Joy itu kakaknya Arthur." ucap Arthur.


"Joy, apa kau tak merindukan kedatangan papa, kemarilah dan peluklah papa." ucap Ken. Joy menoleh ke arah Ken kemudian kearah Karin. dan Karin pun menganggukkan kepalanya.


Senyum tipis, mulai terpampang di bibir Joy dan mulai bangkit berdiri menghampiri Ken dan memeluk tubuh papanya yang sekian lama tak pernah ia sentuh.


"Pa, Joy kangen sama papa, Joy rindu pelukan papa." Joy pun menangis dalam pelukan Ken.


"Maafkan papa, yang egois. Walau bagaimanapun kamu akan tetap menjadi anak papa selamanya. Mulai sekarang papa akan adil pada kalian. papa janji akan menjauhkan ego papa demi kalian." Ken mengecup kening kedua putranya yang sangat ia sayangi.


Acara sarapan pagi pun bercampur dengan rasa haru.


Karin pun mengantar kedua putranya ke sekolah, hingga di depan pintu gerbang.


"Kalian rajin-rajin belajarnya. Buat mama dan papa bangga dengan kalian."


"Iya Bun, ma, " ucap serempak Arthur dan Joy. dan mereka pun masuk ke sekolah.


Saat Karin ingin masuk dalam mobil, seseorang memanggil namanya.


"Karin ..." panggil Reval. dan Karin hanya menoleh namun tak di tanggapi Karin. Reval memegang lengan Karin mencoba menahan Karin agar tak pergi.


"Lepaskan aku mas, aku gak mau lagi bertemu denganmu. aku ini wanita bersuami gak sepantasnya bicara dengan laki-laki asing.


"Dengarkan aku Karin, kenapa kamu tiba-tiba berubah dan menghilang dan sekarang mau menghindar dariku."


"Sadar mas Reval, dari awal pertemuan kita sudah salah. dan gak seharusnya mas terus mengejar Karin yang sudah bersuami. Apa yang mas harapkan dariku?"


"Aku mencintaimu Karin, dari awal aku bertemu denganmu aku sudah menaruh hati padamu, dan berjanji aku akan mendapatkan hatimu."


"Cukup mas, aku gak mau mendengar kata-kata mas lagi, lebih baik mas pergi dan jangan pernah temui Karin lagi." Reval melepas genggamannya dan membiarkan Karin pergi, hatinya begitu sakit mendengar penolakan yang langsung terucap dari mulut Karin.

__ADS_1


__ADS_2