
Joy mengetuk pintu rumah, sedangkan Rara berada di belakang Joy sambil memperhatikan detail rumah yang ada di depannya.
Tak lama salah satu pelayan membukakan pintu.
"Tuan sudah pulang." sapa pelayan itu.
"Iya bi. Mana yang lain kok sepi?" tanya Joy sambil melangkah masuk. Sedangkan Rara masih berdiri di depan pintu.
"Tuan Arthur, belum pulang. sedangkan tuan besar sedang istirahat di kamar." jelas pelayan itu.
"Ayo masuk Ra, jangan berdiri di situ, aku gak butuh penjaga pintu." panggil Joy ke Rara dan Rara pun langsung masuk menghampiri Joy dengan sedikit ragu-ragu. " Bi, tolong antarkan Rara ke kamar tamu untuk dia istirahat." perintah Joy pada pelayan.
Pelayan pun mengajak Rara ke kamar tamu dan Rara pun mengikuti pelayan tersebut. sedangkan Joy pergi ke kamarnya untuk membersihkan diri. Tak lama kemudian Arthur pun pulang saat ingin kekamar, Arthur menyadari kehadiran Joy yang berdiri di depan pintu kamarnya yang tak jauh dari kamar Arthur.
"Kak Joy, kapan pulang? Barang pesanan kakak kan baru besok bisa aku kirim, eh malah kakak sudah pulang." Tanya Arthur seraya menghampiri Joy
"Kirim saja barangnya nanti kepala pengawas yang menerimanya. Ayo temani aku sebentar, aku ingin minum bersamamu untuk menghilangkan sedikit beban pikiran." ajak Joy.
"Maaf kak, aku capek. Lain kali aja ya kita minum bersama." tolak Arthur.
"Tidak ada penolakan, pokoknya temani aku." Joy pun menarik tangan Arthur dan dengan malas Arthur pun mengikutinya Joy.
Mereka pun menghabiskan beberapa gelas minuman beralkohol. Arthur yang sudah lelah setelah lembur kerja tak mampu lagi menemani Joy dan memilih untuk kembali ke kamar sedangkan Joy masih melanjutkan minum.
Keesokan harinya saat sarapan. Ken selalu menunggu putranya untuk sarapan bersama. Arthur dan Joy menghampiri Ken di meja makan.
"Pa, Arthur, aku ingin memperkenalkan seseorang pada kalian, aku harap kalian mau menerimanya tinggal di sini bersama kalian untuk beberapa waktu." ucap Joy yang membuat Ken dan Arthur bingung.
"Apa maksudmu nak? siapa yang mau tinggal disini." tanya Ken.
"Iya kak, siapa yang mau tinggal di sini? atau jangan-jangan kakak sudah menikah di sana dan membawa istri kakak ke sini?" terka Arthur.
"hus... siapa juga yang sudah menikah. Kalau aku menikah gak mungkin aku gak ngabarin kalian terus apa gunanya aku punya keluarga seperti kalian."
__ADS_1
"Benar juga sih. Oke. terus sekarang siapa yang mau kakak kenalin pada kami?" Joy pun meninggalkan meja makan dan berjalan menuju kamar tamu. Ia pun mengetuk pintu kamar tersebut dan tak lama Rara pun membukakan pintu.
"Ada apa pak?" tanya Rara.
"Kita sarapan dulu sebelum menjenguk ibumu lagi." ajak Joy dan Rara pun mengikuti Joy berjalan menuju meja makan.
Saat sampai depan meja makan Arthur yang kaget langsung bangkit berdiri.
"Astaga kak Joy, kakak membawa seorang wanita masuk kedalam rumah tanpa seizin papa?" ucap Arthur.
"Maafkan aku pa, bukan maksudku tak menghormati papa, tapi tadi malam aku tak mau mengganggu istirahat papa jadi Joy tak meminta izin ke papa." ucap Joy
"Sudahlah, Ayo sekarang sarapan dulu, kita bahas itu nanti." ucap Ken
Joy pun menarik kursi dan mempersilahkan Rara untuk duduk dan sarapan dan Joy duduk di sampingnya.
Setelah selesai sarapan, Ken pun angkat bicara dan menanyai Rara.
"Rara om." jawab singkat Rara.
"Rara..., ada hubungan apa kamu dengan putraku Joy?"
"Kami tidak ada hubungan apa-apa pa, aku hanya menolong Rara, ibunya sedang sakit dan harus di rawat di rumah sakit jadi selama ia menjaga ibunya, aku mengajaknya tinggal di sini, kasian dia pa jika harus tidur di rumah sakit terlalu lama." jelas Joy.
"Apa itu benar Ra, Joy tidak macam-macam denganmu kan?" tanya Ken meyakinkan.
"Tidak Om, pak Joy malah baik banget dengan saya, sudah mau menolong saya membiayai pengobatan ibu saya." jelas Rara.
"Modus itu modus." sindir Arthur pada Joy.
"Baiklah, kamu boleh tinggal di sini selama kamu kau, tapi ingat rumah ini punya aturan dan kamu harus mengikuti aturan yang ada, paham."
"Iya om, terimakasih banyak sudah mau menerima saya menumpang tinggal sementara di sini."
__ADS_1
"Baiklah Ra, ayo aku antar kamu menjenguk ibumu." ajak Joy. Mereka pun segera pergi meninggalkan Ken dan Arthur yang masih di meja makan. Namun Rara sempat menoleh ke arah Ken begitu juga dengan Ken yang sedang menatap Rara.
"kenapa aku merasa dia sangat mirip Karin." gumam Ken dalam hati.
"Kenapa aku merasa seperti ada sesuatu, dan kenapa setiap mendengar suaranya hatiku begitu tenang." gumam Rara dalam hati.
"Aku harap pertemuan pertama ini, menjadi awal untuk bisa berkumpul bersama keluarga seperti dulu lagi." gumam Joy dalam hati sebelum berangkat.
Joy pun mengantar Rara menjenguk Karin di rumah sakit. Sedangkan Arthur pun pamit untuk berangkat ke kantor.
"Tunggu Arthur!"
"Iya ada apa pa?"
"Sebelum berangkat ke kantor, bisakah kamu antar papa ke makam bundamu."
"Baiklah pa, Arthur akan antar papa." Ken dan Arthur pun segera berangkat ke pemakaman di mana Karin di makamkan. Sesampainya di sana Arthur tak bisa menemani papanya karena mendadak ada telpon dari kantor yang penting.
"Maaf pa, Arthur gak bisa nemani papa. Arthur harus pergi ada pekerjaan penting yang menunggu Arthur. Sampaikan juga pada bunda maaf Arthur gak bisa jenguk bunda." pamit Arthur dan Ken pun mengizinkan.
Cukup lama Ken berbincang seorang diri pada batu nisan Karin. Ia menumpahkan semua kerinduannya pada Karin.
Tak lama suara wanita menegur Ken dan membuatnya geram.
"Untuk apa menangisi orang yang masih hidup." ucap wanita itu yang tak lain adalah Sasa. Ia menghampiri Ken yang masih duduk di samping makam Karin.
"Jaga mulutmu, Jangan mengumbar kebohongan, apa kamu tak melihat di depan mu ini jelas-jelas terpampang nisan Karin dan kau masih berani mengatakan Karin masih hidup. Seharusnya Joy tak membebaskan kamu dari penjara." ucap Ken yang kesal.
"Aku di sini bukan berkata dusta, aku kesini hanya ingin membuka matamu lebar-lebar bahwa yang selama ini kamu tangisi bukanlah istrimu. Dia orang lain yang hanya mirip Karin." jelas Sasa.
"Tutup mulutmu, sekali lagi kamu mengatakan ini aku tak segan-segan untuk merobek mulutmu."
"Lakukan saja, aku tak takut. Aku kesini hanya menyampaikan fakta yang sebenarnya. Jika kamu tak percaya padaku kamu bisa tanya langsung pada Joy, Dia saat ini sedang mencari keberadaan Karin istrimu. Sungguh kamu sekarang menjadi laki-laki menyedihkan. Hanya karena seorang wanita kamu berduka hingga berlarut-larut. Mana Kenzo yang pernah aku kenal dulu yang tak pernah mudah percaya dan selalu teliti dengan apapun. Hanya karena seorang wanita kamu menjadi begitu lemah dan ceroboh hingga kamu sendiri tak menyadari perbedaan yang nyata pada jazad istrimu." Setelah menghina Ken, Sasa pun pergi meninggalkan Ken yang masih terpaku mendengar kata-kata Sasa.
__ADS_1