
Semua barang yang ada di meja kerja Reval berhamburan kemana-mana, Sakit hati yang dirasakan Reval sungguh menusuk hati. Wanita yang ia puja tega menolak cintanya.
"Kamu jahat Karin, kenapa kamu tega lakukan itu padaku. Apa kurangnya aku, aku sangat mencintaimu dan mengagumimu. Begitu hinanya kah cintaku ini hingga kamu menolak diriku." ucap Reval di sela amarahnya.
Di sisi lain, Karin masih menangis mengingat perlakuan Reval padanya.
"Ini salah, semua ini salah. Dia tidak boleh mencintai aku. Aku ini wanita bersuami apa lagi aku tengah mengandung anak kedua. Mas Reval, lupakan aku. Aku hanya menganggapmu sebagai teman tak lebih. Mungkin kamu telah salah menilai sikapku ini padamu. Maafkan aku." gumam Karin di sela tangisnya.
Karin meminta sopir mengantarkannya ke kantor Ken, setidaknya dengan bersama suaminya akan mengurangi kekacauan hatinya.
Setelah sampai, Karin menuju ruang kantor suaminya, dan saat ia sampai depan pintu samar-samar ia mendengar percakapan antara suaminya dan Anton.
Alangkah terkejutnya Karin saat mendengar pembicaraan yang sedang di bahas yaitu mengenai Reval yang ternyata adalah musuhnya Ken.
"Tidak ini tidak mungkin. Jadi selama ini mas Ken kenal dengan Reval dan ternyata mereka adalah musuh. Kenapa mas Ken tak pernah cerita padaku apa maksudnya dia menutupi semuanya dariku, dan mas Reval apa dia juga tahu kalau aku istrinya mas Ken. Apa sebenarnya yang terjadi antara mereka kenapa aku harus berada di tengah-tengah mereka berdua." gumam Karin yang masih syok dengan kenyataan yang baru ia dengar dan masih berdiri mematung di depan pintu hingga lamunannya buyar saat Adit menyapanya.
"Mbak Karin, kenapa mbak berdiri di sini. Sejak kapan mbak di sini." sapa Karin yang sedang bersama Dinda. Karin yang sudah mengenal Dinda menatapnya lekat-lekat.
"Dia Dinda kan adiknya mas Reval kenapa dia bekerja di sini jika kakaknya bermusuhan dengan Ken?" Sebuah tanda tanya yang perlu di jawab.
"Mbak, kok ngelamun lagi. pak Ken ada di dalam kenapa gak masuk."
"Anu, Mbak ... Mbak baru saja datang dan mau masuk gak enak takutnya mas Ken sibuk."
Ken yang mendengar keributan di luar ruangan pun segera keluar bersama Anton.
"Karin..." panggil Ken, " kenapa gak bilang-bilang kalau mau kesini dan kenapa gak masuk?"
"Aku baru saja datang mas." Adit, Dinda dan Anton pun kembali ketempat kerjanya dan Karin masuk ke kantor suaminya.
Ken membawa Karin duduk di kursi kerjanya, sedangkan Ken duduk berjongkok di hadapan Karin.
__ADS_1
"Ada apa sayang, apa yang terjadi padamu, lihatlah matamu sembab apa kau habis menagis." Ken memegang kedua pipi Karin dan menatap mata Karin.
"Tidak, aku tidak papa, mataku tadi kemasukan debu makanya merah dan sembab."
"Jangan bohong sama mas, mas tahu kamu habis menangis. Katakan pada mas apa yang terjadi. Tak seperti biasanya kamu seperti ini."
"Mas, kenapa mas tak jujur pada Karin kalau mas kenal dengan Reval?" tanya Karin membuat Ken mengkerutkan dahi lalu bangkit berdiri.
"Apa dia menemui mu lagi? sudah mas katakan jangan pernah bertemu dengannya." tanya balik Ken.
"Iya Karin tadi bertemu dengannya dan itu untuk yang terakhir kalinya. Tapi setelah Karin sampai sini Karin baru sadar kalau kalian saling kenal dan saling bermusuhan, kenapa mas gak pernah cerita sama Karin."
"Mas gak mau sayang terseret dalam permasalahan antara aku dan dia. ini urusan yang harus di selesaikan antara laki-laki."
"Tapi Karin sudah masuk dia antara kalian." Karin kembali menangis tak mampu menahannya.
Ken kembali menghampiri Karin yang menagis dan menghapus air matanya.
"Katakan mas, apa sebenarnya yang terjadi agar Karin tidak salah faham di antara kalian."
Ken pun menjelaskan semuanya, agar Karin paham.
"Sekarang karin paham. Maafkan aku mas yang mendesak mu untuk bercerita. Tapi setidaknya Karin tahu. Tapi ...." Karin menggantung ucapannya.
"Tapi apa sayang?"
"Jika mas bermusuhan dengan Reval kenapa mas memperkerjakan adiknya di perusahaan mas? bukan kah itu bisa jadi kesempatan Reval dan adiknya untuk mengusik perusahaan mas?" tanya Karin dengan lugunya.
"Adik ..., sayang mengenal adik Reval?"
"Iya ..., bukannya tadi yang bersama dengan Adit itu Dinda adiknya Reval." jawab Karin.
__ADS_1
"Ternyata, Reval memakai adiknya sebagai umpan untuk menghancurkan aku. Kita lihat Reval apa yang akan kamu lakukan jika adikmu berada dalam tahanan ku." gumam Ken.
"Makasih sayang, kamu sudah membantu mas menyelesaikan teka-teki yang selama ini belum terpecahkan. Kamu memang istri mas yang selalu ada dan selalu menjadi kekuatan mas." Ken mengecup kening Karin berkali-kali.
"Itu gunanya Istri, tapi mas. hari ini mas kan sudah janji sama Karin buat cek kehamilan Karin. Kan Karin belum ada periksa kandungan untuk yang pertama kalinya.
"Ahhh .... maafkan mas, mas lupa. Baiklah kalau begitu kita berangkat sekarang, mas akan menemanimu. Sebagai ucapan terima kasih mas, karena istri mas akan melahirkan keturunan mas lagi."
Tanpa sepengetahuan Karin Ken sudah meminta Anton untuk mengurus Dinda dan menjadikan adiknya sebagai umpan balik untuk menghentikan perbuatan Reval.
Anton pun sudah menerima pesan dari Ken dan sudah siapa dengan rencananya. Dengan memakai Adit sebagai umpan membawa Dinda dalam perangkap.
Kesedihan Karin pagi itu hilang sudah, setelah Ken ada di sampai dirinya. Karin mulai menikmati diawal kehamilannya yang ke-dua di temani sang suami. setelah kehamilannya yang pertama yang begitu berat. Karin berharap semoga tak terulang kembali kejadian yang pernah ia alami agar bisa menikmati setiap momen kehamilannya.
Reval menyusun siasatnya dan mulai segera bertindak. dengan memerintahkan beberapa ank buahnya menjalankan perintah sesuai yang di rencanakan.
"Maafkan aku sayang jika aku harus melakukan ini. dan tunggu aku sebentar lagi, aku akan menjadikan kamu istriku." Reval tertawa membayangkan siasatnya akan berhasil.
Dinda pun sedikit was-was saat Karin mengetahui bahwa dirinya bekerja di perusahaan suaminya.
"Apa yang harus aku lakukan, jika sampai Karin cerita pada suaminya kalau aku adalah adik kak Reval bisa mati di cincang aku. Apa aku harus kabur sekarang Sebelum semuanya menjadi masalah."Gumam Dinda, ia pun bangkit berdiri dan ingin pergi namun langkahnya terhenti saat Anton sudah berada di belakangnya.
"Mau pergi kemana kamu Dinda?" tanya Anton.
"Saya ... saya mau ke toilet pak" jawab Dinda.
"Ohhh ... mau ke toilet atau mau kabur?" jawab enteng Anton.
"Mau kabur kemana lah pak, saya memang mau ke toilet, udah gak tahan ini."
"Jangan banyak alasan. segera keruangan saya. Ada tugas yang harus kamu kerjakan." perintah Anton, Dinda pun mengangguk tak bisa berkutik.
__ADS_1