
Suara Derik pintu menyadarkan Ken dari lamunannya. Langkah sepatu yang beradu dengan lantai menghampiri keberadaan Ken sayang sedang berdiri termenung di kaca gedung memandang lalulintas kota yang padat.
"Maaf pak mengganggu, beberapa kali saya mengetuk tak ada sautan dari bapak." ucap Anton
"Maaf, aku sedang banyak pikiran yang membuatku kurang fokus."
"Ada masalah apa lagi, yang membebani pikiran bapak, bukankah masalah kantor sudah mulai bisa di kendalikan lagi." Anton duduk di sofa sambil menikmati kuker yang ada di meja.
"Seharusnya masalah rumah tangga tak di bawa ke kantor, tapi aku gak bisa berhenti memikirkannya." Ken pun ikut duduk di sofa sambil menyeruput kopi yang masih hangat.
"Ada masalah apa lagi, bertengkar dengan Karin?"
"Tidak. Tapi aku memiliki kartu nama Reval yang aku temukan di tasnya. Dari mana dia mendapatkan itu?"
"Maksudmu Reval saingan yang kamu kalahkan itu dan sekarang membangun perusahaan baru dengan nama REVALDA. Iya aku takut Reval memanfaatkan kepolosan Karin untuk balas dendam padaku."
"Sudah coba kamu sudah bertanya pada Karin apakah mereka benar-benar kenal atau hanya firasatmu saja..'
"Aku belum bertanya langsung dengan Karin. Masalahnya dia sekarang sedang sibuk dengan anak-anak. Joy sekarang tinggal bersama kami di rumah."
"Ya sudah, lebih baik nanti jika ada waktu tanyakan langsung pada istrimu jangan masalah ini menjadi kesalah pahaman yang membuat masalah keluarga, jika kamu gak bisa ngatasinnya baru aku turun tangan membantu. Lagian selama ini aku sudah terlalu banyak membantu keluargamu sampai aku paham betul watak kalian berdua."
"Iya kamu memang benar, aku akan mencoba bicara padanya. setidaknya agar pikiranku sedikit lebih tenang. Aya Gimana perkembangan Adit apa dia mulai terbiasa dengan kerja barunya."
"Sepertinya sudah mulai nyaman dia di sini, tinggal menunggu waktu untuk selanjutnya."
"Aku percayakan Adit dalam pengawasanmu. tenang saja." Anton yang sudah menjadi kepercayaan Ken begitu santai menghadapi situasi apapun saat bertemu Kenzo.
_______
Kertas - kertas berterbangan ke atas saat kedua tubuh saling bertabrakan. Adit menahan tubuh Dinda yang hampir terjatuh, sesaat mereka berpandangan sebelum Adit melepaskan tangannya dari pinggang Dinda yang membuatnya terjatuh.
"Auuuuhhhh." teriak Dinda sambil memegangi pinggangnya.
Adit melipat tangannya ke dada sambil memandang Dinda dengan tatapan tak suka.
"Bisa gak sih sehari saja gak menabrakku, apa gunanya punya mata kalau jalan aja masih sama seperti orang buta."
"Eh pak, siapa juga yang sengaja menabrak bapak, Saya sedang buru-buru memberikan berkas ini pada pak Anton, malah bapak berdiri di tengah jalan. Sejak bapak masuk ke kantor ini, kerjaan saya jadi kacau " oceh Dinda sambil memunguti lembaran kertas yang berhamburan.
__ADS_1
"Bukannya nolongin malah ngomel, dia yang salah malah dia yang marah." gumam Dinda. Adit pergi melewati Dinda tanpa sepatah katapun menuju ke ruangan Anton.
Adit berpapasan dengan Anton yang baru keluar dari ruang Ken di susul juga dengan Dinda dari belakang.
"Maaf pak Anton, anda memanggil saya?" tanya Adit
"Oh. . . iya, kita bicara di dalam saja dan kamu Dinda ikut masuk juga ada yang ingin saya bicara dengan kalian berdua."
"Baik pak." jawab serentak Adit dan Dinda.
Di dalam Anton berbicara dengan mereka berdua.
"Apa pak, saya jadi rekan kerja pak Adit? apa tidak bisa karyawan yang lain."
"Iya pak, memang tidak ada karyawan yang lain yang bisa menjadi rekan kerja saya selain dia ini." saut Adit.
"Hai. . .kalian ini kenapa, ini sudah keputusan tidak bisa di ubah dan di ganggu gugat, saya harap kalian bisa saling kerja sama, setidaknya untuk beberapa waktu." jelas Anton
"Maaf pak, atas kelancangan saya, saya sebagai pegawai baru seharusnya mematuhi peraturan dan kepuasan atasan."
"Bagus kalau kamu paham, dan kamu Dinda kamu sudah bekerja di sini lama tapi belum ada sesuatu yang bisa di banggakan dari kinerjamu"
"Ya sudah kalau begitu kalian bisa kembali bekerja"
Adit dan Dinda pun keluar dari ruangan Anton.
"Kalau bukan karena pak Anton sebagai atasan, sudah ku tolak mentah-mentah, malas aku jadi satu tim denganmu apa coba hebatnya, sudah kerja lama tapi tidak ada yang di banggakan." oceh Adit dan berlalu pergi, sedangkan Dinda mengapal tangannya seolah ingin meninju Adit.
"Jika ini bukan karena kak Reval, aku gak Sudi kerja di sini, lebih baik aku tidur di rumah dan memanjakan diri." oceh Dinda dan kembali ke tempat kerjanya.
_____
Ponsel Karin berdering dan itu panggilan dari suaminya.
"Iya mas ada apa?" tanya Karin
"Mas malam ini mau mengajak sayang ke suatu tempat berdua saja"
"Tumben. Dalam kerangka apa?"
__ADS_1
"Tidak, mas cuma ingin menikmati waktu bersama saja. Jangan lupa dandan yang cantik sepulang kerja kita langsung berangkat."
"Iya mas, Karin tunggu di rumah."
Ken pun mematikan ponselnya. "Mungkin dengan menghabiskan waktu berdua aku bisa bertanya langsung padanya tanpa menyakiti hatinya. Maaf sayang jika mas ada rasa curiga dan cemburu, karena mas sayang dan tak ingin kehilangan dirimu." Ken pun kembali menyelesaikan pekerjaannya yang sempat terbengkalai karena terus memikirkan istrinya.
Disisi lain Karin nampak begitu bahagia, atas ajakan suaminya. Tak terbesit pikiran bahwa suaminya sedang cemburu atau curiga padanya.
Segera saja Karin Memilih- milih baju terbaik untuk di pakai. Begitu banyak pilihan Hinga Karin bingung harus Makai baju yang mana.
Karin pun menghubungi suaminya balik dengan video call.
"Iya ada apa sayang?"
"Mas, Karin harus pakai baju yang mana? Karin bingung. bisakah mas pilihkan untuk istrimu ini, Karin gak mau mengecewakan mas."
"Dasar Istri lugu mas, baiklah tunjukkan yang mana biar mas yang pilih."
Karin pun memperlihatkan pakaiannya dan Ken pun memilih salah satu pakaian yang di rasa cocok untuk malam ini.
"Oya jangan lupa, bawa baju ganti. Kita pulang besok. Dan bilang pada anak-anak kita bermalam di luar."
"Iya mas, Karin nanti kasih tahu. Ya sudah mas lanjutkan kerjanya Karin bersiap diri dulu biar gak mengecewakan mas"
"Iya baiklah."
Karin pun bergegas bersiap diri sambil menunggu waktu Karin Memilih untuk berendam terlebih dulu, merilekskan seluruh tubuhnya.
MAKASIH YANG SUDAH SUDI MAMPIR UNTUK MEMBACANYA. DAN YANG SUDAH MULAI BOSAN TENANG AJA, 42 BAB LAGI AKAN TAMAT DAN AKAN HIATUS.
HARAP BIJAK DALAM BERKOMENTAR, JIKA TIDAK SUKA SILAHKAN DI SKIP SAJA, JANGAN MENINGGALKAN JEJAK YANG MENJATUHKAN. SAYA HANYA MENYELESAIKAN APA YANG SUDAH SAYA BUAT JADI JANGAN BUAT SAYA DOWN LAGI OKE.
SAYA JARANG UP KARENA ADA SATU DAN LAIN HAL DI DUNIA NYATA SAYA. JADI HARAP MAKLUM.
DAN YANG BILANG INI TERLALU RUMIT MASIH BANYAK YANG LEBIH RUMIT DARI INI LAGI, SAYA HANYA MENYISIPKAN IDE YANG SAYA MILIKI AGAR ALURNYA TIDAK DATAR.
UNTUK YANG MASIH SETIA MENUNGGU. AKAN SAYA USAHAKAN AGAR SELALU UPDETE JIKA TIDAK ADA KENDALA. INI UNTUK KALIAN YANG MASIH SUKA DENGAN CERITA INI SEBELUM SAYA HIATUS. ππππ
__ADS_1
ARTHUR