
"Mas. . ."Panggil karin yang mendapati Ken sedang berdiri di balkon menghirup udara malam.
"Maaf, aku belum bisa menerima kehadiran Joy di dalam hidupku lagi, setiap aku melihatnya kebencianku pada Sasa selalu muncul. Apa kau tak merasa hal yang sama." Ken membalikkan tubuhnya dan menatap istrinya yang ada di belakang.
"Tidak, aku tak pernah membenci mbak Sasa, mungkin dulu ia sedang khilaf dan tak sengaja melakukan itu. Karin mengerti bila di posisi mbak Sasa Waktu itu."
"Gak, kamu gak ngerti dan gak tahu siapa Sasa. cukup sekali aku di tipu olehnya dan aku gak mau itu terulang lagi."
"Tapi mbak Sasa sudah menerima hukumannya. Mas jangan menyimpan dedam pada orang lain itu gak baik. Yang penting sekarang kita mulai kehidupan yang baru, bersama putra-putra kita. Perlakukan Joy seperti anak kandung sendiri mas."
"Akan aku coba, tapi jangan salahkan aku jika masih sering menghindar darinya." Karin pun mengangguk. Setidaknya suaminya mau mencoba menerima kembali putranya.
Karin memeluk tubuh suaminya dengan hangat. "Aku kan mendaftarkan Joy sekolah di tempat sang sama dengan Arthur, aku ingin mereka bisa akrab dan bisa menjadi saudara yang baik untuk satu sama lain."
"Terserah padamu, mas serahkan masalah anak-anak padamu. Mas yakin istri mas ini bisa menjadi ibu yang terbaik untuk anak-anak.
_______________
Arthur dan Joy sama-sama duduk di ujung ranjang masing-masing. Tak ada pembicaraan yang mereka lakukan hanya saling menatap dan kadang memalingkan wajahnya.
"Hai adik Arthur, apakah bundamu itu baik?" tanya Joy
"Tentu saja dia baik, kalau tidak baik mana mungkin mengizinkan kamu masuk dalam keluarga kami, memangnya apa hubunganmu dengan dengan keluarga ini, sampai bunda memintaku memanggil kakak. Aku tidak punya seorang kakak mengerti." Ucap Arthur yang merasa tak suka dengan kehadiran Joy dan menjadi kakaknya.
"Aku ini putra papa, kalau bukan karena mamamu, papa dan mama pasti baik-baik saja. Lagian aku juga gak Sudi punya adik sepertimu." balas Joy
"Gak mungkin, bundaku merebut papa dari mamamu, bundaku orang yang paling baik sedunia, gak ada yang lebih baik dari bunda jadi jangan buat Arthur marah dengan menjelekkan bunda, atau Arthur akan lakukan apapun buat kamu keluar dari rumah ini."
"Lakukan saja bocah kecil, kita lihat saja siapa yang akan di bela mama dan papa aku atau kamu."
"Baiklah, kita bertaruh mulai sekarang. Sampai kapanpun aku gak mau punya kakak sepertimu."
__ADS_1
Di balik keluguan kedua pria kecil ini ternyata menyimpan kebencian masing-masing yang tak saling menyukai.
Karin tak menyadari apa yang terjadi dengan kedua putranya, karena di depan Karin kedua pria kecil ini begitu akrab dan bermain bersama.
Paginya Karin pergi ke sekolah dengan taraf internasional tempat kedua putranya akan di sekolahkan. Ken mengantar Karin sampai tujuan dan berlanjut ke tempatnya bekerja.
Di sekolah Karin di sambut dengan baik, dan di beri informasi mengenai sekolah yang berkelas itu.
Setelah selesai mendaftarkan anak-anaknya, Karin pun pulang dengan memesan taksi. Saat dirinya hendak masuk taksi yang sudah datang suara klakson mobil yang nyaring membuat Karin berhenti sejenak sebelum masuk ke taksi dan melihat mobil yang sengaja membunyikan klakson dengan nyaringnya.
Seorang pria keluar dari dalam mobil dan menghampiri Karin.
"Tunggu sebentar nona!" ucap pria itu.
"Maaf anda siapa dan ada perlu apa?"
"Apa anda lupa, saya yang gak sengaja menyerempet anda waktu itu dan kebetulan saya melihat anda saat akan melintasi jalan ini. Bisakah kita ngobrol sebentar dan ikut mobil saya?"
"Ayolah nona sebentar saja." Reval langsung menghampiri sopir taksi dan memberikan uang agar segera meninggalkan Karin. Reval menarik tangan Karin dan membawanya ke dalam mobilnya.
"Apa yang anda inginkan sebenarnya, kan sudah saya katakan masalah kemarin sudah selesai."
Reval tak menjawab, dia malah mempercepat laju mobilnya menuju sebuah kafe.
"Aku ingin kita bicara sambil menikmati makanan di sini."
"Tapi aku tidak mau, gak enak sama orang kita kan gak Saling kenal."
"Anda memang lucu, mana ada orang tahu kita sudah kenal atau belum, yang mereka tahu aku datang bersama anda. Maukah nona menuruti permintaan saya kita ngobrol di cafe ini." Reval berusaha membujuk Karin yang masih canggung. Baru pertama kalinya Karin jalan dengan seorang pria setelah menikah dengan Ken dan Karin merasa tak seharusnya ia pergi dengan laki-laki tanpa seizin suaminya.
"Kali ini saja ya, lain kali saya gak mau"
__ADS_1
"Baiklah kali ini saja." Reval pun membukakan pintu mobilnya dan mempersilahkan Karin keluar. Dengan canggung Karin mengikuti Reval masuk dalam cafe tersebut dan duduk di salah satu tempat yang kosong.
Reval memesan minuman dan juga cemilan untuk Karin. Mereka pun ngobrol walaupun masih canggung.
"Maaf nona, dari tadi kita ngobrol tapi belum saling kenal. Perkenalkan saya Reval dan kalau boleh tahu anda siapa." Reval mengulurkan tangannya pada Karin. Dengan ragu-ragu kerin membalas menjabat uluran tangan Reval.
"Saya Karina dan panggil saya Karin."
"Baiklah Karin, ngomong-ngomong sedang apa kamu di Depan sekolah tadi?" tanya reval penasaran.
"Oh. . .tadi saya sedang mendaftarkan anak-anak untuk sekolah di tempat itu."
"Anak-anak?" Reval tercengang dan ucapan Karin yang ternyata dirinya sudah punya anak.
"Iya anak-anak. Saya sudah punya anak." Reval tersenyum merasa tak percaya dengan omongan Karin.
"Aku benar-benar gak percaya, Wanita secantik dan masih terlihat sangat muda ini sudah punya anak."
"Memangnya salah, usia muda sudah punya anak. Gak ada yang melarang kan, lagian aku juga punya suami yang peduli dan sayang sama aku." Karin sedikit judes saat dirinya ditertawakan Reval.
"Bukan begitu Karin, aku hanya kaget saja. di usiamu yang masih muda, seharusnya masih menikmati masa remaja bukan malah menjadi ibu rumah tangga. Apa boleh aku menebak usiamu sekarang?"
"Silahkan saja kalau bisa."
Reval sejenak berpikir dan mulai menerka-nerka usia Karin dengan menatap wajah Karin dengan seksama. Sedangkan Karin lebih memilih menikmati minuman yang sudah di pesan dari pada Menunggu orang menerka usianya.
"Lama amat menebak usiaku, keburu habis minum dan makanan yang ada di meja ini?"
"Sabar jangan buru-buru, aku masih memperhatikannya dari raut wajah mu yang manis dan cantik. Dan sekarang aku tahu pasti usiamu baru menginjak 17 tahun. . ." ucap Reval. Membuat Karin tertawa.
"Kau pikir aku ini masih ABG, masa kamu menebak aku masih 17 tahun." Reval pun ikut tersenyum melihat tawa Karin yang begitu lepas dan membuat hatinya begitu bahagia.
__ADS_1