
Nisa begitu bahagia melihat Ken datang menemuinya, walaupun Nisa masih buronan namun tak menyurutkan nyalinya untuk bisa bertemu dengan Ken.
"Mas aku ingin mengatakan sesuatu pada mu. Sejak pertama kali aku melihatmu dan pertama kali kau menyentuh tubuhku, aku mulai menyukai mu, aku berusaha mencari keberadaanmu, aku ingin bersamamu. Mas bisakah kamu memberikan aku satu kesempatan untuk memilikimu, aku janji akan menjadi wanita yang sempurna untuk mu, " ucap Nisa.
"Apa cuma itu yang ingin kamu bicarakan, hal yang sama sekali tak penting. cepat serahkan diri mu ke polisi agar kamu tak mati sia-sia disini." bentak Ken.
"Mas beri aku kesempatan sekali ini." Nisa mengiba
Karin yang sedari tadi sudah mendengar ucapan Nisa sudah tak tahan lagi.
"Cukup Nisa, apa yang kamu lakukan. Aku gak nyangka kamu bisa serendah itu. Aku gak nyangka kamu mau memiliki suamiku. Hentikan sandiwara mu itu Nisa, di kampung mas Rian sedang menunggumu, ibu dan bapakmu menanti kedatangan mu. Tapi apa yang kamu lakukan di sini." ucap tegas Karin yang tak kuat mendengar ucapan Nisa dan terpaksa muncul.
"Hentikan Karin, kamu gak tahu apa-apa tentang aku dan jangan ikut campur dengan urusan ku."
"Aku tahu!!! aku tahu tentang dirimu, kamu sahabat ku, sahabat suka duka, sampai aku mengalah dan membiarkan mas Rian kamu miliki, tapi apa, kamu malah menyia-nyiakan nya dan sekarang kamu mau merebut mas Ken dari tanganku. Jangan harap aku mau mengalah, dia suamiku dia ayah dari anakku." ucap tegas Karin sekali lagi.
"Kalau tahu mas Ken adalah suamimu, seharusnya sejak awal aku melenyapkan mu, agar aku bisa memiliki mas Ken." Nisa tertawa
"Tutup mulutmu Nisa, kamu tidak akan pernah bisa memiliki mas Ken. sampai kapanpun tidak akan pernah bisa."
"Jika aku tak bisa, kau juga tak akan bisa memilikinya lagi." Nisa yang sudah dibutakan hasratnya untuk memiliki Ken nekat menodongkan senjata pada Karin.
"Hentikan Nisa, jangan berbuat nekat." cegah Ken
"Lakukan saja Nisa jika itu bisa membuatmu puas, biar aku tidak menanggung malu terhadap orang terdekatmu yang mempercayakan ku untuk membawamu pulang." tantang Karin.
Dengan gemetaran Nisa masih menodongkan pistolnya di hadapan Karin dan dengan ragu-ragu Nisa menembak senjatanya ke arah Karin, untung Ken sempat menarik Karin hingga peluru itu melesat, namun sayang saat Ken menyelamatkan Karin Kepala Ken terbentur bongkahan batu bekas dinding yang hancur hingga darah segar mengalir dari kepalanya.
Dan di saat bersamaan peluru menembus jantung Nisa hingga dirinya langsung tergeletak tak berdaya.
Polisi dan Anton berserta anak buahnya bergerak dan menghampiri Ken dan Nisa.
__ADS_1
Tangis Karin tak terbendung melihat Ken yang terkapar tak berdaya dengan mengeluarkan banyak darah.
"Mas...bangun mas, jangan tinggalkan Karin....sadar mas..." Karin mencoba menyadarkan Ken.
"Karin kita harus bawa pak Kenzo kerumah sakit sekarang." Karin mengikuti Anton membawa suaminya kerumah sakit Sedangkan Nisa di tangani pihak kepolisian.
Setelah sampai kerumah sakit Ken langsung mendapat penanganan medis. Tubuh Karin gemetar, hatinya gelisah.
Karin mondar-mandir menunggu.
"Karin duduklah, pak Ken pasti baik-baik saja." ucap Anton.
"Aku takut, kegelisahan ku jadi kenyataan, aku takut." Karin kembali menangis.
"Tenang Karin, kasian bayimu jika kamu terus saja gelisah." Anton menenangkan Karin.
"Aku sudah menghubungi orang tua pak Ken, mungkin besok dia sudah Sampai, sekarang kamu tenang ya."
Karin menunggu sampai tertidur di kursi tunggu. Saat Ken sudah di pindahkan keruang rawat Karin baru dibangunkan Anton.
"Mas Ken, Lia bergegas menghampiri Ken yang terbaring dengan kepala di perban dan belum sadarkan diri.
"Karin kamu harus kuat ya, ini mungkin cobaan buat keluarga mu." Anton mengusap pundak karin.
"Asalkan mas Ken bisa selamat, itu sudah membuatku tenang."
_______
Keesokkan harinya mama Vika dan Rafael datang kerumah sakit,
"Karin, bagaimana keadaan Ken?" tanya mama Vika yang menghampiri Karin di sebelah Ken.
__ADS_1
"Mama" Karin langsung memeluk mertuanya, "maafkan aku ma, ini semua salahku, mas Ken mencoba melindungi ku dan hingga kepalanya terbentur." tangis Karin tak terbendung.
"Ini bukan salahmu nak, Ken mencoba melindungimu, kita doakan Ken cepat sadar ya." mama Vika mencoba menghapus air mata Karin.
Mama Vika menghampiri putranya yang tengah terbaring dan belum sadarkan diri.
"Cepat sadar nak, kami disini menunggu mu."
Tak lama Anton pun datang memberi tahu bahwa Nisa meningal dunia dan menunggu keputusan Karin.
Karin bergegas menghampiri Nisa di kamar jenazah bersama Anton. Air mata Karin tak terbendung melihat tubuh yang terbujur kaku adalah sahabatnya.
"Nisa aku gak nyangka, kisah mu berakhir tragis, maafkan aku sebagai sahabatmu, tak bisa membawamu kembali dengan selamat, tapi sekarang kamu sudah tenang di sana, dan aku akan mengembalikan mu pada keluarga mu. Aku akan mengenangmu sebagai sahabat ku bukan musuhku." Karin mencium kening Nisa untuk yang terakhir kalinya sebelum menutupnya.
"Kirim jenazahnya ke kampung halaman, walau bagaimanapun di sana masih ada keluarganya dan juga kirim uang untuk ucapan belasungkawa, dan katakan permintaan maaf dari kami." ucap Karin dengan tegas dan keluar dari kamar jenazah.
Setelah melihat jenazah Nisa Karin menemui dokter yang merawat Ken. Hati karin kembali hancur saat mendengar penjelasan dokter tentang keadaan Ken.
Karin seperti tak sanggup lagi menerima kenyataan- kenyataan lagi.
Mengingat apa yang akan terjadi saat mas Ken sadar, apakah dia akan mengingat dirinya lagi.
Karin menghapus air mata dan kembali menghampiri mertua dan adik iparnya.
"Ma, gimana mas Ken apa ada tanda-tanda dia mulai sadar."
"Belum sayang, kamu yang sabar ya, mudah-mudahan Ken cepat sadar dan bisa berkumpul kembali."
"Ma, tadi Karin menanyakan keadaannya mas Ken, katanya kemungkinan besar saat mas Ken sadar dia akan mengalami amnesia. Aku takut mas Ken lupa pada kita ma."
"Sudah sayang jangan di pikirkan, yang terpenting Ken bisa sadar kita masih bisa melakukan banyak pengobatan untuk kesembuhannya nanti."
__ADS_1
"Iya kak, kak Karin jangan cemas, Abang orangnya kuat, dia pasti bisa cepat pulih, kak Karin juga harus pikirkan kesehatan kakak, Abang pasti gak mau kalau kak Karin terlalu cemas, istirahat lah kak, ada kami yang menunggu Abang
"Iya sayang, istirahat, ayo Mama temani kita duduk disofa, mama juga gak mau cucu mama kenapa-kenapa kalau kamu terlalu capek dan cemas." mama Vika begitu perhatian dengan Karin bahkan lebih mencemaskan Karin daripada Ken yang terbaring di ranjang.