Bukan Salahku Menjadi Pelakor

Bukan Salahku Menjadi Pelakor
keahlian kancil


__ADS_3

Keesokkan harinya semua sudah bersiap-siap. Sebelumnya mereka semua menyantap sarapan.


Karin yang belum sempat bilang ke ibunya untuk kepulangannya, terpaksa harus bicara secara mendadak.


"Bu,. . maaf kalau Karin bicaranya mendadak sama ibu. Tadi malam mas Ken bilang kita harus kembali ke Jakarta, karena mas Ken sedang ada masalah di perusahaannya. Karin harap ibu mau mengerti."


"Lo kok mendadak, gak bisa di undur besok apa, ibu kan belum buatkan apa-apa untuk kalian. kalian juga baru 3 hari di sini." ucap ibunya yang kaget


"Adit juga minta izin ke ibu, mas Ken tadi malam memberitahu Adit untuk ikut ke Jakarta, membantu mas Ken untuk masalah perusahaan."


"Lo. . .Adit kamu juga ke Jakarta." ucap bersamaan antara ibu dan Karin yang kaget.


"Iya, emangnya mbak Karin gak di kasih tahu mas Ken?" tanya ada dan Karin pun menggelengkan kepala.


Kini tatapan Karin tertuju pada Ken yang sedari tadi tak hanya diam dan menikmati sarapan.


"Mas. . .beri penjelasan pada istrimu ini."


"Belum sempat, ngomong. soalnya kan sayang sudah tidur duluan."


"Tapi. . ."


"Nanti mas jelaskan, yang terpenting saat ini mas membutuhkan bantuan Adit, dan saya harap ibu bisa mengizinkan Adit ikut kami."


"Ibu gak melarang nak, Lagian Adit sudah besar dan harus bisa mandiri dan ibu juga sangat senang jika Adit ini bisa membantumu."


"Bun, kita mau pulang ya? tapi kan Arthur masih mau tinggal di sini?"


"Kita harus pulang nak, lain kali kita main lagi kesini. Paman Adit juga ikut bersama kita."


"Hore. . . paman ikut. nanti Arthur lihatkan ke paman mainan Arthur yang banyak."


"Wah. . paman sudah gak sabar pengen Arthur perlihatkan, tapi sekarang sarapan dulu biar kenyang." Tiga hari berkumpul Arthur sudah mulai dekat dengan pamannya Adit, sedangkan Bima tidak begitu ada waktu karena sedang sibuk kuliah.


"Kalian tunggu dulu ya, ibu mau buatkan makanan buat cucu ibu, untuk di perjalanan. entah kapan lagi kita bisa berkumpul seperti ini lagi."


"Ibu..." saut Karin yang merasa sedih harus meninggalkan ibunya yang belum puas melepas rindu dengan putri dan juga cucu kesayangannya.

__ADS_1


Karena tak mau membuat sedih ibunya, mereka sepakat pulang setelah ibunya selesai membuat makanan.


Akhirnya mereka berangkat pukul 14.00 wib. mungkin akan sampai Jakarta sekitar dini hari.


Dengan air mata yang menetes mengiringi ke pulangan anak-anaknya, tak dapat ibu Asih tutupi.


"Bu jangan sedih, nanti sesampainya Jakarta Karin akan langsung menghubungi ibu. Ibu baik-baik di sini ya Sama Bima, kalau ada apa-apa kabarin Karin." Karin pun memeluk ibunya dan menumpahkan tangis perpisahan.


Dengan lambaian tangan perpisahan Ken, Karin, Arthur dan Adit berangkat ke Jakarta meninggalkan ibu Asih dan Bima.


Perjalanan kali ini tidak berjalan mulus saat mencapai setengah perjalanan, tiba-tiba saja ban mobil mengalami bocor. Saat itu suasana sangat sepi karena masih ada di salah satu desa yang harus mereka lewati.


"Kenapa mas berhenti di sini?" tanya Karin


"Sepertinya ban mobil bocor, sayang tunggu di sini dan jangan keluar biar aku dan Adit yang melihatnya." Karin pun mengangguk. saat itu juga Arthur sedang tidur.


Ken dan Adit memeriksa ban mobilnya dan ternyata bocor dan di sebabkan oleh paku yang menancap di ban bagian depan.


"Sepertinya ada yang sengaja menabur paku di sini mas, lihatlah beberapa paku menancap di ban."


"Sepertinya begitu. tapi di mobil hanya ada satu ban serep sedangkan ini yang bocor dua."


Tak lama kemudian sekitar delapan orang dengan mengendarai motor datang menghampiri dan lebih parahnya mereka membawa senjata.


"Mas, Sepertinya ada yang sengaja mau membuat masalah dengan kita. Mas bisa berkelahi gak."


Mendengar ucapan Adit Ken sedikit tersinggung, "Kau meremehkan mas rupanya, begini-begini mas tahu bela diri juga."


Suara tawa salah satu begal kembali membuat Adit dan Ken waspada.


"Serahkan semua yang kalian miliki, atau nyawa kalian akan melayang di tangan kami." ucap salah satu begal.


" Hai botak. . Tidak akan ku berikan satu barangpun pada kalian, kalau kalian mau punya harta ya kerja jangan main begal aja." Ucap Adit yang tertuju pada pria botak.


"Sudah di depan kematian kalian masih sok mempertahankan barang kalian."


"Memangnya kalian tahu kematian kami, jangan sok tahu. Sini kalau berani satu lawan satu jangan main keroyokan." tantang Adit yang sok berani.

__ADS_1


Dengan kesal karena tidak di takuti para begal pun menyerang Ken dan Adit satu lawan satu namun mereka menggunakan senjata.


Ken yang serius pun meladeni begal dengan beladirinya berbeda dengan Adit yang selalu menghindar taat di serang.


"Kamu curang, kita kelahi secara jantan jangan pakai senjata."


"Kebanyakan bacot Lo, kalau memang berani jangan terus menghindar" ucap begal yang sudah gregetan dengan Adit yang selalu menghindar.


Adit berusaha melawan Si botak dengan keahlian kancil, menghindar di saat di serang dan memukul di saat musuh lengah dengan keahlian ala kadarnya.


Setelah si botak mulai lelah bermain dengan Adit, memberikan kesempatan untuk Adit menghajarnya. Rasa gregetan Adit pada si botak membuatnya menjitaki kepala botak sampai ampun-ampun.


"Rasain Lo botak, sudah berani menodong ku, sekarang terima akibatnya. kamu sendiri yang kalah."


"Ampun. . .ampun . . . lepaskan saya, sakit kepala saya." ucap si botak meminta ampun.


Butuh waktu hampir satu jam untuk mengalahkan delapan preman dengan skor Ken tujuh dan Adit Satu.


Setelah mengalahkan mereka semua Ken sempat mengikat mereka semua agar tak bisa lolos, walaupun wajah Ken sedikit lebam karena tinjuan yang mengenai wajahnya.


"Sukurin, kalian sudah berani menodong kami, akhirnya kalian sendiri yang dapat sialnya." ledek Adit yang melihat para begal babak belur.


"Mas kita apain mereka mas, gak mungkin kita jagain mereka sampai pagi. di sini sangat sunyi bahkan tak ada satu pun warga yang lewat."


"Entahlah."


Lama Karin pun memanggil Ken saat dirinya terbangun dari tidur.


"Mas kenapa kita masih di sini?" tanya Karin


"Sepertinya kita akan terjebak di sini sampai pagi. sayang tidur saja lagi."


Karin tak menyadari bahwa wajah Ken lebam, pencahayaan yang kurang lah yang menyebabkan Karin tak melihatnya.


"Mas dan Adit baik-baik saja kan?"


"Iya jangan kuatir kan mas, baik-baik saja kan ada Adit yang menemani mas."

__ADS_1


"Baiklah kalau begitu Karin istirahat lagi." Ken pun kembali menghampiri Adit yang sedari tadi mengganggu para begal.


Tak lama kemudian Sebuah mobil bak terbuka membawa beberapa warga melintas dan berhenti.


__ADS_2