Bukan Salahku Menjadi Pelakor

Bukan Salahku Menjadi Pelakor
S1-16


__ADS_3

Baru beberapa jam, kabar kedatangan Karin sudah menyebar kesana-kemari. Para tetangga sudah silih berganti bertemu dengan Karin, walaupun hanya menanyakan kabar atau ingin tahu cerita hidup di kota.


"Nduk, maaf ibu cuma masak ini, soalnya ibu gak tahu kamu pulang jadi ibu tadi gak belanja." ibu Asih menata makanannya di meja.


"Gak papa Bu, Karin malah kangen masakan ibu yang kaya gini, sayur santan daun singkong, lauk tahu, tempe, apa lagi yang ini ikan asin favorit Karin." ucap Karin sambil mengambil nasi dan lauk makan.


"Mbak Karin kangen, kalau kami bosen." saut Adit.


"Memangnya ibu gak pernah masak daging, kok sampai adek adek mbak bilang gitu."


"gak pernah mbak, ibu tiap hari beli tahu, tempe, ikan asin." Saut Bima.


"Ya udah, sekarang nikmati masakan ibu, besok mbak masakin masakan yang enak buat kalian."


"Jangan di manja adekmu itu rin, jangan menghambur uang."


"Gak papa Bu, sekali-kali gak papa kan. Oya, uang yang Karin kirim apa sudah habis Bu?"


"Masih nak, ibu simpan,itu hasil kerjamu jadi gak mungkin ibu hambur-hamburkan."


Adit dan Bima yang sudah selesai makan, bermain di teras, keluarga Karin yang sederhana tak memiliki banyak harta bahkan tv pun tak punya.


"Nak, gimana kabar Rahayu, ibu dengar dia sakit di sana." Pertanyaan ibunya membuat selera makan Karin tiba-tiba hilang dan menghentikan makannya.


"Ibu, mulai sekarang Karin gak akan pernah menganggap bulek menjadi keluarga lagi, Karin sangat membencinya." Karin pun pergi meninggalkan ibunya dan memilih kembali ke kamar.


"Memangnya ada apa Karin." tanya ibu asih namun tak mendapat jawaban dari Karin.


Di dalam kamar, menangis mengingat perlakuan buleknya yang menghancurkannya.


"Maaf Bu, Karin belum bisa cerita pada ibu, apa yang dilakukan bulek pada Karin." gumam Karin


Tak lama ponsel Karin berdering dan itu panggilan dari Ken.


"Halo tuan, ada apa menghubungi Karin?"


"Gimana, kamu disana apa baik-baik saja."


"Karin baik, tuan sendiri bagaimana, apa sudah berangkat ke Australia."

__ADS_1


"Aku baik, besok pagi baru berangkat. jangan macam-macam disana ya, aku akan secepatnya menjemputmu."


Karin dan Ken pun ngobrol panjang lebar, sampai suara panggilan dari Bima terdengar.


"Mbak, ada mas Rian nyariin mbak Karin." panggilan Bima terdengar oleh Ken.


"Siapa Rian?"


"Anu....tuan....teman Karin di kampung." jawab Karin gugup.


"Oh...ya udah, ingat jangan macam-macam lagi. kalau gitu aku matikan dulu."


Tak lama Karin pun keluar menemui Rian.


"Mas Rian ngapain ke sini?" tanya Karin


"Karin, ada tamu kok jawabnya kaya gitu, gak sopan tau." Karin pun duduk di sebelah ibunya.


"Ibu masuk dulu ya buatkan teh buat nak Rian."


"Makasih Bu, gak usah repot-repot." saut rian.


"Gimana kabarmu Karin?"


"Aku baik mas, dari mana mas tahu kalau aku datang."


"semua warga desa sini sudah tahu, kalau kamu pulang. Aku senang sekali akhirnya bisa ketemu kamu lagi."


"Gimana kabar Nisa sekarang." tanya Karin


"Lo kok jadi nanyain Nisa nih."


"La emangnya kenapa, Nisa kan calon istri mu."


"Iya itu kemarin, sebelum dia milih mengikuti kamu ke Jakarta." mendengar ucapan Rian Karin tersedak liur sendiri karena kaget dengan pengakuan Rian.


"Dengan siapa Nisa ke Jakarta? apa dia sudah lama pergi kesana."


"Satu Minggu, setelah kamu berangkat, dia juga ikut bulek Rahayu. katanya mau ngadu nasib kaya kamu, padahal aku sudah mau melamarnya, tapi dia menunda dulu."

__ADS_1


"Terus gimana kabarnya sekarang?." tanya Karin penasaran.


"Aku gak tahu, dia gak pernah menghubungi aku lagi, bahkan menghubungi keluarganya saja enggak."


Karin mulai berfikir yang enggak-enggak tentang pekerjaannya di sana. Walaupun Karin dan Nisa sudah tidak akrab sejak memperebutkan Rian, tapi setidaknya Nisa sudah pernah jadi sahabat dekat Karin.


"Nanti kalau aku ketemu Nisa akan aku beritahu dia untuk mengebarimu."


"Ya Karin, tujuanku datang ke sini aku benar-benar minta tolong bilangkan ke Nisa buat ngabarin orang tuanya." Karin pun mengangguk saat sedang mengobrol dengan Rian ponsel Karin berdering dan itu dari Ken.


"Siapa Karin?" tanya Rian penasaran


"Calon suamiku, sebentar lagi kami mau menikah."


"Cepat banget ya, kamu sudah punya calon."


"Aku angkat sebentar ya."


Karin pun mengambil kesempatan manas-manasin Rian.


" Halo sayang, ada apa lagi nelpon, masih kangen ya, bukannya baru setengah jam yang lalu habis ngobrol." Ken yang mendengar ucapan Karin merasa heran.


"Karin kamu masih waras kan.?"


"apa-apaan sih sayang nie."


"Aku cuma mau tanya, sudah di buka belum hadiah dariku."


"Apa yang, sayang ada ngasih hadiah, maaf yang belum aku buka soalnya gak tau, ya udah ya sayang masih ada tamu ini gak enak kalau ditinggal kelamaan."


"Ya udah sayang, mat malam semoga suka dengan hadiahnya."


Rian yang mendengar pun sedikit minder dengan Karin yang terlihat romantis.


"Dia orang kota?"tanya Rian dan Karin mengangguk.


"Iya dia orangnya baik banget, jauh lebih baik daripada kamu yang menolak cintaku." Rian terdiam mendengar ucapan Karin yang menyindirnya.


Tak lama Rian pun pulang, Karin pun merasa lega setelah menahan kebencian pada Rian.

__ADS_1


Karin kembali menghubungi Ken namun panggilan nya sudah tidak diangkat.Karin pun membuka koper dan mencari-cari hadiah yang Ken maksud dan akhirnya Karin pun mendapatkannya, hadiah yang membuat Karin sangat bahagia. "Aku akan menunggumu tuan, terimakasih untuk semuanya.


__ADS_2