
"Kak sepertinya Rara harus pulang duluan, soalnya Rara mau beli sesuatu." ucap Rara berbohong hanya untuk menghindar dari kedua kakaknya.
"Biar kakak yang antar!" ucap Arthur menawarkan diri.
"Gak usah kak, Rara bisa pulang sendiri, kakak lanjutkan kerjanya." tolak Rara ia pun melangkahkan kaki untuk pergi.
"Tunggu biar kakak yang antar, kamu belum terlalu hafal kota ini." dengan tersenyum Rara pun tetap menolaknya.
"Gak usah kak, Rara bisa pulang sendiri. Rara pamit dulu ya kak" dengan tersenyum Rara meninggalkan ke-dua kakaknya dan pergi meninggalkan kantor.
Rara kembali ke cafe yang ada di sebrang memastikan Anton masih di sana atau sudah pergi. Namun nampaknya Anton sudah pergi, saat Rara menghampiri cafe tersebut sudah tak ada lagi keberadaan Anton.
Ia pun memilih berjalan untuk menuju halte yang tak jauh dari tempat tersebut.
Joy pun tak tenang ia kepikiran dengan Rara yang pulang sendirian.Ia pun bangkit dari kursinya dan dan segera pergi mencari Rara yang mungkin masih belum jauh.
"Bodohnya aku, kenapa aku bisa membiarkan Rara pulang sendirian. Jangan sampai terjadi sesuatu atau aku akan menyalakan diriku seumur hidup."Joy pun bergegas menuju mobil yang terparkir dan segera pergi menyusuri jalan mencari keberadaan Rara, tak lupa ia pun menghubungi Rara menanyakan keberadaannya. Namun sayang berkali-kali dihubungi tak ada satu panggilan yang di angkat.
"Di mana kamu Ra? jangan buat aku kuatir." Joy memperhatikan kanan kiri berharap segera menemukan Rara.
Rara yang sedang menunggu halte tak sengaja melihat barang seseorang terjatuh di zebra cross tempat pejalan kaki menyebrang.
Rara memperhatikan kanan kiri jalan yang nampak sepi, lalu buru-buru berlari dan mengambil barang orang yang tercecer namun saat ia hendak berdiri kembali, terdengar suara mobil yang dipaksa berhenti mendadak. Namun sayang pengemudi mobil tersebut tak mampu menghentikan laju kendaraannya hingga saat itu juga menabrak tubuh Rara hingga ia terjatuh.
Mobil tersebut berhenti tepat didepan Rara yang sudah tergeletak di zebra cross.
Pengemudi itu langsung turun dan memastikan kondisi Rara. Setelah di periksa dan pastikan Rara masih hidup, pria itu pun membawa Rara ke dalam mobilnya dan pergi.
💤
Ivan nama laki-laki yang mengendarai mobil tersebut ia adalah seorang sekertaris. Ivan adalah sekertaris paling sabar dan bermental baja, ia sangat perhatian dan juga baik namun di kondisi tertentu ia bisa menjadi sangat ganas. tubuhnya yang atletis tak berbeda jauh ketampanannya dengan atasannya.
__ADS_1
Alvaro biasa di panggil Varo adalah atasan Ivan. ia adalah CEO muda. laki-laki yang hobi olahraga menembak dan paling takut dengan serangga. memiliki tubuh yang proporsional ditambah gaya berpakaiannya yang mendukung membuat setiap wanita bisa meleleh hatinya. Mamun sayang ia sangat dingin dengan wanita bahkan tak suka dekat wanita, suka memerintah bawahannya dan tak mau disalahkan walaupun ia memang salah.
"Bagaimana dengan keadaannya, apa dia masih hidup?" tanya Varo sambil melihat Rara yang tergeletak di kursi belakang.
"Sepertinya gadis itu tak papa hanya pingsan hanya sedikit luka dan memar saja." jawab Ivan
"Ini semua salahmu, mengendarai mobil gak pakai aturan. Aku gak mau tahu kamu yang urus dia dan obati dia, aku gak mau mengeluarkan uang sepeser pun untuk pengobatannya karena seratus persen itu salah mu." ucap Varo sambil melipat kedua tangannya di dada.
"Apa..!!!!. kenapa semua di limpahkan padaku, bukannya dia yang menyuruhku untuk mempercepat laju mobil, sudah begini aku yang nanggung semuanya. Sabar Ivan... semua pasti ada karmanya..." gumam Ivan yang tak menjawab.
"Kenapa kamu diam? marah, gak suka. kalau begitu tinggalkan gadis itu di sini dan pergi."
"Memangnya binatang, seenaknya main di tinggalkan dan gak bertanggung jawab." gumam Ivan lagi.
"Tidak... ini semua salah saya. saya yang akan mengurusnya dan yang akan membayar semua pengobatannya." Mereka pun akhirnya membawa Rara ke rumah sakit untuk di obati.
Joy yang cemas mulai tak tenang. ia pun menghubungi keluarga di rumah untuk menanyakan Rara namun jawabannya membuat Joy makin cemas saat mereka mengatakan bahwa Rara belum ada kembali.
Arthur pun yang mendengar kabar Rara yang belum sampai rumah pun segera ikut mencari adiknya.
Sedangkan di rumah Karin juga bingung dan kuatir Rara mendapatkan masalah. Ken segera memerintahkan Anton dan beberapa anak buahnya untuk ikut mencari Rara.
Di rumah sakit Rara sudah mulai sadar dan yang ia lihat pertama kali yaitu Varo yang saat itu sedang menunggu dirinya sedangkan Ivan masih mengurus administrasi.
"Kamu sudah sadar? baguslah kalau begitu. jadi aku gak terlalu lama nunggu, membuang waktu ku saja. makanya kalau mau cari mati jangan di jalan, bikin susah orang saja" ucap Varo dan membuat Rara kesal dengan ucapannya.
"Kamu...!!!! " Rara menunjuk wajah Varo ,"kenapa jadi aku yang salah, kamu yang menabrak seharusnya kamu minta maaf bukannya malah menyalahkan aku." jawab Rara dengan ketus
"Aku minta maaf." Varo tersenyum sinis dan mendekatkan wajahnya hingga sangat dekat dengan Rara, "Aku tidak pernah merasa bersalah dan tidak ada kata minta maaf dalam kamus besarku." ucap Varo dengan tegas dan kembali menjauhi Rara.
"Dasar sombong, aku doakan suatu hari nanti kamu akan bertekuk lutut dan minta maaf padaku." Rara pun turun dari ranjang dan ingin pergi namun langkahnya terhenti saat Ivan datang.
__ADS_1
"Mau kemana kamu? apa kamu sudah baikkan?" tanya Ivan yang menghadang Rara.
"Aku mau pulang lah, aku muak melihat orang sombong seperti dia. Sudah tahu dia yang salah masih sok-sokan gak mau minta maaf." jawab Rara yang kesal.
"Aku yang seharusnya minta maaf. Maafkan aku atas kecerobohan ku hingga membuat kamu terluka, ini murni semua salah ku, aku yang gak sengaja menabrakmu." ucap Ivan dengan sopan meminta maaf.
"Kamu dengar kan, dia yang menabrakmu jadi untuk apa aku yang harus minta maaf." saut Varo.
"Dasar sombong." Rara pun keluar dengan kesal walau berjalan dengan kaki yang sedikit pincang karena luka yang dialami.
Ivan ingin mengejarnya namun di cegah Varo.
"Biarkan dia pergi, gadis gak tahu terimakasih gak pantas untuk dikasihani. Membuang waktu saja.lebih baik kita pergi dan aku harap tak kan pernah bertemu dengannya lagi." Varo merapikan pakaiannya dan meninggalkan rumah sakit, ia pun melewati Rara yang masih berdiri di luar terbang rumah sakit.
Saat menunggu taksi di depan rumah sakit, tak sengaja Arthur melihat adiknya itu dan segera menghampiri.
Arthur berhenti tepat di depan Rara dan buru-buru keluar dari dalam mobilnya. Arthur pun syok mendapati adiknya terluka dengan perban ada di kepala, kaki dan tangannya. Ia pun langsung memeluk Rara dengan eratnya.
"Syukurlah, Kakak bisa menemukanmu. Apa yang terjadi padamu sampai kamu mendapat luka di tubuhmu."
"Lepasin aku kak, sakit badanku." Rara meronta dan Arthur pun melepaskan pelukannya dan memeriksa tubuh Rara yang terluka.
"Apa yang terjadi Ra? bagaimana kamu bisa mendapatkan luka-luka ini?" tanya Arthur yang cemas.
"Rara di tabrak orang gila." jawab Rara singkat.
"Ya sudahlah kita bahas nanti di rumah, lebih baik sekarang kita pulang. Bunda sangat mencemaskan mu."Arthur langsung mengangkat tubuh Rara dan membawanya masuk kedalam mobil, tak lupa ia memasangkan sabuk pengaman untuk Rara.
"Tenang Ra... Kakak janji kejadian ini gak akan terulang lagi dan kakak pastikan kamu akan selalu aman dimana pun kamu berada." Arthur pun mengecup kening Rara dan segera membawa Rara kembali pulang.
Rara menatap Arthur yang sedang mengemudi mobilnya," Ternyata di balik bawelnya kak Arthur, dia sangat perhatian dan sayang padaku. Maaf kak jika aku pernah merasa risih di dekatmu." gumam Rara dan tersenyum.
__ADS_1