Bukan Salahku Menjadi Pelakor

Bukan Salahku Menjadi Pelakor
Joy


__ADS_3

Pagi-pagi Salah seorang pelayan mengetuk pintu kamar Karin, saat itu Karin sedang menikmati suasana pagi di balkon kamarnya membaca majalah fashion, sambil menyeruput secangkir teh di temani kue kering.


Sebut saja namanya bi Eka dia adalah keponakan dari BI Wiwik yang sudah pensiun.


"Nya, ada tamu mencari tuan Ken?"


"Siapa bi yang nyari tuan Ken, dan berapa orang?"


"Dua orang wanita dan satu anak kecil kurang lebih sekitar 11tahun usianya."


Karin langsung menutup majalah yang sempat ia baca dan baru menyadari siapa yang datang.


"Joy. . .ya itu pasti Joy. Kenapa mas Ken sampai lupa untuk menjemput Joy. Baik bi aku akan turun, tolong buatkan minum untuk para tamunya."


"Iya Nya," bi Eka pun kembali dan Karin dengan jalan yang masih tertatih segera menghampiri tamu tersebut. Dengan langkah yang lambat Karin menuruni anak tangga hingga akhirnya sampai di ruang tamu.


"Maaf, menunggu lama." ucap Karin saat sampai dan duduk di sofa tamu.


"Tidak papa nyonya, kami dari yayasan sengaja datang kemari untuk mengantarkan putra nyonya yaitu Joy, karena pengadilan memutuskan hak asuh Joy di berikan kepada tuan Ken." Jelas seorang wanita. Joy hanya menunduk dan terdiam.


"Hai Joy, kenapa diam kemarilah, ini sekarang adalah rumahmu." Panggil Karin yang berada agak jauh dengan Joy.


"Joy, dia sekarang adalah keluargamu, jadi berjanjilah pada ibu kamu akan menjadi anak berbakti dan akan selalu patuh. maukan janji dengan ibu." ucap seorang wanita yang berada di samping Joy, Joy hanya mengangguk.


Tak lama ke dua wanita dari yayasan pun pergi meninggalkan Joy bersama Karin.


Karin berjalan menghampiri Joy yang masih terdiam terpaku memandang kepergian orang yayasan.


"Joy, ingat denganku?" tanya Karin namun Joy menggelengkan kepala.


"Masa lupa, aku yang pernah datang bersama papa Ken, waktu itu kamu baru berusia 3 atau 4 tahun dan masih sangat lucu. Dan sekarang lihatlah kamu sudah tumbuh menjadi seorang laki-laki yang tampan tapi sedikit kurus." Joy tak merespon omongan Karin.


"Apakah Joy masih marah padaku?" tanya Karin kembali namun Joy hanya menggeleng.

__ADS_1


"Tidak Tante, Joy tidak marah ataupun benci dengan Tante, tapi Joy masih asing dengan Tante." ucap Joy untuk kali pertamanya.


"Tidak papa, aku mengerti. kita akan saling mengenal pelan-pelan semoga cepat akrab. Oya jangan panggil Tante panggil bunda, aku ini bundamu sekarang."


"Gak boleh, gak boleh itu panggilan Arthur buat Bunda dan gak boleh ada yang memanggilnya seperti itu." Protes Arthur yang tiba-tiba muncul dan memeluk Karin.


"Arthur, ini kakakmu, kamu tidak boleh bersikap seperti itu."


"Tapi Arthur gak mau ada yang manggil bunda selain Arthur." Arthur pun menangis.


"Baiklah, gak akan ada yang manggil bunda selain Arthur, kalau begitu Joy panggil mama Karin, ya sayang kamu mau kan memangil ku dengan sebutan mama?"


"Iya m...a..."


"Anak pintar, kenalkan ini Arthur dan dia sekarang adalah adikmu, mama harap kalian bisa akur."


Butuh waktu untuk Joy bisa beradaptasi dengan keluarga barunya sekarang, setelah di tinggal ibunya mendekam di penjara, Joy harus melewati hari-hari di yayasan sampai akhirnya Ken mau mengakui dan menyetujui penyerahan hak asuh kepada Keluarga Ken. Walaupun sebenarnya Kenzo sendiri tak tak menginginkannya namun Karin lah yang terus memaksa Ken untuk mengambil Joy.


Seperti biasa jika Ken sibuk, ia akan pulang saat jam makan malam.


"Yang, mas merasa ada yang berbeda makan malam kali ini, tapi apa?" Ken coba mencari apa yang berbeda.


"Oh. .. mungkin piring yang di siapkan bibi kan? Karin punya kejutan buat mas Ken. Karin harap mas tidak kaget, karena mas sudah tega melupakannya begitu saja, saat Karin memintanya berulang kali."


"Maksudmu apa sayang, mas benar-benar gak paham?"


"Tunggu saja." Ucap Karin,


"Bi, tolong panggilkan anak-anak untuk turun makan malam!" perintah Karin pada bi Eka.


"Iya Nya."


Bi Eka pun segera manggil Arthur dan Joy dari kamar. Karin sengaja membuat Arthur dan Joy tidur sekamar, dengan tujuan untuk agar mereka bisa lebih akrab dan dekat.

__ADS_1


Tak lama mereka pun turun, Joy lebih dulu turun karena ia berlari sedangkan Joy turun dengan lambat dan duduk di sebelah Joy.


"Joy. . " ucap singkat Ken.


"Mas masih ingat, dengannya?" tanya Karin, "Mulai sekarang Joy akan tinggal bersama kita selamanya karena Joy juga anak kita, dia kakaknya Arthur."


"Papa!!!, apa papa Ken masih ingat dengan Joy, kenapa papa gak pernah datang menjenguk Joy.?" pertanyaan Joy membuat terdiam.


Adit yang tak tahu menahu hanya clingak clinguk bingung sambil menunggu makan malam.


"Kita bahasnya nanti saja ya, kita makan malam dulu, Joy makan yang banyak biar badannya cepat berisi dan Arthur gak boleh ganggu kakaknya mengerti." kedua putra Karin mengangguk. Karin mencoba memecahkan suasa yang mencekam antara anak angkat dan Ken.


Setelah makan malam Ken tanpa bicara pergi kekamar terlebih dahulu, meninggalkan yang lainnya.


"Ma, apa papa gak menerima kehadiran Joy di sini. Kalau papa gak mau, lebih baik Joy kembali ke yayasan." ucap Joy pada Karin.


"Bukan begitu sayang, papa hanya kelelahan setelah bekerja. Joy jangan pikirkan masalah itu.sekarang Joy adalah anak mama dan papa mengerti. Sekarang istirahat sana bersama Arthur besok mama akan daftarkan sekolah Joy disekolah di tempat Arthur akan sekolah juga." Dengan lembut Karin berusaha menjadi mama yang baik untuk Joy dan membuatnya agar nyaman bersamanya.


Setelah anak-anak pergi Adit yang masih duduk di meja makan pun bertanya pada Karin, Karena rasa penasaran yang membuatnya tak kuat untuk diam.


"Mbak, anak itu siapa? Adit baru kali ini melihatnya."


"Itu anak mbak, putranya mas Ken." jawab singkat Karin


"Jadi mas Ken sudah punya anak sebelum nikah dengan mbak Karin? kenapa gak pernah cerita mbak Sama Adit."


"Untuk apa mbak cerita, memangnya Adit juga tahu perjalanan cinta mbak dengan mas Ken?" tanya balik Karin


"Gak, yang Adit tahu mbak di hamili mas Ken, dan mas Ken bertanggung jawab atas anak yang di kandung mbak Karin. Makanya mas Ken menikahi mbak Karin yang sedang sekarat." jelas Adit


"Adit gak perlu tahu semua masa lalu kakak dan mas Ken, yang terpenting sekarang Joy adalah keponakanmu sama seperti Arthur jadi kakak mohon jangan membeda-bedakan mereka."


"Iya mbak, Adit paham. Lagian Joy juga masih kecil dia belum begitu paham dengan masalah orang dewasa. Adit akan berusaha menjadi paman yang baik buat mereka berdua."

__ADS_1



Joy


__ADS_2