
Ken datang ke kamar Karin dengan membawa sarapan untuk Karin.
"Tuan, kenapa kemari?" Tanya Karin yang mendapati Ken sudah berdiri dihadapannya.
"Aku hanya membawakan sarapanmu. Kenapa tadi tidak ikut sarapan bersama kami?"
"Maafkan aku tuan, aku belum terbiasa dengan keluarga tuan. Aku masih takut, apa lagi dengan istri tuan, aku takut dia berfikiran macam-macam tentang Karin." Ken mendengarkan penjelasan Karin dan menggenggam tangan Karin.
"Bersabarlah, sampai acara mama selesai dan aku akan mengantarkan mu kembali.". Karin pun mengangguk saja. "Sekarang sarapan dulu setelah itu datanglah ke halaman belakang aku menunggu disana." Ken pun keluar kamar bersamaan dengan Rafael yang juga keluar kamar.
"Bang, habis ngapain dari kamar Karin?" tanya Rafael dengan tatapan penuh kecurigaan.
"Kepo amat jadi laki-laki, Terserah Abang mau ngapain, apa urusannya denganmu, lagian Abang kan yang membawanya kesini, jadi sudah tanggung jawab Abang buat jagain Karin."
"Rafael gak percaya, kalau Abang gak ada hubungan apa-apa dengan Karin, jujur saja lah bang daripada Rafael yang mergokin." Perkataan Rafael kali ini tidak di gubris Ken dan malah ditinggalkan Ken pergi.
"Dasar ya, semua orang di rumah ini, pertanyaan aku selalu digantung, bisa-bisa aku juga gantung diri gara-gara penasaran, emang salah aku kepo, kan gak cuma perempuan aja yang penasaran laki-laki juga bisa penasaran." Rafael ngoceh sendiri sambil menuruni anak tangga.
"Sayang, ngomel dengan siapa." tanya mami Vika yang memperhatikan mulut Rafael komat Kamit.
"Gak ma, Rafael cuma ngomel sama hantu yang di atas, bikin Rafael emosi. Ma, Rafael pergi dulu ya mau jalan." pamit Rafael yang sudah di depan pintu.
" Tunggu Rafael. Coba ajak Karin jalan, siapa tahu dia bosan di rumah."
"Gak ma, Rafael mau jalan sendiri, Abang Ken kan ada"
"Ken kan masih sibuk, ajalah sayang sekali-kali." bujuk mami Vika yang duduk sofa sambil membaca majalah. Rafael pun kembali ke atas memanggil Karin.
Dengan sebel Rafael kembali menaiki anak tangga dan berhenti di depan kamar karin. Beberapa kali ketukan pintu dari Rafael baru di buka Karin.
"Ada apa kak?" tanya Karin
"Ayo ikut aku!"
__ADS_1
"Kemana?"
"Sudahlah jangan banyak tanya, mami yang meminta ku mengajak mu jalan-jalan."
"Saya di rumah aja kak, gak enak kalau menggangu acara kak Rafael."
"Aku sebenarnya juga gak mau mengajak mu, tapi karena ini perintah mami, terpaksa aku harus nurut. cepat bersiap aku tunggu lima menit dibawah."
Karin dan Rafael pun pergi jalan-jalan. Entah apa yang ada dipikiran Rafael tiba-tiba menghentikan kendaraannya.
"Cepat turun dari mobilku?" perintah Rafael.
"Kenapa Karin diturunin disini kak."
"Aku gak mau teman-teman ku tahu, aku pergi dengan cewek, kamu pulang naik taksi aja"
"Tapi kak, saya gak tahu jalan pulang, tolong kak jangan turunkan saya disini."
"Aku bilang turun ya turun, terserah kamu mau pulang bagaimana caranya." bentak Rafael dan Karin pun terpaksa turun dari mobil. Rafael pun langsung pergi meninggalkan Karin sendirian. Karin hanya memperhatikan kepergian Rafael.
Karin pun memutuskan, untuk menunggu siapa tahu saat Rafael pulang, dia di singgahi.
Waktu berjalan begitu cepat, tak terasa malam pun datang dan hujan pun datang Karin duduk sendirian, dan sesekali memeluk tubuhnya sendiri yang kedinginan, namun tak ada tanda-tanda Rafael datang.
Rafael ternyata sudah sampai di rumah sendirian, Ken yang sedari tadi menunggu Karin tak mendapati pulang bersama Rafael.
"Dimana Karin?" pertanyaan itu langsung saja muncul saat Ken menghampiri Rafael yang baru datang.
"Emangnya Karin belum pulang?"
"Bukan kah dia jalan denganmu, kenapa Karin tidak bersamamu." nada Ken mulai meninggi
"Aku....aku.... tinggalkan di jalan tadi , aku kira dia sudah pulang." jelas Rafael dan membuat emosi Ken tak tertahan, Ken langsung memberi Rafael tinjuan pada wajah Rafael hingga tersungkur."
__ADS_1
"Apa yang kamu lakukan, dasar kamu gak punya otak, kalau sampai Karin kenapa-kenapa akan ku buat perhitungan denganmu."
"Maaf bang, tadi Rafael hanya ingin ngerjain Karin, Rafael gak ada niatan membuat Karin gak bisa pulang. Waktu aku pulang, aku fikir Karin sudah pulang, Rafael benar-benar gak ada niatan buat buang Karin."
"Ken cepat cari Karin, kasian di luar sedang hujan lebat."
"Brengsek, dimana kamu turunkan Karin?"
Rafael pun menjelaskan dimana ia meninggalkan Karin, dengan segera Ken pergi mencari Karin ditengah hujan lebat.
"Sayang, kenapa kamu lakukan itu pada Karin, lihat kan Abang mu sampai marah dan memukulmu." ucap mama Vika sambil mengusap wajah Rafael yang mendapat tinjuan dari Ken.
"Maafkan aku ma, aku benar-benar gak ada niatan seperti ini."
"Ya sudah, tapi jangan diulangi lagi ya sayang, sekarang istirahatlah, dan kompres wajahmu agar tidak lebam."
Sedangkan Ken memperhatikan kedua sisi janan mencari keberadaan Karin yang belum terlihat. Perasaan cemas menyelimuti Ken Karena belum ada tanda-tanda Karin terlihat sedangkan hujan turun cukup lebat membuat pandangan Ken juga tidak terlalu jelas.
Sedangkan Karin duduk di ujung kursi mengangkat kedua kakinya dan didekapnya mengurangi rasa dingin yang melanda, baju yang dia kenakan tak dapat menyelimuti tubuhnya yang kedinginan. Bibir Karin mulai pucat, bulu ditubuh Karin berdiri semua kerena dingin.
"Tuan, jemput Karin, Karin gak tahu jalan pulang." Karin pun menundukkan wajahnya bertumpu pada kedua lututnya yang ia dekap.
Ken, pun sudah berkeliling mencari Karin namu tak didapatkan, keberadaan Karin.
"Dimana kamu Karin, aku benar-benar cemas"
Saat sudah putus asa Ken mencari Karin yang tidak di dapat dan ingin kembali, Tiba-tiba Ken mendapati seorang wanita yang sedang kedinginan di sudut kursi halte. Ken langsung menghampiri dan singgah di depan halte.
Perasaan lega Ken pun datang setelah memastikan itu adalah Karin. Ken segera menyelimuti tubuh Karin dengan jaket yang ia pakai. Karin pun mendongak menatap wajah orang yang datang menyelimutinya.
Wajah Karin pun langsung berubah setelah tahu bahwa itu adalah Ken, Karin pun langsung memeluk Ken.
"Tuan, aku takut tuan." Karin memeluk Ken dan menumpahkan air mata nya di pelukan Ken.
__ADS_1
"Sudah tenanglah, aku ada disini sudah bersamamu, aku tadi benar-benar cemas, karena tak mendapati keberadaan mu." Ken pun memeluk erat tubuh Karin dan melepaskan kecemasan yang sesat dia rasakan.