Bukan Salahku Menjadi Pelakor

Bukan Salahku Menjadi Pelakor
Kapan aku bisa bicara?????


__ADS_3

Setelah beberapa hari Karin sadar dari tidur panjangnya. Karin sudah bisa menggerakkan anggota tubuhnya secara perlahan, namun ia masih susah mengucapkan kata.


Hari-hari Karin lalui dengan penuh keyakinan dia bisa normal kembali. Terkadang di saat kesendiriannya Karin merasa sedih, di saat dirinya masih di beri kesempatan untuk melihat putra dan suaminya tapi dengan kondisi seperti sekarang membuatnya malah berfikir yang tidak-tidak tentang suaminya.


Apakah suaminya masih setia? apakah dia mengulangi hal seperti dulu saat bosan dengan istrinya? ataukah suaminya Memiliki istri lain selama ini? pertanyaan yang terus saja muncul di benaknya. Semua itu menjadi pikiran Karin. Suaminya adalah pria normal tak butuh hanya cinta tapi Memiliki kebutuhan lain. Apa lagi dirinya tertidur panjang selama 5 tahun itu waktu yang panjang.


Namun pertanyan itu belum bisa Karin tanyakan, saat dirinya masih belum bisa bicara. Saat ini hanya Arthur pelipur hati Karin saat sedang sedih.


Arthur begitu bahagia melihat bundanya sudah bisa menemaninya bermain walaupun masih duduk di kursi roda. Arthur selalu mengajak ngobrol bundanya bercerita tentang cara dia bermain dan mainan yang selalu di belikan papanya.


Karin hanya tersenyum melihat tingkah putranya yang sedang bermain pesawat terbang.


"Bunda nanti kalau Arthur sudah besar Arthur mau jadi pilot, Arthur mau keliling dunia bersama bunda." ucap Arthur sambil membawa pesawatnya terbang ke arah bundanya.


"Bunda... bunda senang gak kalau Arthur bawa keliling dunia?" tanya Arthur. Karin hanya mengangguk dan mengusap kepala putranya dan sesekali menciumnya.


Arthur duduk di pangkuan Karin seperti seorang bayi. Arthur memandang wajah Karin yang pucat namun terukir senyum di bibirnya.


Arthur Memegang pipi bundanya. "Bunda...bunda cepat sehat dan bisa bicara lagi, Arthur ingin dengar suara bunda, Arthur ingin di panggil namanya sama bunda."


Karin paham betul dengan kerinduan putranya terhadap dirinya, ingin rasanya Karin segera memanggil namanya dan mengatakan bahwa bunda sangat mencintainya. Namun apa daya hanya air mata yang mampu menjawab.


"Bunda kok nangis, Arthur salah ngomong ya Bun, maafin Arthur. Arthur janji gak akan ngulanginnya lagi. Arthur gak mau bunda sedih." dengan tangan mungilnya Arthur menghapus air mata bundanya yang membasahi pipi.


Tak lama pintu kamar bermain Arthur terbuka dan ternyata bi Wiwik yang di panggil kembali oleh Ken setelah pensiun menjadi pembantu.


Ken meminta sementara waktu bi Wiwik untuk mengurus Karin sampai Karin benar-benar pulih dan bisa beraktivitas seperti biasa.


"Den Arthur, bundanya biar istirahat dulu ya, kan sudah dari tadi nemanin den Arthur." bujuk bi Wiwik.

__ADS_1


"Iya nek, bunda kelihatannya juga sudah capek main dengan Arthur." ucap Arthur dan turun dari pangkuan bundanya, " bunda istirahat dulu ya, nanti kita main lagi nunggu papa datang." Arthur mengecup pipi bundanya Sebelum di bawa bi wiwik kembali ke kamarnya.


Sebelum istirahat Karin harus minum obat dari dokter. Setelah itu kembali istirahat.


Karin sudah di pindahkan ke kamar utama dan kembali tidur satu ranjang dengan Ken. Setelah lima tahun tidur terpisah.


Setiap ingin bicara Karin hanya menulis di lembaran kertas yang selalu ada di dekatnya, agar lebih mudah untuk berkomunikasi.


Akhir- akhir ini setiap pukul 17.00 Ken sudah sampai rumah, setelah menjalani kesibukan di kantor. Sebenarnya Ken selalu pulang malam.


"Papa...." sambut Arthur yang sudah ganteng dan wangi. Seperti biasa Arthur selalu meminta gendong papanya.


"Anak papa sudah wangi dan ganteng, papa makin semangat kalau di sambut Seperti ini, gak dekil lagi.


"Bunda yang nyuruh Arthur mandi dan bunda juga yang milihin baju buat Arthur. Papa... Arthur seneng bunda sudah bangun, Arthur bisa main-main dengan bunda, disuapin bunda, di urusin sama bunda." oceh Arthur.


"Ya sudah, Arthur main sama bibi dulu ya, papa capek." ucap Ken sambil berjalan menuju kamar.


Ken langsung mengambil alih sisir dari tangan Karin dan mengantikan posisinya untuk menyisiri rambut Karin.


Ken berkali-kali mengecup pucuk rambut Karin, karena begitu bahagia sekali melihat istrinya sudah kembali.


"Mas benar-benar bahagia, sayang sudah sadar dan sudah berjuang untuk bertahan bersama mas dan Arthur."


Karin mengambil kertas dan pulpen serta menuliskan kalimat.


"AKU JUGA BAHAGIA BISA KEMBALI BERSAMA KALIAN, AKU GAK PERNAH MENYANGKA MASIH DI BERI KESEMPATAN UNTUK MELIHAT PUTRAKU DAN JUGA SUAMIKU YANG PALING AKU CINTA." tulis Karin.


Ken berjongkok di depan Karin dan menggegam kedua tangan Karin.

__ADS_1


"Mas sudah konsultasi dengan dokter, sayang pasti akan bisa bicara lagi, jika banyak latihan. Mas akan selalu membantu sayang dan akan selalu menemani sayang melewati masa-masa ini."


"TERIMAKASIH KASIH MAS, MASIH MAU SISI KARIN DAN MENJAGA KARIN. JANGAN TINGGALKAN KARIN. KARIN TAK MAMPU BERTAHAN LAGI JIKA MAS MENINGGALKAN KARIN." tulis Karin lagi


"Mas janji tak akan meninggalkan kamu, sampai kapan pun hanya kamu sayang yang ada di hati mas. Jangan pernah berfikir kalau mas akan meninggalkan sayang." Ken pun memeluk Karin dan mengecup keningnya.


"Papa, jangan peluk bunda. Hanya Arthur yang boleh peluk bunda." ucap Arthur sambil menarik kemeja papanya. Entah sejak kapan Arthur masuk kamar mereka, yang pasti mengagetkan kedua orangtuanya.


"BUNDA MILIK ARTHUR DAN PAPA, JADI SAYANG GAK BOLEH IRI DENGAN PAPA" tulis Karin pada Arthur.


"Jadi Arthur gak boleh iri dengan papa mengerti, kalau papa bukan milik mama gak mungkin Arthur ada di dunia." jelas Ken namun mendapat cubitan dari Karin.


"Bunda Arthur lapar."


"Baiklah kita makan malam dulu, setelah itu papa mau istirahat."


Arthur duduk di pangkuan bundanya dan Ken mendorong kursi roda Karin menuju lift yang ada di kamar.


Sesampainya di meja makan, Arthur mulai manja lagi dengan minta di suapin bundanya. Ken sempat menegur putranya namun di bela Karin.


"Sayang, jangan memanjakan Arthur, dia sudah biasa makan sendiri, mas gak mau melihat putra mas jadi anak manja."


"ARTHUR MASIH KECIL, DIA MASIH BUTUH PERHATIAN DAN KASIH SAYANG, ADA SAATNYA DIA BELAJAR MANDIRI TAPI TIDAK SEKARANG." tulis Karin melawan Arthur.


"Baiklah, kamu lebih paham soal mendidik anak, asal jangan di sesali kalau dia manja sampai besar."


Karin Melihat Arthur , sedih atas ucapan papanya. "JANGAN SEDIH SAYANG SELAMA BUNDA ADA DI SINI, ARTHUR TAK AKAN KEKURANGAN KASIH SAYANG. ASALKAN ARTHUR MAU MENURUT DENGAN BUNDA DAN PAPA" Arthur hanya mengangguk- anggukan kepalanya sambil tersenyum sebelum melanjutkan makan malamnya.


terimakasih sudah mampir jangan lupa tinggalkan jejak 👍❤️⭐🧿✍️ di tunggu.

__ADS_1


"Terimakasih saya ucapkan buat para readers yang masih setia menunggu kelanjutan cerbung ini dan selalu memberikan dukungan di saat saya sedang down.❤️❤️❤️"


__ADS_2