Bukan Salahku Menjadi Pelakor

Bukan Salahku Menjadi Pelakor
season 2 : Maaf


__ADS_3

Sesampainya mereka di rumah sakit, mereka bergerak menuju kamar rawat inap Karin dan di sana mereka mendapati Ken sedang menemani Karin.


Rara bingung dengan pemandangan yang ia lahat di hadapannya, "Om Ken, kenapa ada di sini? om kenal dengan ibu?" tanya Rara dengan polosnya.


Ken bangkit dari tempat ia duduk dan melangkahkan kakinya menghampiri Rara. Ken langsung meraih tubuh Rara dan memeluknya dengan erat, Rara yang masih tak paham hanya diam mematung tak merespon pelukan Ken.


"Rara putriku, maafkan papa nak. papa baru mengetahuinya." ucap Ken sambil mengusap pucuk rambut Rara yang masih dalam pelukan.


"Puteri..." Rara mendorong tubuh Ken untuk menjauhinya. " Apa maksud ini semua... apa hubungannya om dengan ibu dan apa maksud om aku Puteri om? gak mungkin kan ibu itu istrinya om Ken." ucap Rara sambil menggelengkan kepalanya seraya tak percaya dengan apa yang baru ia dengar.


Belum sempat Ken menjawab, Joy lebih dulu menghampiri Rara dan Ken, "Maafkan aku pa , Rara ini semua salahku. Ra,Aku yang salah yang tak jujur dari awal kalau ibumu adalah mamaku juga, ada alasan tersendiri yang membuatku merahasiakan kebenaran ini darimu. Dan papa maafkan Joy yang tak mengatakan kebenarannya dari awal kalau mama masih hidup. jujur Awalnya Joy juga tak percaya saat mama Sasa datang menemui ku dan mengatakan kalau mama masih hidup. Dan tanpa sengaja Joy menemukan mama bersama dengan Rara." ucap Joy.


"Kak Joy jahat, kenapa kak Joy merahasiakan ini semua dari Rara yang jelas-jelas kakak tahu kalau ibu itu ibunya kak Joy juga." Rara mendorong tubuh Joy dan berlari keluar dengan menangis. Sedangkan Ken tak berbicara apa-apa atas penjelasan Joy dan Arthur masih mencerna fakta yang terungkap kalau gadis yang menyebalkan baginya adalah adik kandungnya.


Arthur menghampiri bundanya dan seakan tak percaya bahwa bundanya yang selalu ia tangisi setiap saat karena pergi meninggalkannya untuk selamanya ternyata hidup kembali dan sekarang ada di hadapannya.


Joy mengejar Rara mencoba memberi penjelasan pada Rara agar ia bisa menerima kenyataan.

__ADS_1


"Ra... tunggu, aku bisa menjelaskannya. tolong berhenti Ra." panggil Joy dan terus mengejar Rara hingga akhirnya tangan Joy bisa meraih tangan Rara dan menahannya agar mau berhenti.


"Lepaskan aku! penjelasan apa lagi yang ingin kak Joy jelaskan. Rara sudah gak mau dengar lagu. lebih baik kak Joy pergi dan jangan temui Rara lagi." ucap Rara.


"Gak Ra, aku gak akan membiarkan kamu pergi sebelum kamu dengarkan penjelasan dariku. untuk yang pertama dan terakhir kalinya jadi please tolong dengarkan aku sekali ini saja." Joy menghimpit tubuh Rara di dinding dengan kedua tangannya, agar Rara tak menghindar lagi.


"Ra, maafkan aku, aku tak jujur bukan karena mementingkan ego tapi karena aku ingin tahu alasan mama pergi dan tak kembali menemui papa, dan aku juga ingin tahu apa yang terjadi sebenarnya hingga mama bisa tinggal di tempat itu. Dan aku juga melakukan ini untuk melindungi mama dari orang-orang yang ingin berbuat jahat pada mama.Tolong pahami posisiku." jelas Joy


"Sudah selesai penjelasanmu. Jika sudah pergi tinggalkan aku sendiri, aku butuh waktu, tak mudah bagiku untuk menerima kenyataan ini, walaupun aku sangat berharap bisa bertemu dengan keluarga kandungku." Joy pun membiarkan Rara sendiri dan memberi waktu untuknya. Joy pun kembali menemui papanya dan memberikan pemahaman atas alasannya menyembuhkan kebenaran.


Joy melangkah pergi meninggalkan Rara yang berdiri terpaku sambil terus menitikkan air mata. Memandang punggung Joy yang berlalu pergi meninggalkannya.


Joy tertunduk lesu menghampiri Ken yang masih berdiri di samping Arthur menemani Karin.


"Pa...". panggil Joy


Arthur menghampiri Joy dan menarik kerah baju Joy. "Kenapa kamu sembunyikan keberadaan bunda pada kami, aku tak menyangka kamu tega melakukan ini pada papa yang sudah membesar mu selama ini. Apa kamu tak kasihan melihat papa yang selalu sedih mengenang bunda sedangkan kamu tahu kalau bunda masih hidup. Inikah balas Budi yang kamu berikan pada kami." ucap Arthur dengan kesalnya namun tak ada perlawanan dari Joy bahkan saat Arthur melayangkan satu tinjuan di wajah Joy.

__ADS_1


"Arthur hentikan, papa tidak pernah mengajarkan hal itu padamu, bunda pasti akan sedih jika melihat sikapmu pada saudaramu dengan kasar." bentak Ken dan Arthur pun menurunkan kepalan tangannya yang mampir Melayang untuk kedua kalinya pada wajah Joy.


"Pa... aku benar-benar minta maaf... dan dengarkan penjelasan ku."


"Lebih baik kamu pulang, bisa kamu jelaskan semuanya nanti setelah mamamu sadar."


"Baik pa." Joy pun tak berkata-kata lagi ia pun keluar untuk pergi meninggalkan rumah sakit. Joy berpapasan dengan Rara yang duduk seorang diri sambil menangis. Joy pun melewatinya dan tak mengeluarkan sepatah katapun lagi untuk Rara.


"Tunggu!..." tahan Rara yang berada di belakang Joy. Joy pun menghentikan langkahnya dan berbalik menatap Rara yang memanggilnya.


"Untuk apa kamu menahan ku Ra? aku sudah melakukan kesalahan dengan menyembunyikan semuanya darimu. penjelasan apa lagi yang ingin kamu dengar." Rara menghampiri Joy dan langsung memeluknya. Sontak Joy membalas pelukan Rara. Keduanya menangis terisak.


"Jangan pergi, jangan tinggalin Rara, maafin sikap Rara. Rara gak mau kehilangan kak Joy." ucap Rara dan membuat Joy makin erat memeluk Rara.


"Tenang Ra, kakak gak akan ninggalin kamu, apakah kamu mau maafin kakak atas semua kebohongan yang sudah kakak lakukan." Rara pun mengangguk dalam pelukan Joy.


Ternyata Arthur sedari tadi melihat Joy dan Rara yang sedang bersama. "Aku tak membencimu tapi aku belum bisa terima atas kebohongan yang kamu lakukan, Seharusnya kamu memberitahu dari awal kalau bunda masih hidup, biar kita bisa menjaga sama-sama dan mencari jalan terbaik untuk kesembuhan bunda. Dan kamu Ra, maafin kakak yang sempat bersikap jahil padamu. Kakak janji mulai sekarang akan menjaga dan melindungi mu." gumam Arthur yang hanya bisa memandangi mereka berdua tanpa bisa mengungkapkannya langsung dengan kata-kata.

__ADS_1


Ken hanya duduk di samping Karin, Tak dapat berkata apa-apa lagi, hanya menunggu hingga Karin sadar.


__ADS_2