
Suasana bar yang semakin larut malam semakin ramai. Rara masuk bersama Varo, Rara yang sedikit takut pun menggenggam erat tangan Varo.
Setelah beberapa saat mata berkeliling mencari Joy akhirnya Rara mendapatkan Joy yang sedang duduk di ujung meja bar.
"Kak Joy ada di sana." ucap Rara pada varo sambil menunjuk ke arah Joy. Mereka pun menghampiri Joy.
"Kak, Rara sudah di sini, ayo kita pulang." Rara menggoyangkan tubuh Joy.
Varo nampak tak terlalu suka dengan Joy, terlihat dari sikapnya yang hanya berdiri dan melipat kedua tangannya, mungkin setelah berdebat sore itu.
"Dia gak akan merespon ucapanmu, dia sudah terlalu mabuk, lebih baik segera bawa pulang." saut Varo.
"Bisakah bantu kak Joy untuk keluar dari sini dan pulang. Aku mohon." Varo memutar kedua bola matanya.
"Iya baiklah. Merepotkan saja." Varo pun membawa Joy keluar bar dan dan Rara membuntuti di belakang sambil membawa ponsel dan jaket Joy.
Rara duduk kursi penumpang menjaga Joy yang sudah teler. Joy menyandarkan kepalanya di pundak Rara dan memeluknya.
"Ra... jangan pergi, jangan tinggalkan aku sendiri." ucap Joy tanpa sadar.
"Aku gak pergi ninggalin kakak."
Varo mengantarkan kedua kakak beradik pulang dan membantu memapah Joy sampai ke kamarnya.
"Aku harus pergi sekarang, kamu juga harus istirahat." pamit Varo.
"Terimakasih untuk semuanya."
ππππ
Keesokan harinya Rara bangun kesiangan dan melewatkan sarapan pagi. Saat dirinya sarapan suasana rumah tampak sepi tak seperti biasanya. Rara pun cuek ia lebih memikirkan untuk mengisi perutnya yang lapar.
Rara pun sudah mulai sibuk mempersiapkan pakaian yang akan ia bawa dan juga segala sesuatu yang di butuhkan.
Rara akan pergi bersama Kiki, yang akan menjaga selama dirinya kuliah.
Arthur hari ini tidak masuk kantor. Ia menghampiri adiknya yang sedang sibuk bersiap.
Arthur langsung menyelonong masuk tanpa mengetuk pintu dan langsung duduk di ranjang Rara. "Ra...kamu akan berangkat malam ini. ucap Arthur dan membuat Rara menghentikan tangannya dan menoleh ke arah Arthur.
"Bukannya kakak bilang, Rara baru berangkat besok pagi, kenapa berubah jadi malam ini?" tanya Rara yang bingung.
"Kakak lupa memberitahumu kalau kakak tertukar jadwal, kalau besok itu jadwal kakak yang berangkat."
"Memang kakak mau kemana?"
"Cari istri! bunda memaksaku buat bawa calon kakak dalam waktu dua Minggu. Terus kakak harus mencarinya kemana? kakak gak mau di jodohkan, malu dong, kakak yang setampan ini masih di jodohkan, nanti di kira gak laku-laku." Mendengar ucapan Arthur membuat Rara tertawa.
__ADS_1
"Kenapa kamu malah tertawa? bukannya cari solusi atau gimana gitu."
"Gak papa kak." Rara menghentikan tawanya. " Keputusan ibu benar, kakak memang harus di paksa kalau gak kakak gak akan pernah mau istirahat sejenak dari pekerjaan kantor."
"Malas ah, curhat dengan kamu. Oya nanti kakak yang akan mengantar kamu ke bandara, bunda, papa dan kak Joy gak bisa ikut. Mereka tadi berangkat ke tempat om Rafael mau membahas Persiapan untuk tunangan kak Joy sama kakak Nabila."
Tawa Rara berubah menjadi kesedihan saat tahu di hari dirinya akan pergi, malah semua orang tak ada yang mau mengantar ke berangkatnya.
"Kenapa gak ada yang pamit sama Rara, memangnya gak ada yang tahu kalau Rara berangkat malam ini?" tanya Rara pada Arthur.
"Gak usah sedih gitu Ra, kan ada kakak yang akan mengantar kamu. Mungkin ada alasan sendiri mereka tak mengantarmu. Mungkin bunda gak bisa melihat kepergian kamu makanya memilih untuk tak mengantar kamu." jelas Arthur memberi pengertian.
"Mungkin benar kata kakak, tapi Rara... ahh sudahlah mau bagaimana lagi."
"Kalau kamu sudah siap, lebih baik kita jalan-jalan dulu sebelum kita ke bandara."
"Baiklah..." Arthur membawakan koper Rara dan membawanya ke mobil. Kiki pun sudah siap.
Arthur membawa Rara dan Kiki jalan-jalan menikmati waktu yang tersisa.
Rara berkali-kali menghubungi Varo untuk pamit pada dirinya dan juga Key namun tak ada satu panggilan pun yang di angkat. akhirnya ia pun pamit dengan mengirimkan pesan begitu juga dengan Joy.
Arthur memandangi adiknya yang sedang sedih dan sedang bersandar di kaca mobil, bukannya ikut sedih Arthur malah tersenyum.
"Maafin kakak Ra..."
πππ
Arthur pun langsung pamit tak menunggu sampai Rara berangkat.
"Ra.. Kakak mengantarmu sampai sini, kakak harus pergi, ada rapat mendadak yang harus kakak hadiri." pamit Arthur.
"Tapi kak.... ya sudahlah, kakak pergi saja, aku gak papa." jawab Rara yang kecewa.
"Kiki, tolong jaga adikku baik-baik. Aku percayakan padamu."
"Baik tuan. Saya akan berusaha menjaga nona muda dengan baik.
Arthur pun meninggalkan Rara dan Kiki pergi untuk check in.
Rara nampak sedih, karena semua tak ada. Sambil menunggu waktu, Rara duduk di kursi tunggu dan berharap Varo dan key datang menepati janji akan mengantarkan keberangkatannya.
Namun terlalu lama Rara menunggu. Berulang kali ia melihat jam di ponselnya ataupun pesan masuk.
"Non..."Panggil Kiki dan menyerahkan boarding pass kepada Rara.
"Ki.. kenapa semua orang sibuk sendiri, apa aku gak begitu penting bagi mereka? atau jangan-jangan mereka sengaja membuang ku."
__ADS_1
"Jangan berfikir begitu non, Semua pasti ada alasannya.Air mata non akan mengiringi kesuksesan non yang akan datang." Kiki pun menghapuskan air mata Rara menggunakan sapu tangannya."Jangan menangis lagi sebentar lagi kita akan berangkat." imbuh Kiki.
Sedangkan Arthur tak benar-benar meninggalkan mereka. ia duduk di kejauhan namun tetap memperhatikan adiknya.
Setelah lelah menunggu, Rara pun bangkit berdiri karena pesawat akan segera berangkat. Beberapa langkah ia berpindah dari bangku yang ia duduki terdengar suara memanggil namanya.
Key berlari menghampiri Rara dengan nafas yang ngos-ngosan.
"Key..." Rara langsung memeluk key dan berkali-kali mencium key, "Tante kira kamu gak akan datang untuk menemui Tante terakhir kalinya."
"Maaf Tante, key terlambat..." key pun melepaskan pelukan Rara dan berlutut dengan satu kaki. Ia pun mengeluarkan sebuah cincin dari dalam sakunya.
"Sebelum Tante pergi. Maukah Tante menikah dengan papa?" ucap key yang melamar Rara mewakili papanya di tempat umum.
"Bagaimana Tante bisa menerima lamaranmu key, sedangkan Tante sebentar lagi akan pergi cukup lama." jawab Rara.
"Aku akan menunggumu sampai kamu kembali, Maukah kamu menerima lamaran ku." ucap Varo yang menghampiri Rara dan berlutut dengan satu kaki.
Semua orang yang ada di bandara yang melihat bersorak meminta Rara untuk menerima lamaran Varo.
Di kejauhan Joy yang juga datang dengan berlari dan nafas ngos-ngosan di hadang Arthur.
"Awas kamu Arthur, aku ingin bertemu dengan Rara."
"Jangan ke sana kak, jangan ganggu Rara lagi, biarkan di menentukan pilihannya."
"Tapi aku mencintai Rara, tak akan ku biarkan Varo mendapatkan Rara."
"Jangan egois kak, Rara juga butuh kebahagiaan, jika ia besama Kakak Rara akan terluka hatinya." Joy terus berusaha namun tetap di tahan Arthur dengan sekuat tenaga.
Ternyata Joy tidak pergi menemui Nabila, ia sengaja di kunci Arthur di kamarnya sebelumnya Joy sudah di beri obat tidur.
Di sisi lain Rara yang di lamar Varo tak bisa berkata apa-apa selain menganggukkan kepalanya, menerima lamaran Varo. Key dan Varo memeluk Rara dengan bahagia.
sedangkan Joy menelan kekecewaan atas keputusan Rara.
"Kamu sudah kalah kak, biarkan Rara bahagia dengan Varo." Joy terduduk tak percaya harapan terakhirnya pupus sudah.
Rara pun melepaskan pelukan Varo dan key.
"Sudah waktunya, aku harus pergi, tunggu aku, aku akan segera kembali...
Namun saat Rara hendak melangkahkan kakinya untuk pergi, seorang pramugari datang menghampiri dan memberikan sebuah kotak pada Rara.
"Apa ini mbak?" tanya Rara yang bingung mendapatkan sesuatu yang tak tahu dari siapa.
"Non buka saja." ucap Kiki yang sedari tadi ada di samping Rara. Rara pun langsung membuka kotak yang di berikan pramugari tersebut.
__ADS_1
Isi dari kotak tersebut membuat Rasa menangis...
Satu part lagi ending beneran ya... akan lanjut di novel Ra...β€οΈβ€οΈβ€οΈβ€οΈ