Bukan Salahku Menjadi Pelakor

Bukan Salahku Menjadi Pelakor
Reval


__ADS_3

"Semua sudah ku lakukan sesuai rencana kakak" ucap seorang wanita yang tengah berdiri menatap seorang pria yang sangat ia hormati.


"Kerja bagus, kakak bangga padamu." ucap seorang pria lalu melempar koran yang baru saja ia baca ke atas meja.


"Tapi kak, sampai kapan kita harus begini, Dinda takut apa yang Dinda lakukan ketahuan."


"Jalankan saja apa yang kakak perintahkan dan jangan membantah, apa kamu gak mau dia hancur sama seperti saat dia menghancurkan kakak. Ingat Din bagaimana dia membuat menderita kita."


"Dinda ingat kak, tapi apa kah harus dengan cara seperti ini untuk menghancurkannya."


"Diam. . .kakak gak mau mendengarkan ocehan mu yang tak berguna. Jika kamu masih menganggap aku ini kakakmu, turuti semua perintah ku dan jangan membantah."


Reval pria yang memiliki dendam membara pada Kenzo. Reval adalah salah satu pemilik perusahaan yang bergerak di bidang yang sama dengan Ken, namun obsesi nya yang ingin melampaui keberhasilan perusahaan Ken membuatnya memilih jalan yang salah dan akhirnya Reval kalah bersaing dengan Ken bahkan ia harus menderita saat asetnya di tarik oleh bank.


Reval yang memiliki kemampuan berbisnis yang bagus, membuatnya bisa kembali bangkit dan memulai kembali membangun perusahaan dan kembali berhasil.


Dinda adik dari Reval. Dinda gadis polos dan lugu yang tumbuh besar bersama Reval setelah meninggalnya kedua orang tuanya. Membuatnya selalu patuh pada perintah kakaknya. Walaupun terkadang hatinya bertentangan dengan ke inginan kakaknya yang ingin sekali menjatuhkan Kenzo.


__________________________


Beberapa warga turun dari mobil bak terbuka dan menghampiri Ken dan Adit yang masih berdiri menjaga para begal itu.


"Ada masalah apa pak, kok berhenti malam-malam di sini?" tanya salah satu warga.


"Mobil kami mengalami bocor ban, Sepertinya ada yang sengaja memasang ranjau." Jelas Ken.


"Dan mereka tiba-tiba datang menodong kami, ingin menjarah apa yang kami miliki. Untung kami bisa melawan dan bisa melumpuhkan mereka."


"Oh. . .jadi mereka ini yang selama ini membuat resah warga desa ini. Kita harus bawa mereka ke kantor polisi biar mereka kapok dan gak membuat ulah lagi di desa." ucap warga lain yang merasa geram dengan ulah para begal.

__ADS_1


"Sebelumnya kami ucapkan terimakasih karena sudah melumpuhkan para begal yang sudah meresahkan warga di sini. Sebelumnya beberapa waktu ini desa kami nampak mencekam tak ada yang berani keluar ramah saat malam tiba, akibat ulah mereka hingga memakan korban."


"Sama-sama pak. Lebih baik segera bawa mereka ke kantor polisi, agak mereka bisa jera dan desa bapak kembali aman."


"Tentu saja pak. Begini saja lebih baik bapak-bapak bermalam dulu di desa kami, biar besok pagi pak amat panggilkan motir mobil buat mengganti ban mobil bapak yang bocor. Ini sudah larut malam."


"Terimakasih banyak atas tawarannya. Tapi apa gak merepotkan di dalam ada anak dan istri saya."


"Tentu saja tidak. Kasihan istri dan anak bapak jika harus bermalam di mobil menunggu sampai besok."


Akhirnya Ken pun menerima tawaran warga. dan segera membangunkan Karin dan mengendong Arthur untuk ikut bersama warga. Dan sebagian warga yang lain membawa para begal ke kantor polisi.


Warga membawa Mereka ke salah satu Barakkan kosong milik warga.


"Untuk malam ini silahkan tinggal di sini. Barakkan bisa kalian pakai untuk bermalam."


"Terimakasih banyak pak, atas kebaikan bapak-bapak semua."


Karin yang belum sepenuhnya paham dengan yang terjadi hanya mengikuti setiap langkah suaminya.


"Kalian istirahat saja di kamar, ini biar aku dan Arthur tidur di kamar sebelah." Ucap Adit dan membawa Arthur ke kamar.


Karin dan Ken pun ke kamar untuk istirahat. Karin duduk bersandar di atas ranjang dan Ken langsung merebahkan tubuhnya dan meletakkan kepalanya di paha Karin.


"Ada apa mas?" tanya Karin sambil mengusap pucuk rambut Ken.


"Mas akhir-akhir ini selalu gelisah dan tak bisa tidur. Mas boleh kan tidur di sini, mas ingin sayang membelai mas biar mas bisa tidur." Ken menekan matanya saat merasakan belaian tangan Karin di kepalanya.


"Sayang, apakah kamu akan selalu percaya pada suamimu ini?" tanya Ken meyakinkan

__ADS_1


"Mas ngomong apa sih, sampai kapan pun Karin akan selalu percaya pada mas, gak peduli di luar sana orang menjatuhkan mas. Karin kan tetap percaya dengan mas."


"Makasih sayang, kamu selalu ada di saat mas benar-benar merasa bimbang dan ragu dengan semua keputusan yang harus mas ambil." Ken meraih tangan Karin dan berkali-kali mengecup nya.


Karin yang selalu memberikan dorongan pada suaminya dan selalu yakin dan percaya padanya membuat Ken semakin sayang dengan Karin.


Tak lama kemudian Ken terlelap dalam tidurnya dan masih di posisi yang sama. Tanpa henti Karin membelai rambut suaminya.


"Sampai kapanpun aku kan percaya padamu mas. Aku tak peduli apapun yang terjadi hari esok, selama mas ada di sampingku. Kenyataan apapun yang harus Karin ketahui akan Karin terima dengan lapang dada. Karin tahu resiko yang harus Karin hadapi saat menerima mas jadi suami Karin. Walaupun Karin tak tahu sepenuhnya tentang masa lalu mas yang sudah mas lewati. Bahkan Karin sudah siap jika kemudian hari ada sesuatu yang Karin terima si saat Karin koma selama 5 tahun terakhir. "Tak terasa air mat Karin membasahi pipi dan segera saja ia hapus agar tak jatuh membasahi wajah suaminya.


Karin pun terjaga sepanjang malam, tak dapat tidur dan selalu mengusap rambut suaminya.


Pagi pun menjelang, ayam warga mulai berkokok menyambut menteri pagi.


Arthur bangun dan langsung mencari bundanya. Dan menghampiri Karin yang baru selesai membersihkan diri.


"Bunda. . kenapa kita disini. kenapa kita belum sampai rumah?" ucap Arthur yang mulai menangis.


Dengan sigap Karin menggendong putranya yang ternyata badannya sedang panas.


"Maaf sayang kita belum bisa pulang, mungkin agak siang dikit baru bisa pulang ban mobil ayah bocor dan harus menunggu pagi baru bisa di ganti." jelas Karin


"Arthur, mau pulang. Arthur gak mau di sini." Arthur menangis dan sembunyi di dada bundanya.


Mendengar suara tangis Arthur membuat Ken terbangun.


"Ada apa ini? pagi-pagi papa kok sudah mendengar tangisan putra papa." tanya Ken sambil mengembalikan kesadaran dari tidurnya.


"Sepertinya Arthur demam, makanya rewel. Dia minta pulang terus." jelas Karin.

__ADS_1


Mendengar putranya demam, Ken langsung menghampiri dan memeriksa kening putranya dan benar saja Arthur sedang demam. Ken melihat jam di tangannya masih jam setengah lima, membuat dirinya menghembuskan nafas kasar. Tak mungkin ada pukesmas atau toko obat yang buka jam segini.


__ADS_2