
Malam yang di nanti pun tiba, semua anggota keluarga sudah berkumpul.
Sebuah kue ulang tahun berada di depan Ken dan putranya yang duduk di pangkuan papanya.
Makan malam pun berjalan lancar sebelum akhirnya cara yang sangat di tunggu Arthur.
Seperti ritual biasa, menyanyikan selamat ulang tahun, tiup lilin dan potong kue.
Arthur bersama dengan papanya memotong kue itu dan menguapkannya pada Karin.
"Terimakasih sayang, masih ingat dengan ulang tahun mas dan putra kita." Ken menyuapi kue pada Karin kemudian mengecup keningnya. Begitu juga dengan Arthur melakukan sama seperti yang papanya lakukan.
"Bun sekarang Arthur minta hadiahnya."
"Iya sayang, mama gak lupa kok, bentar ya mama ambilkan dulu di kamar." Karin pun berdiri dan berjalan sedikit terpincang-pincang karena luka yang ia alami. Ken menyadari itu dan menghampiri Karin.
"Ada apa sayang, kenapa langkahmu terpincang-pincang?"
"Gak papa mas, cuma sakit kaki aja." bohong Karin
"Jangan bohong, sini biar mas lihat."
"Jangan mas. . .gak papa kok." Ken tetap memaksa dan berjongkok mengangkat gaun panjang Karin sedikit ke atasnya.
"Apa ini sayang, kenapa kamu bisa terluka, apa yang terjadi?" Ken mencecar pertanyaan pada Karin.
"Aku. . aku. . "
"Baiklah kita bicara di kamar, biar Arthur bermain dengan yang lain, mas butuh penjelasan darimu." Ken membimbing Karin ke kamar dan mendudukannya di pinggir ranjang.
"Apa yang terjadi padamu, katakan sayang, kenapa kamu sampai terluka." Ken kembali bertanya dan berjongkok di depan Karin.
"Tadi Karin gak sengaja terserempet mobil, dan melukai kaki Karin. Tapi gak papa kok mas tadi sudah di bawa ke dokter."
"Gak papa apanya, mas tahu kamu gak bisa menahan sakit jika terluka, kenapa kamu gak bilang sama mas apa yang terjadi kalau gak mas tahu sendiri dari jalanmu. ini pasti gara-gara mas yang membuatmu jadi begini." Ken menyandarkan kepalanya di paha Karin.
"Maafkan aku, sudah ku katakan berkali-kali kalau aku tidak melakukan apa-apa malam itu, aku benar-benar tidak ingat siapa yang membawaku ke hotel itu."
"Sudahlah mas, gak usah di bahas lagi. Karin sudah memaafkan mas dan Karin harap ini gak terulang lagi."
Karin menarik paper bag yang ada di dekatnya dan memberikannya pada suaminya.
__ADS_1
"Selamat ulang tahun mas, semoga mas bisa menjadi suami dan ayah yang lebih baik lagi. Terimalah hadiah kecil ini dari istrimu."
Ken mengambil hadiah dari Karin dan membukanya. Karin memberikan sebuah jam tangan brand Swiss yang terkenal TAG Heuer.
"Terimakasih untuk hadiah yang indah ini, tapi bagi mas yang lebih indah di adalah saat istri mas masih selalu setia bersama mas."
Sesaat mereka memadu kasih, sebelum suara teriakan Arthur membuyarkan semua.
"Mas, Arthur sudah memanggil."
"Iya mas dengar, sayang istirahat saja di kamar biar mas yang memberikan hadiahnya pada Arthur, mas tahu kamu sedang menahan sakit." Karin pun mengangguk dan membiarkan Ken yang memberikan hadiahnya.
Ken keluar menghampiri putranya, dan memberikan hadiahnya pada Arthur." Maafin bunda ya sayang, bunda gak bisa memberikan hadiah ini langsung pada Arthur, soalnya bunda lagi sakit kakinya."
"Mbak Karin kenapa mas?" saut Adit saat mendengar bahwa kakaknya sedang sakit.
"Karin habis di serempet mobil, dan aku baru tahu saat dia jalan sedikit kesusahan."
"Terus bagaimana keadaannya, mbak Karin tadi baik-baik saja gak seperti terjadi apa-apa."
"Kamu lihat aja sana, keadaan mbakmu di kamar."
"Iya mas." Adit buru-buru menghampiri kakaknya yang merasa kuatir.
"Memangnya bunda tadi kemana? apa bunda gak pakai supir."
"Bunda tadi pulangnya naik taksi. Bunda habis beli hadiah buat Arthur."
"Ya sudah, sekarang sekarang Arthur lihat mainannya di kamar bermain di temani bibi ya. biarkan mama istirahat." Arthur pun mengangguk dan pergi ke kamar bermain.
Adit menghampiri Karin yang masih duduk bersandar di ranjang.
"Mbak, kenapa mbak bisa jadi begini, kenapa gak bilang-bilang kalau sedang terluka," Adit duduk samping Karin dan memijit-mijit bagian kakinya yang tak terluka.
"Mbak gak papa Dit, gak usah cemas lusa mungkin sudah mulai kering lukanya. Lagian orangnya sudah bertanggung jawab membawa mbak berobat kerumah sakit."
"Jika dia bertanggung jawab kenapa tak mengantarkan sampai rumah, kalau terjadi apa-apa di jalan bagaimana?" saut Ken yang sudah kembali ke kamar.
"Karin yang gak mau di antar, dia tadi maksa mau antar tapi Karin yang gak mau. Udahlah mas gak usah di bahas lagi, lagian Karin kan gak papa."
"Ya udah mbak istirahat saja, Adit keluar dulu."
__ADS_1
Adit pun meninggalkan mereka berdua.
Ken pindah duduk di samping Karin.
"Ada obat yang di berikan dokter?"
"Ada di dalam saku tas yang ada di meja." Ken pun merogoh saku tas Karin dan mendapati obat dan juga kartu nama.
"Reval Mahaputra. Dari perusahaan REVALDA darimana istriku mendapatkan kartu nama ini?" gumam Ken dan meremas kartu nama itu dan menyimpannya di kantong.
"Minum obatnya dan istirahat, biar lukamu cepat baik, jangan turun ranjang jika masih sakit untuk di bawa berjalan."
"Terus kalau gak boleh turun ranjang, kalau istrimu ini ingin ke toilet bagaimana? apa harus bangunkan mas?"
"Apa gunanya punya suami kalau gak bisa bantuin istri yang sedang kesulitan."
"Iya. . . iya. . ."
_______
Reval melemparkan tubuhnya di ranjang tempat istirahatnya. "Apa yang terjadi padaku? kenapa aku tiba-tiba saja teringat terus dengan wajah itu?" Reval membayangkan wajah wanita yang ia serempet tadi siang.
Tak lama ketukan pintu mengganggu Reval yang sedang terbayang-bayang.
"Masuk, pintunya gak di kunci." teriak Reval
"Kakak dari mana saja, sejak kemarin gak pulang-pulang. Gak ngabarin Dinda lagi." oceh sang adik pada kakaknya.
"Kakak sedang sibuk, mau laporan apa?"
"Ini, Dinda mau kasih hasil kerja Dinda kemarin buat musuh kakak seolah-olah sedang bercinta dengan adikmu ini." Reval lalu duduk dan mengambil flashdisk yang di berikan adiknya.
"Tapi kamu gak beneran lakuin, kamu gak tergoda kan."
"Mana mungkin Dinda mau menyerahkan mahkota berharga Dinda pada laki-laki yang sudah beristri. Dinda cuma meninggalkan bekas lipstik sama bekas di leher biar seolah-olah benar-benar terjadi."
"Ternyata di balik keluguan adikku ini rupanya licik juga. Ya kakak percaya padamu, lagian kakak juga gak ikhlas kalau adik kakak ini sampai di nikmati pria brengsek itu."
"Yaudah, Dinda keluar dulu. mat malam kak." Dinda pun keluar kamar kakaknya.
"Akhirnya kamu masuk jebakan juga Ken, tunggu drama ini di mulai. aku pastikan keluargamu hancur, itu awal rencana ku." gumam Reval sambil memainkan flashdisk pemberian adiknya.
__ADS_1
JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAK LIKE, VOTE, HADIAH, KOMENTAR, FAVORIT SELALU DITUNGGU TERIMAKASIH.