Bukan Salahku Menjadi Pelakor

Bukan Salahku Menjadi Pelakor
Demi suami


__ADS_3

Setelah pertempuran malam itu, tubuh Karin rasa remuk, ia tak bisa bangun dari tempat tidur. Dengan tubuh polos yang hanya di tutupi selimut Karin hanya membolak-balik kan tubuhnya di atas ranjang.


Tak lama pintu kamar nya di ketuk dari luar.


"Masuk aja bi, pintunya gak di kunci" teriak Karin dari dalam kamar. pembantu itupun masuk dan menghampiri Karin.


"Maaf nyonya mengganggu, ini ada kiriman dari tuan Ken buat nyonya." pelayan itu memberikan paper bag pada Karin.


"Makasih bi, mas Ken pergi kemana bi?"


"Tuan masih pagi sudah pergi dan gak sempat sarapan. Nyonya Habis emmmm emmm ya tadi malam sama tuan?" pembantu itu bertanya sambil senyum -senyum malu, itu membuat Karin mengkerutkan dahinya tak percaya seorang pelayan berani bicara yang tak seharusnya.


"Mas Ken dapat pembantu dari mana, yang berani mempermalukan ku secara langsung." gumam Karin.


"Dari mana bibi tahu, emangnya kedengaran apa sampai ke luar?" tanya Karin


"Ya gak si nya, tapi lihat nyonya hanya memakai selimut dan itu bajunya masih berserakan."


"Dengar ya bi, mulai sekarang mau saya habis emm atau habis apa jangan ikut campur, itu gak sepantasnya dan gak sopan, faham." Tegas Karin yang tak suka.


Pembantu yang di pekerjaan Ken bernama ni Darmi, orangnya sangat kepo tapi jujur usianya sekitar 38 tahun. Dia yang sekarang menggantikan bi Wiwik yang sudah pensiun.


"Iya nyonya, maafkan saya memang mulut saya ini susah di rem dan selalu kepo. Saya janji gak akan mengulanginya lagi, sekali lagi maafkan saya." Pembantu itu tertunduk merasa bersalah dan Karin kembali tersenyum.


"Tolong siapkan air hangat buat mandi, badanku terasa remuk bi."


"Baik nyonya, segera saya siapkan."

__ADS_1


Karin membuka isi paper bag itu dan di dalamnya terdapat sebuah ponsel dan sebuah surat.


"Maaf mas tadi buru-buru jadi gak sempat bangunkan sayang. Ini ada ponsel baru mas belikan mengantikan ponsel yang rusak. Ingat tidak boleh ada nomer orang lain selain keluarga. Segera aktifkan ponselnya mas ingin menghubungimu." isi surat itu dan Karin bergegas mengaktifkan ponselnya dan melihat-lihat kecanggihan ponsel keluaran terbaru.


Setelah bi Darmi selesai menyiapkan air hangat Karin pun segera merendam tubuhnya. Sejenak Karin teringat lagi, saat pertama kali dirinya pergi tanpa seizin Ken dan dia pun mendapatkan hukuman sama seperti yang ia alami malam tadi.


"Kenapa kau perlukan ku sama seperti dulu mas. Sebenarnya aku ini Istri atau budak mu." Karin menangis melepaskan semua kesedihan yang sudah tak dapat ia bendung lagi.


________


Arthur sedang di pos satpam sekolah, Menunggu jemputan yang belum datang. Sedangkan Joy belum pulang karena masih ada kegiatan tambahan yang harus ia ikuti.


Reval datang menghampiri Arthur yang sedang duduk dan melamun.


"Hai bocil sedang nunggu jemputan ya?" tanya Reval dan Arthur mengaguk.


"Om siapa dan mau jemput siapa?" tanya Arthur yang tak mengenal Reval.


"Maksud om bunda Karin. Kalau bunda sedang pergi dengan papa, kata bi Eka bunda mau ngasih Arthur adik kecil." ucap polos Arthur tanpa menaruh curiga pada Reval.


"Arthur tahu kemana perginya mama sama papa?" tanya Reval kembali dan Arthur pun menggelengkan kepalanya.


Revel nampak kesal mendengar ucapan Arthur yang tak mungkin berbohong.


"Kemana kamu pergi Karin, dan kenapa nomormu tidak bisa di hubungi. Sehari saja aku tak melihatmu aku merindukanmu." gumam Reval. Tak lama kemudian jemputan Arthur pun datang dan dengan sopan Arthur berpamitan pada Reval.


________

__ADS_1


Setelah selesai berendam Karin pun menuju kamar ganti dan di dalamnya masih banyak tersimpan dengan rapi baju-baju yang di belikan Ken dan semuanya pakaian kurang bahan.


"Apakah aku masih pantas pakai pakaian seperti ini, ini terlalu terbuka jika Arthur tahu dia pasti akan marah padaku. Tapi tak ada baju yang lain yang lebih sopan." cukup lama Karin memilih baju namun tak ada baju yang lebih sopan. Karin pun menyerah dan mengambil salah satu baju yang sepertinya masih muat.


Karin bercermin dan memandangi tubuhnya yang masih terlihat seksi, walaupun sudah beranak satu. Wajahnya makin cantik setelah rajin melakukan perawatan.


"Ternyata uang bisa merubah segalanya Bahkan penampilan pun dapat berubah karena uang." Karin senyum senyum sendiri di depan cermin. Tanpa ia sadari Ken sedari tadi memperhatikan dirinya.


Ken memeluk Karin dari belakang dan langsung mencium punggung Karin yang terbuka.


"Kau begitu cantik memakai pakaian ini, mas sangat menyukainya. Sejak kamu punya Arthur mas jarang sekali melihat Isti mas berpakaian seksi dan berias diri secantik ini" rayu Ken di telinga Karin.


"Tapi mas takut kehilangan wanita yang selalu membuat mas tergila-gila, bahkan rela melakukan apapun agar tak kehilangan wanita luguku ini. Berjanjilah pada mas, sayang tak akan menemui atau berhubungan dengan pria itu lagi, atau mas tak akan segan - segan membuat perhitungan dengannya. Ingat kamu adalah milikku selamanya."


"Mas, harus bagaimana lagi Karin membuktikan kesetiaan karin pada mas, Karin sama sekali tak pernah ada niatan untuk menghianati pernikahan yang sudah kita bangun ini."


"Jika kamu benar-benar ingin mas mau percaya lagi, mas hanya ingin minta satu bukti yang selama ini selalu sayang tolak."


"Maksud mas apa?"


"Mas ingin kamu mengandung lagi, mas ingin sayang melahirkan keturunan mas lagi. Arthur sudah besar sudah waktunya dia memiliki adik lagi."


"Tapi mas, bukannya Karin gak mau. Tapi Karin masih takut." Mendengar jawaban Karin Ken melepaskan pelukannya dan duduk di sofa. Ken marah mendengar penolakan Karin lagi dan lagi.


"Mas, maafin Karin jika Karin terlalu lemah dan masih menyimpan trauma itu." Karin berusaha membujuk Ken agar mau mengerti.


"Sayang, apa lagi yang kamu takutkan. Ada aku di sini yang akan menjadi suami siaga dan akan selalu menjagamu. Mas meminta ini sema-mata untuk pembuktian kesetiaanmu pada mas, jika kamu hamil tak mungkin kamu berani berselingkuh dengan laki-laki itu.

__ADS_1


"Baik jika itu memang keinginan mas, Antarkan karin kerumah sakit untuk melepas alat kontrasepsi yang Karin pakai, dan selama kita di sini mas harus sudah bisa membuatku hamil lagi dan setelah aku di nyatakan hamil. Kita pulang ke rumah aku gak mau terlalu lama meninggal anak-anak." Tegas Karin yang sudah membulatkan keputusannya karena tak mau suaminya terus mencurigai selingkuh.


Ken begitu bahagia mendengar keputusan Karin yang mau untuk mengandung lagi, " terimakasih sayang sudah mau mengabulkan permintaan suamimu ini. Mas janji akan berusaha agar sayang bisa lekas hamil kembali. Kita akan konsultasi dengan dokter kandungan agar sayang bisa lekas hamil." Ken memeluk erat Karin karena begitu bahagia. Keinginannya untuk segera menambah keturunan akhirnya akan segera terwujud.


__ADS_2