
"Pak ini saya bawakan brosur sesuai permintaan bapak." Roy memberikan beberapa selebaran dari beberapa universitas ternama yang di minta Arthur.
"Terimakasih Roy." Arthur menerima selebaran dari tangan Roy, "oya Roy mulai hari ini kamu aku pindah tugaskan menjadi asisten pribadiku. Kiki Sendiri yang akan menjadi bodyguard Rara."
"Apa ini benar tuan? apa saya gak salah dengar, tuan menjadikan saya asisten pribadi tuan."
"Tentu saja benar. Jadi mulai sekarang bekerjalah untukku dan jangan buat aku kecewa."
"Baik tuan, saya akan berusaha bekerja sebaik mungkin."
"Kalau begitu, sekarang ikut denganku. Kita akan melihat secara langsung progam dan fasilitas yang di berikan apa sesuai dengan selebaran ini. Aku ingin memilihkan yang terbaik.
ππππ
Setelah mendapat izin dari orangtuanya Rara pun ikut bersama Varo dan wajah gembira terlihat jelas di wajah key.
"Apa yang kalian bicarakan tadi? kok terlihat serius banget?" tanya Rara yang penasaran.
"Tidak ada masalah apa-apa, hanya masalah kaum pria saja." jelas Varo singkat.
Key masih saja memeluk rara dan tak membiarkan Rara bergerak sedikitpun.
"Tante jangan pergi? jangan tinggalin key. Key sudah sangat nyaman berada dekat tante."
"Key..., Key kan sudah besar, key harus paham. Tante pergi hanya ingin melanjutkan pendidikan Tante dan setelah selesai nanti Tante pasti akan kembali, key bisa tunggu Tante sampai tante kembali."
"Tapi itu kan lama Tante."
"Key sampai rumah kita akan main apa? Tante akan menghasilkan waktu bermain bersama key sampai puas. Apa key mau?" Rara mengalihkan pembicaraan yang tak akan berujung.
"Key gak mau main! key cuma mau ada di samping Tante. Key pasti akan merindukan pelukan Tante yang pergi cukup lama."
ππππ
Saat mendatangi salah satu universitas ternama, tanpa sengaja Arthur bertabrakan dengan seorang mahasiswi yang sedang buru-buru dan sedang membawa banyak buku.
__ADS_1
"Aaauuuhhh..." keluh gadis tersebut yang terjatuh berbarengan dengan Arthur.
"Kalau jalan pakai mata gak sih..." Arthur yang kesal karena dirinya di buatnya terjatuh ke lantai.
"Maafkan aku... aku sedang buru-buru." ucap gadis berkacamata yang sedang memunguti buku-buku yang berhamburan.
Roy membantu gadis berkacamata itu mengumpulkan buku, "Lain kali kalau jalan hati-hati." ucap Roy sambil menyerahkan buku yang ia kumpulkan pada gadis tersebut.
"Aku benar-benar minta maaf." gadis itu pun membungkuk untuk minta maaf dan segera pergi meninggalkan Arthur dan Roy.
"Anak jaman sekarang gak ada sopan-sopannya." Arthur membersihkan pakaiannya dan merapikannya.
"Bapak gak papa?" tanya Roy dan Arthur menggeleng.
Arthur dan Roy pun melanjutkan langkahnya untuk bertemu dengan pimpinan universitas tersebut.
ππππ
"Joy, mama ingin bicara denganmu. " ucap Karin.
"Iya ma." Joy pun menghampiri Karin dan ikut duduk di sofa, "Mama mau bicara apa?"
"Joy... Joy akan segera melamarnya ma. Apakah Mama bisa bantu Joy mempersiapkan semuanya? hanya mama yang bisa Joy harapkan."
"Tentu. Mama akan bantu persiapannya, jika kamu benar-benar sudah siap untuk melamar Nabila. Joy kalau mama boleh kasih saran, beri tahu mama Sasa, dia berhak tahu, karena walau bagaimanapun juga dia adalah ibu kandungmu, dia pasti akan bahagia bisa menyaksikan putranya akan memiliki pendamping hidup.
"Gak ma, Joy gak ingin mama Sasa masuk lagi dalam kehidupan Joy, sudah cukup Joy di buatnya menderita. Bagi Joy hanya mama Karin mamanya Joy bukan wanita itu." Joy pun meninggalkan Karin tak ingin melanjutkan pembicaraan.
"Ada apa dengan Joy sayang?" tanya Ken yang berpapasan dengan Joy. Karin segera menghapus air matanya dan berusaha menutupi kesedihannya dari Ken.
"Tidak papa mas, aku hanya menanyakan kelanjutan hubungan dengan Nabila." Jawab Karin. Ken duduk di samping Karin.
"Mas mau tanya padamu. Apa putri kita Rara pacaran dengan nak Varo? Mas gak mau ya kalau sampai Rara membatalkan kuliahnya hanya karena laki-laki. Pendidikannya harus lebih di prioritaskan." tanya Ken.
"Iya Karin paham, tapi biarlah kalau mereka pacaran, selagi menjalin hubungan sehat dan gak menjerumuskan Rara. Sepertinya Varo laki-laki yang baik dan bisa menjaga Rara seperti kedua kakaknya."
__ADS_1
"Tinggal Arthur yang belum memperkenalkan calonnya pada kita, atau kita jodohkan saja dia mas dengan anaknya dokter Sandi." imbuh Karin
"Terserah sayang saja, bagaimana yang terbaik buat anak-anak." jawab Ken dengan santai.
Tak lama Arthur pun datang dan menyapa kedua orangtuanya.
"Sore Bunda, papa." Sapa Arthur yang hendak langsung ke kamar.
"Tunggu Arthur. Kemarilah nak Bunda ingin bicara dengan kamu." panggil Karin dan Arthur pun langsung menghampiri.
"Ada apa Bun? apa ada masalah serius?"
"Iya. Ini sangat serius dan mengenai masa depan kamu."
"Memangnya kenapa dengan masa depan Arthur? semua baik-baik saja kan?"
"Kamu tahu kan Joy sudah mau tunangan dengan Nabila dan adikmu Rara sudah mulai pacaran dengan Varo, terus kamu, Kenapa sampai sekarang masih jomblo? ingat Arthur kamu sudah dewasa dan sudah waktunya mencari pendamping hidup. Bunda dan papa juga berharap bisa segera menimang cucu."
"Ah... Bunda? Arthur belum kepikiran buat nikah. Masih banyak hal yang ingin Arthur lakukan, urusan nikah bisa di pikirkan nanti saja." jawab Arthur dengan santai.
"Tidak ada nanti-nantian, Bunda beri waktu kamu dua Minggu buat kenalin calon kamu dengan Bunda atau akan Bunda jodohkan kamu dengan anak dokter Sandi." ancam Karin.
"Bunda.... kenapa main paksa sih. Bagaimana caranya Arthur memperkenalkan calon Arthur kalau calonnya aja belum punya dan Arthur gak mau di jodohkan, udah gak jamannya lagi." Jawab Arthur yang sedikit kesal.
"Semua keputusan ada di tanganmu, kamu tinggal pilih yang mana akan Bunda tunggu"
"Pa.., Bunda maksa." Arthur mencoba mengadu pada Ken.
"Papa setuju dengan Bunda mu. Kamu hanya tinggal milih saja kok repot." saut Ken.
"Ah.. papa sama saja kaya Bunda. Arthur ke kamar dulu lagi malas bahas beginian. Oya pa.. sudah Arthur putuskan dan sudah Arthur dapatkan." Arthur pun bergegas pergi ke kamar meninggalkan kedua orangtuanya.
"Kalian sedang ada rencana apa mas? Kenapa Karin tidak di beritahu?"
"Bukan masalah apa-apa sayang. Ini hanya rahasia antara aku dengan Arthur. Nanti kalau sayang juga akan tahu."
__ADS_1
"Mas mulai ya main rahasia-rahasiaan dengan istri mas sendiri. Jangan buat Karin ngambek ya mas."
"Sudah Mas bilang, sayang gak perlu tahu, ini hanya untuk sesama laki-laki saja. Nanti sayang juga akan tahu dengan sendirinya. jadi jangan terus bertanya." Ken pun mengecup kening Karin agar tak melanjutkan rasa penasarannya.