
sore harinya Karin, Kenzo, dan Anton kembali ke Kota menempuh perjalanan yang cukup panjang dan melelahkan.
Selama di perjalanan Karin lebih memilih untuk tidur, karena kondisi yang belum benar-benar sehat.
Kenzo sibuk dengan ponselnya karena banyak email masuk, membiarkan Karin tertidur.
Sedangkan Anton fokus mengemudikan mobil.
Setelah lima jam perjalanan dan hari juga sudah malam Anton mengusulkan untuk menginap.
"Pak, bisakah kita melanjutkan perjalanannya besok? saya sudah sangat lelah mengemudi apa lagi kurang istirahat saat kita di desa." ucap Anton sambil sesekali menguap karena berlalu lelah.
Ken melihat jam di tangannya dan ternyata sudah jam 21.22 wib.
"Baiklah, cari penginapan terdekat kita istirahat dan lanjut besok." perintah Ken.
Anton pun mencari penginapan yang terdekat untuk menginap malam ini, dan tak butuh waktu lama Anton pun mendapatkannya.
"Pak, kita sudah sampai." ucap Anton sambil menoleh kebelakang menatap bosnya.
"Kamu turun duluan dan pesan dua kamar, aku mau membangunkan Karin dulu!" Anton pun mengangguk dan segera pergi untuk memesan kamar.
Ken menyimpan kembali ponselnya kedalam saku dan segera membangunkan Karin yang masih tertidur pulas.
"Karin..., Karin..., Karin bangun." panggil Ken beberapa kali. Karin pun terbangun namun belum sepenuhnya sadar dia mengucek kedua belah matanya untuk menjernihkan matanya yang masih sedikit buram.
"Kita sudah sampai tuan, berapa lama Karin tidur?" Karin menoleh keluar jendela kaca mobil.
"Kita sudah sampai penginapan, Anton kecapean dan minta dilanjutkan besok. Ayo turun lanjutkan tidurmu di kamar." Ken dan karin pun turun mobil dan segera menyusul Anton.
Setelah mandapatkan kamar, Anton membuka kamar dan langsung masuk. Ken dan karin pun ikut masuk. Anton segera duduk dipinggir ranjang.
"Ngapain kamu disini?" tanya Ken yang melepaskan kemejanya.
"Bukannya kita satu kamar? dan Karin yang tidur di kamar satunya."
"Siapa yang bilang, kamu tidur di kamar satunya."
__ADS_1
"Jadi bapak mau tidur dengan Karin?" Anton menggaruk kepalanya.
"Cepat keluar sana aku mau istirahat." usir Ken.
"Rupanya ada yang mau melepas kangen, bodohnya aku gak paham" ucap Anton sambil berjalan keluar kamar.
Ken yang sudah bersiap untuk istirahat baru menyadari bahwa Karin berdiri mematung.
"Karin, Karin mau istirahat atau mau menjadi penjaga ku?" panggil Karin yang melamun.
"Emm, maaf tuan saya mau istirahat saja." Karin berjalan ke kamar mandi dulu untuk membersihkan diri sebelum istirahat.
Karin segera menyusul Ken yang sudah berbaring di ranjang sambil memainkan ponselnya. Karin merebahkan diri dan membelakangi Ken, untuk melanjutkan tidurnya.
Setelah meletakkan ponselnya Ken memeluk Karin dari belakang menciumi leher dan punggung Karin.
"Aku sudah lama merindukanmu, Rinduku sudah tak tertahan." bisikan Ken di telinga Karin.
"Tuan, bisakah tidak sekarang." penolakan Karin secara halus namun penolakan Karin membuat Kenzo semakin menginginkannya.
Ken membalikkan tubuh Karin, dan menatap Karin mempertanyakan penolakannya,
"Tapi tuan..., aku...." belum sempat melanjutkan ucapannya Ken sudah menyatukan bibirnya, hingga Karin tak dapat berbicara lagi.
Setelah Ken puas dengan permainan bibirnya Ken pun kembali bicara.
"Aku tak butuh penjelasanmu, yang aku butuhkan pelayananmu." setelah selesai berucap Ken kembali menyerang Karin tangan dan bibirnya tak henti bermain di tubuh Karin.
Ken yang sudah menahan rindu pada Karin tak membutuhkan waktu lama untuk menikmatinya. Karin hanya dapat mengikuti kemauan tuannya memberikan pelayanan yang dia inginkan, walaupun Karin sempat menitikkan air mata, Seperti sebuah penyesalan atau apa.
Malam ini Ken meminta Karin melayaninya dua kali, tanpa pengaman dan Karin hanya bisa mengikutinya, tak ingin Ken bermain dengan kasar yang bisa menyakiti janinnya.
Setelah puas dan cukup leleh, karin kembali tidur membelakangi Ken, air matanya kembali menetes.
"Apa yang harus aku lakukan, aku harus jujur atau tidak, aku masih ragu apakah tuan mau menerima janin yang ada dalam kandunganku atau malah akan memaksaku untuk membuangnya, apa yang harus aku lakukan." gumam Karin di sertai tangis yang tertahan Sedangkan Ken sudah terlelap dalam tidurnya.
Keesokan harinya, Karin bangun lebih awal dan seperti biasanya mual menyerang dan dengan segera langsung berlari ke kamar mandi.
__ADS_1
Ken yang mendengar Karin muntah-muntah di kamar mandi segera saja menghampiri tanpa rasa jijik mengusap punggung Karin untuk meredakan mualnya.
"Sebenarnya kamu sakit apa Karin?" kenapa dua hari ini kamu selalu muntah-muntah?"
"Aku tidak papa tuan, lambung Karin yang kambuh. Aku akan baik-baik saja setelah minum obat."
Karin yang gemetaran dan pucat di bimbing Ken duduk di pinggir ranjang.
"Mana obatmu, biar aku ambilkan?" tanya Ken yang berjongkok didepan Karin.
"Ada di tas tuan" tunjuk Karin dan segera Ken mengambil obatnya. saat sedang mencari-cari obat di dalam tas Karin, Ken mendapati surat hasil pemeriksaan dari puskesmas, dengan segera Ken mengambilnya dan memasukkannya dalam kantong celananya tanpa sepengetahuan Karin.
Dengan membawa segelas air, Ken menyerahkan obat pada Karin.
"Sekarang istirahatlah, biar aku pesankan makanan, kamu mau makan apa?" tanya Ken
"Karin mau salad buah saja, liur Karin masih pahit untuk merasakan makan."
Anton di luar sudah mengetuk pintu, mengganggu bosnya.
"Pak, kapan kita akan sarapan sudah dari tadi saya tungguin bapak gak keluar-keluar."
"Kamu sarapan saja duluan, dan sekalian pesankan salad buah buat Karin aku sarapan nanti aja. Oya kita berangkatnya nanti nunggu Karin baikan."
"Memang Karin masih sakit atau sakit habis eeeemmm?" Anton yang menebak-nebak.
"Gak usah ikut campur, cepat pergi sana, muak aku mendengar semua pertanyaan dan tebakanmu." usir Ken.
"Baiklah pak, nanti kalau sudah bisa berangkat hubungi saya, saya mau lihat yang bening-bening dulu, siapa tahu dapat juga." Anton langsung saja nyelonong pergi meninggalkan bosnya yang masih di depan pintu.
Ken kembali menghampiri Karin, yang masih bersandar, memperhatikan setiap gerakan tubuh Kenzo.
"Kenapa menatap ku seperti itu, apa ada yang aneh denganku?" tanya Ken yang merasa risih karena tatapan Karin.
"Tidak, aku hanya suka, melihat wajah tuan yang tampan." ucap Karin sambil tersenyum.
Ken duduk di samping Karin dan mendekatkan wajahnya. "apa aku sangat tampan?"
__ADS_1
"Tuan tampan, tapi tidak sangat tampan, karena masih banyak pria lain yang lebih tampan dari tuan, Tapi Karin tetap menyukainya apalagi jika senyum di bibir tuan menghiasi wajah tuan." Karin menarik sisi bibir Ken dan membentuk sebuah senyuman di wajah Kenzo.
Makasih sudah mampir jangan lupa tinggalkan jejak, LIKE, KOMEN, VOTE, HADIAH sebagai bentuk dukungan untuk karya ini.