Bukan Salahku Menjadi Pelakor

Bukan Salahku Menjadi Pelakor
S1-14


__ADS_3

"Tuan, ayo kita ke sana, seperti tempatnya bagus." Karin menarik lengan Ken mengajak ke salah satu tempat yang di sediakan taman kota.


"Kamu sendiri saja yang kesana, aku menunggu di sini saja, aku gak terlalu suka tempat - tempat yang terlalu ramai." Ken melepaskan tangan Karin dari lengannya.


"Kalau Karin hilang bagaimana? ini kan baru pertama kali nya Karin kesini dan belum paham area sini."saut Karin


"Kalau takut nyasar kita pulang saja" Karin menggelengkan kepala dan melangkah pergi menjauh dari ken yang berdiri di samping mobil.


"Karin tunggu" panggil Ken namun tak didengar.


Karin berjalan sendirian, menyusuri jalan setapak, memperhatikan remaja lain yang berjalan berpasang-pasangan. Karin duduk di salah satu bangku yang kosong, menikmati malam minggu sendirian dan lama seorang pria yang lumayan tampan duduk di samping Karin dan mencoba berkenalan dengan Karin.


Ken berkeliling mencari Karin yang meninggalkannya sendiri. Ponsel Karin pun ditinggalkan di mobil sehingga Ken tidak bisa menanyakan keberadaannya.


"Sembunyi dimana anak itu, dicari dari tadi gak ketemu." Ken mengacak pinggang memperhatikan sekitaran mencari Karin yang entah dimana dia.


Setelah beberapa lama Ken memperhatikan sekitaran, akhirnya dia menemukan sosok yang dia cari, tapi wajah cemasnya berubah setelah melihat Karin berbincang dengan seorang pria yang lumayan tampan dan sama-sama duduk di bangku.


Setelah pria yang ngobrol dengan karin pergi, Ken kembali memasang wajah cemasnya dan Ken menghampiri Karin, yang sedang duduk sendirian."Kenapa sweaternya gak dipakai, tahu kan kalau malam udaranya sangat dingin."


"Tuan, kenapa ada disini, bukannya tadi tuan gak mau di ajak kesini?" saut Karin yang kaget dengan kedatangan Ken.


"Aku kesini mau mengantarkan sweatermu, biar kamu gak kedinginan." Ken duduk di samping Karin.


"Terimakasih banyak tuan, sudah memperhatikan Karin." Karin melingkarkan tangannya ke lengan Ken dan menyandarkan kepalanya di pundak Ken.


"Bolehkan Karin bersandar sebentar."

__ADS_1


"Tuan, maafkan sikap Karin yang tadi padi, Karin benar-benar, tidak bisa mengendalikan diri."


"Gak papa, itu wajar, seharusnya aku yang minta maaf karena aku hidupmu jadi menderita. Aku gak pernah berfikir akan berubah jadi seperti ini, awalnya aku membelimu hanya untuk memenuhi kebutuhan ku."


"Maaf tuan, bukannya tuan sudah punya istri apakah masih kurang dengan pelayanan istri tuan."


"Jika bukan karena dia, gak mungkin aku bertemu denganmu." Ken menghembuskan nafas panjang.


"Aku menikah dengan Sasa sudah hampir tiga tahun, tapi dari awal hubungan kami sudah tidak baik, aku yang terlalu mencintai Sasa begitu berlebihan sebelum akhirnya aku menikahinya dan tahu sifat asli Sasa."


"Memangnya nona Sasa kenapa tuan?" Karin yang penasaran dengan cerita Ken yang mulai terbuka.


"Di lebih mementingkan, dunianya dan tak memperdulikan aku sebagai suaminya, berangkat pagi pulang subuh, kadang berangkat malam pulang siang, tak pernah ada waktu untuk ku, apalagi memenuhi kebutuhanku, sudah berulang kali aku memintanya untuk berhenti namun tak pernah diturutinya, akhirnya aku membiarkan di melakukan apapun yang dia mau aku tak peduli asal jangan sampai mencemarkan nama baik keluarga."


"Maaf tuan, Karin benar-benar tidak bermaksud mencampuri apalagi masuk dalam keluarga tuan, salah tuan sendiri yang membawa masuk Karin."


"Apa....memangnya apa yang tuan rencanakan, dan kenapa bisa melesat."


"Yang membuatnya tidak sesuai dengan rencana awal karena aku mulai menyukai mu." Ken pun tertawa setelah mengeluarkan kata-kata itu didepan Karin namun tawa Ken hanya sesaat dan langsung terhenti.


Wajah Karin memerah mendengar ucapan Ken yang entah benar atau tidak. Namun Karin kaget saat Ken tiba-tiba saja berdiri dan ucapan yang menyakitkan.


"Dasar wanita murahan, ternyata seperti itu aslimu." Ken mengepalkan kedua tangannya penuh amarah.


"Ayo pulang..." Ken menarik Karin dengan paksa tanpa memperdulikan Karin yang kesakitan karena Ken membawanya dengan kasar.


"Tuan, sakit. Tolong lepaskan saya.." Ken membawa Karin pergi meninggalkan taman, dengan penuh emosi yang mulai meledak.

__ADS_1


"Apa salah saya tuan, sampai membuat tuan marah, maafkan saya jika ada salah kata." ucap Karin sambil menangis.


"Diam....." bentak Ken yang seperti orang kerasukan setan sudah tidak ingat lagi jika Karin baru saja sembuh.


Karin menangis tersedu mendapat perlakuan kasar dari Ken yang baru saja membuat hatinya bahagia dan secepat kilat Ken mematahkannya.


Ken membelokkan mobilnya kesebuah hotel dan segera memesan satu kamar. Ken dengan kasar membawa Karin. Sesampainya di kamar tubuh Karin Langsung dilemparkan ke kasur.


"Tuan, ampun tuan kalau saya salah bicara, saya tidak sengaja sama sekali." Karin turun dari ranjang dan bersimpuh memeluk kaki Ken sambil meminta maaf.


"Dasar wanita murahan, berani sekali kamu selingkuh dibelakang ku." ucap Ken dan menarik rambut Karin dengan paksa.


"Tuan, saya gak pernah selingkuh, saya gak pernah dekat dengan pria lain. Ampuni saya tuan." Karin menahan rambutnya yang sakit.


Ken melempar kembali tubuh Karin di kasur dan dengan kasar menarik baju Karin yang dikenakan.


"Katakan padaku, apa yang kurang dariku, apa yang membuatmu berpaling dariku dan mencari pria lain, jangan pernah macam-macam di belakang ku, kamu adalah budakku dan selamanya akan tetap seperti itu. Aku akan memberikan pelajaran yang seharusnya kamu dapatkan atas apa yang kamu perbuat.


Kali ini Ken melakukan permainan yang berutal pada Karin, tak ada kenikmatan yang mereka dapatkan hanya kesakitan yang Karin rasakan, bahkan hal tak terduga pun Ken lakukan, Ken membiarkan klimaks di dalam dan menyiram rahim Karin dengan miliknya yang sebelumnya tak pernah ia lakukan selama berhubungan.


Ken yang sudah lelah merebahkan tubuhnya di samping Karin, namun Karin menghadap samping dan membelakangi Ken, Karin menitikkan air mata, atas perlakuan Ken yang menuduhnya tanpa alasan.


Ken memeluk tubuh Karin dari belakang, dan mengecup punggung Karin, "Maaf aku khilaf, aku tak bisa menjaga kontrol emosiku, karena aku gak suka kamu dekat-dekat dengan laki-laki lain, aku akan bertanggung jawab jika kamu hamil, tapi untuk saat ini aku belum bisa menikahi mu." Ken berulang-ulang mengecup punggung Karin namun Karin tak mau menjawab bahkan memeluk tubuhnya pun tak mau.


"Kenapa tuan tak mau menikahi ku, jika tuan tak ingin aku dekat dengan pria lain, dan bahkan jika aku hamil apa tuan akan benar-benar bertanggung jawab atau malah membuangku." gumam Karin bercampur Isak tangisnya.


Selama dua bulan tinggal dengan Ken, baru kali ini Ken sangat kasar pada Karin bahkan aktivitas ranjangnya pun kasar.

__ADS_1


__ADS_2